Siapa yang tidak suka seafood? Sayang sekali kalau tidak suka, atau kalau alergi, sebab sefood menurut saya sangat enak sekali sekaligus juga sebagai sumber protein yang baik. Terbukti menurut sains bahwa seafood sangat baik untuk kesehatan jantung, mata dan otak. Tapi bukan soal yang berkaitan dengan kesehatan ketika kami memilih untuk makan siang, kami memilih seafood karena kami suka, terutama seafood boil ala Cajun. Udang dan kepiting yang dimasak dengan banyak rempah, bukan main!

Rencana semula kami akan makan sesudah kembali dari Ice Castle. Tapi karena waktu di Pikes Peak tidak selama yang kami perkirakan, maka kami punya sekitar 5 jam yang harus dimanfaatkan. Kami pergi sedikit menjauh dari tempat yang harus kami datangi untuk menyaksikan ice castle hanya untuk makan. Early dinner! Dungenes Crab, kepiting ini dikenal karena dagingnya yang besar-besar dan lumpy tidak buyar berserat dan lepas-lepas seperti snow crab. Ketika cangkangnya dipecahkan, dagingnya bisa dengan mudah dikeluarkan. Itu yang kami pesan walau memang harganya jauh lebih mahal dari snow crab atau blue crab. Kano tidak menyukai udang yang ada kepalanya, jadi untuk dia kami memilih udang tanpa kepala sementara saya menyukai sekali udang yang berkepala karena banyak cita rasa yang justru dihasilkan jika dimasak dengan kepalanya. Dimasak dengan butter, rempah-rempah seperti smoked paprika, cumin, cajun seasoning, bay leaves, oregano, garlic, ketumbar, dan lainnya memang sangat aromatik dan menyenangkan di lidah. Makanan laut ini seringkali dimasak dengan kentang, potongan jagung dan sosis andouille yang pedas. Saya beberapa kali membuat sendiri di rumah.
Kami kekenyangan dan mulai mengantuk. Masih ada 3 jam lebih yang harus kami habiskan sebelum menyaksikan ice castle. Perjalanan ke Cripple Creak hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Karena tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, akhirnya kami nekad pergi ke sana dan nanti akan bertanya jika kami bisa masuk 2 jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Satu jam kemudian kami sudah tiba di sana, hari sudah gelap walau belum pukul 5 sore. Tempat di sana ternyata sangat amat dingin dan jalanan masih dipenuhi salju dan menanjak. Terpaksa saya dan mas Aris mencoba bernegosiasi dengan petugas di sana sementara Kano menemani Nina di mobil. Sesudah berbicara dengan mereka, kami berhasil dan bisa masuk 2 jam lebih awal.
Ice Castle saya pikir isinya ukiran dan pahatan dari es batu. Ternyata salah besar. Ternyata ini adalah bentuk karya seni yang membuat seolah-olah kita berada dalam gua yang penuh dengan stalaktit dan stalakmit (betul begitu menulisnya? Hahahaha), seperti berada dalam tempat yang beku penuh es yang terbentuk secara alami. Setelah saya perhatikan dan mencari informasi ternyata ini adalah karya seni yang dibuat, dengan tangan loh, dari puluhan ribu batang es (icesicles) yang kemudian dibangun dengan air dan entah apa lagi menjadi tumpukan yang artistis apalagi dipadukan dengan cahaya-cahaya lampu warna warni. Saya merasa seperti di dalam ruangan extraterrestrial! Seperti entah berada di mana. Saya juga jadi ingat film James Bond yang waktyu itu masih dibintangi Pierce Brosnan, Die Another Day, atau film Superman di kutub dengan kristal-kristalnya. Di dalam begitu dingin, entah negatif berapa. Saya tidak mempersiapkan diri untuk ini. Kebanyakan orang lain mengenakan pakaian tebal atau pakaian untuk ski, dengan topi tebal dan sarung tangan. Sarung tangan saya malah diambil Kano karena dia sangat kedinginan.
Rencana semula kami akan makan sesudah kembali dari Ice Castle. Tapi karena waktu di Pikes Peak tidak selama yang kami perkirakan, maka kami punya sekitar 5 jam yang harus dimanfaatkan. Kami pergi sedikit menjauh dari tempat yang harus kami datangi untuk menyaksikan ice castle hanya untuk makan. Early dinner! Dungenes Crab, kepiting ini dikenal karena dagingnya yang besar-besar dan lumpy tidak buyar berserat dan lepas-lepas seperti snow crab. Ketika cangkangnya dipecahkan, dagingnya bisa dengan mudah dikeluarkan. Itu yang kami pesan walau memang harganya jauh lebih mahal dari snow crab atau blue crab. Kano tidak menyukai udang yang ada kepalanya, jadi untuk dia kami memilih udang tanpa kepala sementara saya menyukai sekali udang yang berkepala karena banyak cita rasa yang justru dihasilkan jika dimasak dengan kepalanya. Dimasak dengan butter, rempah-rempah seperti smoked paprika, cumin, cajun seasoning, bay leaves, oregano, garlic, ketumbar, dan lainnya memang sangat aromatik dan menyenangkan di lidah. Makanan laut ini seringkali dimasak dengan kentang, potongan jagung dan sosis andouille yang pedas. Saya beberapa kali membuat sendiri di rumah.
Kami kekenyangan dan mulai mengantuk. Masih ada 3 jam lebih yang harus kami habiskan sebelum menyaksikan ice castle. Perjalanan ke Cripple Creak hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Karena tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, akhirnya kami nekad pergi ke sana dan nanti akan bertanya jika kami bisa masuk 2 jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Satu jam kemudian kami sudah tiba di sana, hari sudah gelap walau belum pukul 5 sore. Tempat di sana ternyata sangat amat dingin dan jalanan masih dipenuhi salju dan menanjak. Terpaksa saya dan mas Aris mencoba bernegosiasi dengan petugas di sana sementara Kano menemani Nina di mobil. Sesudah berbicara dengan mereka, kami berhasil dan bisa masuk 2 jam lebih awal.
Ice Castle saya pikir isinya ukiran dan pahatan dari es batu. Ternyata salah besar. Ternyata ini adalah bentuk karya seni yang membuat seolah-olah kita berada dalam gua yang penuh dengan stalaktit dan stalakmit (betul begitu menulisnya? Hahahaha), seperti berada dalam tempat yang beku penuh es yang terbentuk secara alami. Setelah saya perhatikan dan mencari informasi ternyata ini adalah karya seni yang dibuat, dengan tangan loh, dari puluhan ribu batang es (icesicles) yang kemudian dibangun dengan air dan entah apa lagi menjadi tumpukan yang artistis apalagi dipadukan dengan cahaya-cahaya lampu warna warni. Saya merasa seperti di dalam ruangan extraterrestrial! Seperti entah berada di mana. Saya juga jadi ingat film James Bond yang waktyu itu masih dibintangi Pierce Brosnan, Die Another Day, atau film Superman di kutub dengan kristal-kristalnya. Di dalam begitu dingin, entah negatif berapa. Saya tidak mempersiapkan diri untuk ini. Kebanyakan orang lain mengenakan pakaian tebal atau pakaian untuk ski, dengan topi tebal dan sarung tangan. Sarung tangan saya malah diambil Kano karena dia sangat kedinginan.




Kami berputar-putar di dalam, sebagian ada yang dibuat seperti di dalam gua, tapi banyak juga di ruang terbuka dengan langit yang sudah gelap sehingga terlihat sangat kontras dan anggun di dalam, bentuk-bentuk karya dari es yang sangat unik, tidak seperti diukir tapi seperti dibentuk oleh alam tapi dengan warna-warni yang indah. Di beberapa tempat disediakan api pediangan agar orang yang kedinginan dapat mendekat dan menghangatkan tubuh. saya beberapa haki ke sana sebab tangan saya sudah mati rasa dan sakit karena kedinginan. Ini memang pengalman yang unik dan luar biasa. Sulit saya menceritakannya, jadi akan saya tampilkan beberapa foto yang saya ambil di sana. Kami tidak tahan berlama-lama karena terlalu dingin. Tapi setidak=-tidaknya sekarang kami sudah tahu dan dapat menyaksikan karya yang sangat unik ini.