Saya sedang menghindar dari berbagai bentuk kegalauan. selama 2 bulan masa penyesuaian diri, terus terang saya banyak menghadapi situasi-situasi yang membuat kecewa. Itu wajar saja sih, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Karena ketidaksempurnaan itu, maka banyak hal yang memungkinkan manusia untuk berulah dan berbuat sesuatu yang konyol, tolol dan juga tidak masuk akal.
Siapa sih yang tidak berharap akan sesuatu yang baik? Sederhana saja, jika banyak orang bergurau tentang "the power of emak-emak" yang santer sering dijadikan bahan gurauan karena katanya hanya emak-emak yang memberi sign kiri dan beloknya ke kanan hahaha, mohon maaf pada emak-emak, saya tidak bermaksud menghina, ini hanya mengangkat yang sering digunakan di masyarakat. Pada dasarnya contoh ini menunjukkan bahwa manusia itu tidak sempurna. Atau pada dasarnya sebetulnya sempurna tapi karena keterbatasan manusialah maka ketidaksempurnaan mulai berkembang. Apakah begitu? Saya tidak tahu, itu adalah sebuah misteri karena konon katanya manusia itu diciptakan secara sempurna karena berdasarkan citra Yang Ilahi. Nah kalau saya menggugat konsep itu, saya bisa kena tulah. Tapi begitulah adanya kesempurnaan bukan hal yang mudah dicapai, terutama oleh manusia.
Di jalan raya, alhamdullilah, saya sampai sekarang belum dan berusaha tidak marah. Sejauh ini berhasil bahkan ketika kendaraan baru saya yang masih belum mempunyai STNK resmi diserempet orang yang tidak sempurna (ini kata halus dari tolol sebetulnya), saya walau heran pada diri sendiri, tidak marah. Kalau 10 atau 15 tahun yang lalu mungkin saya akan turun dan orang itu akan berdarah-darah, atau setidak-tidaknya kena bogem mentah. Itu saya yang dahulu, sangat amat jauh dari sempurna. Sekarang juga masih jauh dari sempurna dan saya memang merasa terganggu, tapi sekarang sudah mampu belajar melihat dari sisi yang berbeda. Jika memang ada orang yang kemampuan kognitifnya sangat dibawah standar, mau dikuliahi oleh orang jenius sekalipun tidak akan mampu menerima. Gelas yang sudah penuh tidak akan mampu menerima tambahan apapun. Nah karena melihat itu, saya berpendapat sengotot apapun saya, orang itu akan bergeming karena tidak mampu mengolah informasi secara memadai. Ya walaupun saya pihak yang dirugikan, terpaksa saya mengeloyor pergi dan berharap orang itu mampu belajar sesuatu. Ini adalah gift, pemberian saya, pada orang bodoh itu.
Oh saya tidak hanya menyaksikan di tanah air, di tempat lainpun sama. Silakan perhatikan berbagai komentar di dunia maya. Banyak sekali argumen yang diluluh-lantahkan oleh orang-orang yang "terbatas" kemampuannya karena mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya mereka ungkapkan! Sebuah diskusi yang baik tiba-tiba dirusak karena ada seseorang yang melontarkan pendapat yang di luar konteks, yang tidak berhubungan tapi seolah-oleh dia begitu pintar. Nah ini dimana-mana terjadi.
Bagi saya pribadi, saya mempunyai sebuah semboyan, "Never tell a fool that he is a fool, because all you'll have is an angry fool!" Hahaha. Atau dulu saya sering bermain dengan kata-kata ketika masih menjadi guru, saya sering katakan beda antara orang yang bodoh dan pintar, orang pintar adalah orang yang tahu bahwa dirinya bodoh, sehingga dia mau belajar, sementara orang bodoh adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya itu bodoh sehingga dia tidak mau belajar. Entah saya dapat ide itu dari mana tapi pada esensinya adalah kita memang harus memiliki kesadaran sehingga segala tindak tanduk kita merupakan sesuatu yang kita putuskan secara bijak dan untuk itu setidak-tidaknya kita harus tahu, walau sedikit, siapa diri kita sebenarnya. Setidak-tidaknya dengan berbekal itu kita dapat menjauh dan tidak menjadi a fool.
Foto credit: linkedin.com