"Aaaaaah." Teriak saya ketika menggeser tubuh yang semakin lama semakin merosot dari sofa yang saya duduki. Sofa ini memang tempat favorit saya yang sengaja diletakkan di depan TV raksasa yang sudah menjadi mimpi seumur hidup. Tidak juga sih, tidak bisa dikatakan seumur hidup sebab jaman kecil tidak ada TV sebesar ini. Baru beberapa puluh tahun terakhir saja ada TV yang luar biasa besar. Awalnya sangat besar dan tebal. Tidak terbayang berapa kilo atau kwintal beratnya, makin lama main ramping, yang dulu butuh beberapa orang untuk memindahkannya sekarang cukup satu orang karena begitu ringan dan tipis.
Sofa ini memang keren, ada bagian kaki yang bisa dinaikkan sehingga saya bisa selonjor menjulur ke depan. Kalau dulu ada istilah kursi malas dengan ottoman, semacam bangku empuk untuk meletakkan kaki sehingga dapat duduk bersandar dengan nyaman sambil meletakkan kaki sejajar dengan paha atas. Nah sofa yang saya duduki memiliki semacam handle yang kalau sedikit ditarik maka akan menggerakkan mekanik terbuat dari besi yang terbungkus kain dan bantal empuk yang kemudian naik ke atas menciptakan sebuah platform untuk meletakkan kaki. Tidak hanya itu, sandaran sofa ini dapat bergerak kebelakang sehingga saya dapat duduk dengan sangat nyaman. Hanya saja, entah mengapa, tubuh saya cenderung semakin lama semakin merosot dan sesekali saya butuh bergerak ke belakang membuat punggung saya bersandar dengan lebih nyaman. Sayangnya otot punggung bagian bawah saya saat ini sedang bermasalah, beberapa hari lalu tertarik, semacam muscle spasm. Sekarang sudah sangat membaik, apalagi sudah dibantu Pak Ono dengan memijat dan mengurut hingga saya merintih-rintih kesakitan. Sekarang saya sudah dapat bergerak dengan lebih leluasa walau jika melakukan gerakan mendadak masih sering terasa sakit. Barusan ketika mengubah pose duduk saya agak berteriak karena kesakitan.
"Ati-ati, Jo." Kata Nina
Suaranya hampir tidak terdengar karena saya menggunakan earbuds untuk mendengarkan musik sambil asyik membaca novel yang kemarin barusan saya beli sesudah memesannya sekian lama, akhirnya datang juga. Novel terbaru karangan Dan Brown yang berjudul The Secret Of Secrets. Lumayan mahal karena buku ini buku impor dan toko buku yang menjualnya, menyediakan versi Inggris, bukan versi Amerika. Mungkin untuk menghindari biaya tambahan karena perang tarif yang diberlakukan oleh Amerika, sehingga mereka membelinya dari Inggris. Curangnya, mereka tetap menjual dengan harga yang sama jika mereka membelinya dari Amerika. Jika saya membeli di Amazon, harganya $22.80 tapi karena ada tarif dan ongkos kirim sebesar $24.95, maka totalnya menjadi $47.75. Mahal sekali. Saya lebih memilih membeli versi Inggris yang jika dikonversikan menjadi hampir $34. memang tetap mahal. Maklum buku-buku di Indonesia, apalagi buku import harganya sangat mahal.
Saya melanjutkan membaca sesudah mengubah posisi duduk hingga lebih nyaman. Selembar demi selembar saya lahap, saya balik begitu mencapai kalimat terakhir dan mulai dengan halaman baru. "837 Rupiah per halaman!" Gumam saya. Imajinasi itu ternyata sangat mahal, pikir saya. Cerita satu halaman hampir seharga sebuah pisang goreng! Itu kalau saya hitung berapa harga yang saya bayar untuk buku ini dibagi berapa halaman yang akan saya baca hingga akhir cerita. Total ada 675 halaman. Saya baru membaca beberapa bab awal, sudah langsung tenggelam dalam lautan imajinasi membayangkan kota Praha di Ceko yang dulu sebelum terpecah bernama Ceko Slowakia. Lucu sekali sebenarnya. Bagaimana saya bisa membayangkan jika seumur hidup belum pernah ke sana? Itu namanya imajinasi.
Sekarang begini, membayangkan berlari pagi dalam guyuran salju sejauh sekitar 3km menuju kolam renang untuk berenang menembus kota Praha, bukankah sesuatu yang menarik? Praha adalah salah satu kota terbesar di republik Ceko. Merupakan ibu kota dan sejarah mengatakan sebagai ibu kota Bohemia yang terletak di sungai Vltava dengan berbagai bangunan dengan arsitektur Romawi, Gotik, Renaisan dan Barok. Nah sampai di situ saja imajinasi saya sudah kemana-mana.
Kalau arsitektur Gotik dan Art-Deco, saya sudah banyak jumpai dimana-mana, salah satunya di kota New York. Saya sangat mengaggumi kota-kota dengan arsitektur tua semacam itu. Jika melihat detailnya yang luar biasa akan membuat kita begitu terpesona. Nah sekarang saya harus melebarkan imajinasi dengan membayangkan arsitektur Romawi, Barok dan Renaisan. Sampai di sini saya pikir 837 Rupiah itu sepadan dengan kesempatan yang ditawarkan untuk menikmati imajinasi. Memang jika saya mau, saya dapat mencari tahu di internet berbagai foto pemandangan kota Praha. Itu sangat membantu saya dalam mewujudkan imajinasi kota itu tanpa harus pergi ke sana.
Iseng saya berpikir bagaimana seandainya menyaksikan keindahan kota Praha dengan mata kepala sendiri? Saya akan membutuhkan biaya 30 kali dari harga buku novel yang saya beli, belum termasuk biaya lain seperti akomodasi, Visa Schengen karena Ceko merupakan anggota Uni Eropa. Biaya semuanya akan mahal sekali. Buku jauh lebih murah plus ada ceritanya hahahaha.. Tapi jika diberi kesempatan saya tidak menolak pergi kesana menikmati berbagai keindahan arsitektur ditambah juga bisa menikmati Goulash atau Svíčková langsung dari tempat asalnya. Pasti nikmat sekali!
Foto credit: voyagefox.net