AES 1519 Away In Dignity
joefelus
Monday November 10 2025, 9:24 PM
AES 1519 Away In Dignity

Baiklah, sekedar wanti-wanti saja kalau seandainya saya berhasil menulis uneg-uneg ini sampai akhir, obrolan kali ini mungkin agak dark dan "berat". Ini kalau berhasil loh sebab saya tidak yakin tentang bagaimana saya bisa merangkumkan pikiran yang berkecamuk sepanjang hari.

Bermula dari WA adik saya. "Jo, dad ga bisa bangun tuh. Tadi ditawari makan cuma ngangguk dan senyum, pas dibawain udah tidur lagi."

Saya segera menjenguk dan merasa sedih menyaksikan ayah saya sudah begitu rigid dan helpless. Seseorang yang dulunya sangat full of life, good looking, dan banyak lagi kualitas-kualitas lain yang sangat saya kagumi sekarang hanya mampu memandang sambil tersenyum ketika saya bantu berganti pakaian dan lain-lain. 3 hari lagi ayah akan berusia 90 tahun. Akhir-akhir ini sering terjadi ketika tubuhnya terkunci dan butuh bantuan untuk mulai dapat bergerak. "Ah, seandainya saja saya dapat berbagi sebagian kualitas hidup ini untuk beliau." Bisik saya dalam hati sambil menahan rasa haru.

Saya sama sekali tidak mengerti dengan kerja semesta. Terus terang saya agak merasa kesal dan kadang penuh amarah bahwa semesta seolah-olah "tertutup" dan membuat saya menebak-nebak tentang apa yang seharusnya atau sebaiknya terjadi atau apa yang dapat saya lakukan untuk membuat sekeliling saya menjadi lebih baik, membuat orang-orang yang saya sayangi dapat menjalani hidup dengan baik dan penuh kebahagiaan. Rasa tidak berdaya ini sangat membebani.

Dignity. Ini adalah sebuah kata yang sangat saya dambakan di hari tua. Kalau saya boleh memilih, saya ingin pada saatnya die in dignity. Memang terdengar sangat egosentris ketika mengatakan ini. Sepertinya saya ingin seenaknya sendiri, memilih yang enak buat saya, padahal saya tahu walau saya menjalani hidup ini, tapi hidup itu sendiri ada kemungkinan bukan milik saya. Walau ada yang mengatakan sebelum dilahirkan saya sudah teken kontrak dan memilih, tapi itu adalah hal baru yang belum lama ini justru baru saya dengar. Seumur hidup saya meyakini bahwa accident of birth itu nyata bahwa saya lahir tanpa meminta dan sangat random. Bahwa saya tidak memilih siapa orang tua saya, tidak memilih dimana akan dilahirkan dan tidak pernah tahu tujuan hidup dan alasan mengapa saya dilahirkan. Itu yang selama ini saya yakini. Entah yang mana yang betul. Sejauh ini saya tidak memikirkan itu karena tidak pernah sedikitpun mengetahui jawabannya. Saya cuma membaca di sana sini dengan semakin banyaknya teori, justru semakin membuat bingung.

Yang akhirnya saya lakukan adalah menjalani hidup sebaik-baiknya, dan berharap bahwa selama ini sudah cukup baik dalam mengisi kehidupan ini, mudah-mudahan memilih arah yang tepat dan menuju akhir yang baik. Satu-satunya yang saya minta sekarang adalah ketika waktu akhir itu tiba, please let me die in dignity! Itu saja, saya tidak minta banyak.

Mungkin saja pada saatnya saya dijadikan alat agar orang lain dapat berbuat kebajikan. Misalnya saya berakhir di panti wreda. Kenapa tidak? Tempat tinggal semacam itu sehat kok. Di Fort Collins saya dengar opa-opa banyak yang berantem memperebutkan oma-oma! Hahaha. Mereka seperti remaja lagi, ada kegiatan bersama, saling menjalin kehidupan sosial walau secara terbatas. Tidak apa saya dijadikan alat, tapi supaya adil, saya juga bisa mengajukan bargaining tool, Jadikan saya alat, tapi saya juga punya syarat. Begitu kira-kira.

Itu juga menjadi salah satu ketakutan saya. Banyak kejadian yang saya saksikan sendiri bahkan di kalangan teman-teman bahwa kemudian tergantung pada uluran tangan orang lain. Orang lain itu bisa saja sanak keluarga atau bahkan pasangan sendiri. Saya berharap, seandainya memang saya layak, sekali lagi saya ingin pergi dengan baik-baik. Tidak perlu dengan dagu terangkat, dengan kepala menundukpun saya bersedia, tapi jangan sampai selama berlarut-larut saya disuapi atau diseka tubuhnya karena saya tidak mampu melakukan itu sendiri. Apakah kita bisa memohon itu? Ini sebuah pertanyaan jujur.

Barusan saya coba iseng menulis kata kunci di mesin pencari daring. Langsung keluar tentang suicide prevention, euthanasia, dan sebagainya. Saya langsung skipped. Saya tidak suka yang artifisial atau yang human made, saya cuma memohon pada semesta. Jawabannya ini: The "universe" is not a conscious entity that grants wishes, but reflecting on this desire can guide you toward making informed decisions and seeking support that aligns with your personal values and beliefs. Duh duh duh.

Foto credit: abigailboyd.org

Lei
@lei   6 months ago
wah haru biru dan merinding bacanya Om.. sungguh iya itu juga adalah harapan besar yg kuselipkan dalam doa. smg alam semesta diizinkan bergerak ke arah terkabulnya harapan itu ya 🤲🏻
Andy Sutioso
@kak-andy   6 months ago
Membaca posting ini beberapa waktu lalu, saya bersimpati dan bersepakat sama Jo. Sepertinya kita semua sama punya keinginan melepaskan kehidupan di dunia ini dengan tenang, damai tanpa kesakitan atau hal-hal yang 'buruk' dalam pandangan kita. Di sisi lain ternyata hal ini juga ada dalam jangkauan kemampuan manusia. Cerita terakhir tentang ini saya dengar dari @gunawan-muhtar.
Tulisannya ada di sini. https://ririungan.semipalar.sch.id/gunawan-muhtar/blog/7815/aes-003-kematian-yang-gembira. Mungkin kita masih punya waktu untuk belajar tentang ini supaya bisa sampai ke tingkatan itu...