Masyarakat Indonesia itu, menurut saya, sangat kreatif. Hal yang sederhana bisa menjadi sesuatu yang luar biasa, hal yang seringkali dianggap sepele bahkan tidak dilirik menjadi sesuatu yang dicari-cari orang. Ini sebenarnya, menurut saya, adalah sebuah modal yang sangat luar biasa, yang sering kali terbengkalai dan kurang dimanfaatkan oleh banyak orang, tapi hal ini dengan mudah dapat saya jumpai di Bandung. Kota yang menurut saya sarat dengan kreativitas.
Kalau tidak percaya, saya akan ambil contoh makanan di Bandung. Jajanan baru dari aci atau tepung tapioka yang terus-menerus muncul dengan nama-nama unik sering kali membuat saya terkagum-kagum karena semakin lama semakin banyak dan namanya lucu-lucu. Memang bukan jajanan yang saya sukai karena kalau saya bayangkan, rasanya akan hampir sama. Aci yang dikukus atau digoreng, teksturnya ya begitu-begitu saja. Tapi lihat namanya, ada cilok, yaitu aci yang dicolok, cipuk, cibay, cireng, cimol, dan entah apalagi. Semuanya sama terbuat dari tepung tapioka dengan bermacam-macam kreasi dan variasi. Memang dari berbagai kreasi itu, menurut saya, tidak selalu berhasil dan kadang terasa memaksakan diri, namun tidak jarang juga yang kemudian berhasil dengan baik dan sukses.
Hari Sabtu kemarin kebetulan adalah hari penting untuk Nina dan saya. Kami merayakan ulang tahun perkawinan yang ke-33. Waktu yang sangat lama untuk membangun keluarga. Walau itu hari istimewa, kami jalani ya biasa saja. Sudah lama berdua, jadi peristiwa penting semacam itu sudah terlalu sering diulang. Kami memilih melakukan kegiatan berdua tanpa agenda dan tanpa "kerja". Jadi dapur di rumah tutup! Pilihan kami adalah makan bagel untuk brunch.
Bagel adalah produk roti yang berbetuk seperti cincin, seperti donat, tapi dengan tekstur yang kenyal dan padat. Ini jenis kudapan yang diperkenalkan oleh keturunan Yahudi-Polandia. Roti yang sangat khas ini memang prosesnya berbeda dengan roti-roti lainnya, yaitu sebelum dipanggang, direbus dulu sehingga memberikan tekstur yang sangat padat dan kenyal. Orang yang pertama kali merasakan bagel akan mengatakan bahwa bagel seperti roti bantat!
Lebih dari 10 tahun yang lalu saya berusaha mencari bagel di Bandung. Saya menemukan 1 toko di sekitar Jalan Progo, tapi kemudian saya kecewa karena terlalu mirip dengan roti dan kurang densed serta kurang kenyal. Tidak sama dengan bagel yang sering saya nikmati ketika masih bermukim di Amerika. Saya kemudian menemukan sebuah kedai di dalam mall di daerah Senayan, Jakarta. Setiap saya kangen bagel, saya rela menyupir pulang pergi hanya untuk makan roti "bantat" ini.
Pertama kali saya makan bagel itu di sebuah kantin tempat kos mahasiswa di Honolulu. Saat itu yang saya nikmati adalah yang standar, yaitu bagel yang dibelah dua lalu dipanggang hingga ada sedikit bau gosong dan permukaannya kering, lalu diberi cream cheese, capers, bawang merah dan irisan tipis ikan salmon asap (lox). Ini favorit saya, dan itu adalah pengalaman pertama kali saya jatuh cinta pada bagel. Kemudian saya menikmati bagel dari berbagai tempat, terutama di New York, karena bagel di sana memang terkenal di seluruh negeri. New York-style bagel adalah yang paling populer. Bagi saya, bagel menjadi salah satu menu sarapan favorit. Tidak jarang saya menyimpan roti ini di kulkas lalu juga menyediakan capers, krim keju dan daging salmon asap.
Hari Sabtu kemarin saya ingin mencoba sebuah restoran yang menyajikan bagel di sekitar Jalan Riau. Katanya di sana sangat terkenal dan saya sering melihat food blogger dari mancanegara yang juga merekomendasi tempat ini karena produknya sangat unik, bahkan ada pasangan asal Inggris yang memberikan review sangat baik. Mereka berpendapat bahwa bagel dari tempat ini terbaik dibandingkan dengan tempat-tempat lain yang pernah mereka kunjungi di seluruh dunia. Nah, mendengar ini, saya menjadi sangat tertarik dan pergi ke sana.
Satu hal yang selalu saya perhatikan dari tempat-tempat makan di Indonesia adalah mereka mengemas dan merancang kedai mereka dengan sangat luar biasa sehingga hal yang sederhana menjadi luar biasa. Contohnya, bagel ini. Bagel adalah makanan rakyat jelata. Tidak ada keren-kerennya sama sekali. Bahkan di Amerika bisa menemukan bagel di supermarket dengan harga 50 sen! Saya tidak mengada-ada, saya tahu sebab pekerjaan saya di Amerika berkaitan dengan makanan dan unit produksi saya kulakan bagel dari pabriknya dengan harga hanya 45 sen atau setara dengan 7500 rupiah (jika menggunakan konversi 16800/1dolar). 45 sen itu di sana adalah receh yang kalau jatuh di jalan tidak dilirik orang, sama seperti kalau kita melihat koin di aspal, kita tidak pungut karena takut kotor. Jadi bagel itu adalah makanan murah, tidak lebih keren dari pisang goreng di kaki lima. Bukan saya menghina pisang goreng, ini jajanan favorit saya karena enak dan murah, saya hanya ingin menggambarkan bahwa bagel sama sekali tidak ada keren-kerennya. Nah, di restoran yang saya datangi ini mereka menyulap makanan rakyat jelata menjadi sekelas makanan sultan! Saya sangat terkagum-kagum karena kreativitas mereka yang sangat hebat.
Begitu masuk, saya diberi secarik kertas kecil yang menunjukkan meja yang nanti akan kami duduki. Lalu antre menuju kasir sambil di sekeliling saya ada berbagai jenis bagel. Sejauh ini yang saya tahu adalah bagel yang kenyal dan padat dengan variasi garlic, cheese & jalapeno, blueberry, raspberry, cinnamon, wijen dan everything (maksudnya ada bawang putih, wijen, dan lain-lain). Itu adalah bagel yang normal bisa ditemui di mana-mana di Amerika. Di restoran ini saya terpukau karena ada yang namanya soft bagel, ini yang seumur hidup belum pernah saya temui. Ternyata soft bagel ini mulai banyak disukai orang. Saya baru tahu! Itu satu temuan baru. Lalu saya menemukan bagel yang disalut cokelat. Ada juga Dubai Chocolate bagel.Nah, Dubai Coklat ini adalah cokelat yang dicampur dengan pistachios. Juga ada matcha dengan isian kacang merah. Entah ada bagel apa lagi, saya sampai bingung melihatnya sehingga saya minta Nina memilih. 3 bagel kami bungkus untuk dibawa pulang, yaitu jalapeno and cheese yang sangat familier untuk saya karena sudah sering menikmatinya, lalu Nina memilih 2 jenis soft bagel yang salah satunya adalah Dubai Chocolate. Untuk dinikmati di tempat, Nina memilih smoked salmon dan cucumber, sementara saya memilih menu unik yang bagi saya nyeleneh, yaitu ayam betutu! Bayangkan bagel dinikmati dengan ayam betutu, yang di dunia ini mungkin hanya bisa ditemukan kecuali di Indonesia, atau lebih tepat di Bandung! Bagaimana pendapat saya? Well, ayam betutunya enak dan pedas dengan aroma daun sereh dan daun jeruk yang khas. Saya suka ayam betutu yang tidak terlalu berkuah dan kering, dan kebetulan di sini yang disajikan adalah ayam betutunya seperti itu. Saya pernah membuat sendiri menggunakan Cornish hens. Enak dan saya suka. Nah, ayam betutu di sini persis seperti itu. Bagel yang saya nikmati juga konsistensinya tepat, kenyal dan padat serta di-toast dengan baik sehingga cairan dari ayam betutu tidak terlalu meresap ke dalam bagel. Sejauh ini semuanya berhasil, saya tidak suka bagel yang mushy, yang jemek karena kena cairan. Bagel tetap kenyal, tidak basah, crunchy di bagian yang dipanggang. Bagus! Ayam betutunya juga enak dan cocok dengan lidah saya. Tapi pertanyaannya apakah cocok untuk isian bagel? Ya dan tidak! Ya, karena saya bisa nikmati, karena saya tahu rasa ayam betutu yang baik dan saya familier dengan bagel yang enak. 2 hal ini masuk dalam kriteria saya. Tidak, karena bagi saya ini sajian yang berat! Untuk menu sarapan atau brunch bagi saya agak terlalu berlebihan. Untuk makan siang mungkin okay, tapi bagel adalah menu sarapan! Hahaha.. Saya salut dengan kreativitasnya and it works! Ya, ini menu yang sukses menurut saya, bisa dinikmati dan menyenangkan rasanya.
Saya juga memesan 2 cangkir kopi. Kopi yang mereka sajikan termasuk kopi yang enak dan saya tidak memiliki keluhan. Brunch yang menyenangkan, walau saya memilih menu yang salah karena terlalu berat, namun tetap memuaskan. Lain kali mungkin saya harus memilih sajian yang lebih ringan dan tidak terlalu aneh. Saya punya pendapat yang sedikit negatif di akhir. Yaitu harga! Hahaha.. Saya katakan di awal bahwa bagel adalah makanan rakyat jelata, tapi di Bandung ini disulap menjadi makanan sultan, termasuk harganya. Apakah saya akan kembali? Kalau saya betul-betul kangen dengan bagel, saya akan kembali, tapi dengan syarat saya harus punya uang sebab harga yang harus saya bayarkan sama dengan pergi ke restoran untuk menikmati bagel di Amerika! Bagel memang hanya puluhan sen, tapi kalau di kedai bagel, saya bisa menghabiskan lebih dari 20 dolar, persis dengan jumlah yang saya harus keluarkan di restoran di Bandung ini. $20.72, ya mahal! Tapi tetap lebih murah daripada saya nyupir ke Senayan harus bayar tol dan bensin. Hahahaha..