Bagi kakak-kakak dan rekan-rekan orangtua yang sudah cukup lama mengikuti perjalanan Semi Palar, mestinya sudah hafal bagaimana sejak awal, Semi Palar menempatkan literasi sebagai sesuatu yang penting - bahkan esensial.
Kita punya Jabawaskita, kita punya Festival Buku, kita punya Lingkar Blogger dan lain-lainnya. Dengan berbagai upaya, kami mendorong anak-anak untuk menyukai buku, mencintai membaca, bahkan punya pengalaman menulis buku. Sejauh ini, dalam hitungan kami Semi Palar sudah menerbitkan lebih dari 50 judul buku yang ditulis oleh teman-teman dari berbagai jenjang dan kelompok. Beberapa bahkan sudah punya buku yang ditulis secara individu - sebagai karya pribadi. Terlepas dari apakah buku itu dicetak atau tidak, diterbitkan resmi atau tidak - saya pikir itu perkara lain. Yang jadi esensi adalah bahwa menulis buku itu tidak mudah, lebih jauh lagi, menulis dalam intensitas dan kedalaman tertentu, tidak semua orang bisa.
Di tim Smipa, entah berapa banyak sesi pembekalan digulirkan dengan topik Literasi, kami sempat juga membahas tentang Living Books (buku-buku yang hidup, yang punya nilai kehidupan, buku yang berdampak pada kehidupan para pembacanya). Terakhir di TP17 ini kami membahas tentang Literasi Diri agar kita semua semakin paham, bahwa membaca diri dan memahami hidup kita masing-masing adalah salah satu proses terpenting di Pembelajaran Holistik. Jadi intinya, proses dan upaya membangun kultur literasi yang kuat sudah ada sejak Semi Palar berdiri.
Bicara tentang kultur, budaya atau tradisi, memang perlu proses panjang untuk membangunnya. Lalu bagaimana sebuah kultur bisa mewujud, di belakangnya perlu ada kesadaran. Di lapisan berikutnya kesadaran itu perlu mewujud jadi tindakan-tindakan atau aksi nyata - lalu menjangkau sebagian besar warga komunitas tersebut - sampai di suatu titik, hal tersebut memang hadir dalam keseharian warga smipa.
Dalam taksonomi Aki Muhidin, kultur boleh dibilang sebagai wujud ngajadi atau being-nya sebuah komunitas. Sesuatu yang memang berjalan, hidup secara alamiah, tanpa paksaan, tanpa sanksi, tapi berdasarkan pemahaman atas esensinya, dan kesadaran akan nilai manfaatnya yang dihayati sebagian besar warganya. Lebih jauh lagi hal ini hidup di berbagai lapisan komunitasnya.
Apakah kultur ini sudah terbangun di Semi Palar, sepertinya belum, karena aktivis Atomic Essay masih terbatas. Tapi sejak Atomic Essay Smipa dimulai lima bulan yang lalu, jumlah tulisan yang disumbangkan masih terus konsisten dan satu demi satu jumlah penulisnya juga terus bertambah. Seperti kata Malcolm Gladwell, di satu titik akan tercapai sebuah Tipping Point - di mana laju perkembangan gerakan ini sudah tidak bisa dibendung - momentum pergerakannya sudah tercapai.
Dari temu Online AES yang lalu, hadir lebih dari 25 orang. Buat kami itu sungguh menggembirakan. Jumlah yang tidak sedikit. Yang lebih terasa adalah spiritnya, enerjinya. Dalam hal apapun, enerji adalah kunci. Kemudian kita akan coba juga Pendopo AES, ruang terbuka untuk menulis kolektif - mudah-mudahan di sana kita bisa saling membantu termasuk siapapun yang mau mencoba menulis. Saya cukup optimis, dalam waktu tidak lama lagi, kita sudah bisa melihat dan merasakan Kultur Literasi yang hidup di tengah warga Semi Palar.
Amin, Kak. Semoga Kultur Literasi itu akan hidup di tengah warga Semi Palar.