AES330 Belajar dari Narasi Kehidupan (2)
Andy Sutioso
Saturday April 9 2022, 12:02 PM
AES330 Belajar dari Narasi Kehidupan (2)

Masih tentang narasi kehidupan - karena memang saya masih ingin terus menggali dan memperdalam pemahaman tentang kepentingan dan kekuatan narasi - dalam konteks pendidikan dan perkembangan peradaban. 

Pagi ini saya ingatan saya tetiba melayang ke salah satu filem yang pernah saya tonton. Filem ini garapan Mel Gibson. Salah satu orang yang filem-filemnya saya kagumi. Filem ini judulnya Apocalypto. Filemnya sendiri menurut saya sangat violent - menggambarkan peperangan antar suku di pedalaman Amerika Selatan di sana. Tidak heran kalau orang-orang yang merasa dirinya lebih maju sering menjuluki masyarakat pedalaman, indigineous tribes sebagai orang2 liar atau savages. Dari satu sisi memang sering tampak seperti itu, tapi biasanya ada pemicunya. Dan pemicunya adalah orang-orang di luar lingkaran masyarakat mereka - yang mengganggu keseimbangan kehidupan mereka. Nanti saya akan ceritakan tentang salah satu sosok seniman yang pernah saya kenal dekat - namanya pak Toni Kanwa Adikusumah. Ini akan hadir dalam esai terpisah.

Kembali ke filem ini, adegan pembuka di filem ini sangat berkesan buat saya. Seorang tetua (sesepuh) di suku tersebut berkisah - tentang kisah-kisah yang jadi sepertinya sangat penting bagi kehidupan di masyarakat tersebut. Warga suku tersebut berkumpul di sekitar api unggun, mendengarkan apa yang dikisahkan sang tetua suku tersebut. Warga masyarakat yang lebih muda, orangtua dan anaknya mendengarkan - mencerap narasi yang ditumpahkan oleh sang tetua tersebut. Buat saya adegan itu sangat luar biasa. Narasi... Sebelum hadirnya sekolah - lembaga pendidikan di keluarga, inilah wujud pendidikan dalam bentuk yang paling sejati - paling orisinil. Orang-orang yang lebih tua yang membagikan narasi kehidupannya bagi generasi yang lebih muda... Luar biasa ya...  

Waktu kemudian bergulir, peradaban berubah hingga hadirnya institusi yang disebut sekolah. Sekarang yang disebut pendidikan datang dari luar lingkaran keluarga. Dititipkan kepada lembaga-lembaga - yang pada umumnya dibayar oleh orangtua atau dibiayai oleh negara untuk melaksanakan tugas pendidikan. Setelah menempuh tahapan-tahapan di lembaga pendidikan tersebut, murid tersebut diberi ijazah, dilabeli sudah berpendidikan - sesuai tingkatannya. Di sekolah, mereka ini punya ijazah, tapi karena belajar di dalam ruang kelas, di dalam pagar sekolah, mereka nyaris tidak belajar apapun tentang kehidupan. 

Lalu apa yang tersisa dari narasi kehidupan dari orang-orangtua kita, sesepuh dan orang-orang bijak yang semestinya jadi guru kehidupan kita semua. Saya sendiri merasa baru belajar - dalam pengertian sesungguhnya saat saya berada di berbagai lingkaran komunitas - beberapa di antaranya saya kisahkan melalui esai-esai saya di sini. Di Rumah Nusantara, di CCL, di Desa Kandangan - Temanggung, di Kampung Sekepicung, di Bumi Langit Imogiri dan lain sebagainya. Di sanalah bertaburan narasi tentang kehidupan - dari arena kehidupan yang sesungguhnya. Dari orang-orang seperti mas Prapto, dari seniman tribal Toni Kanwa, dari kang Wawan Husin, dari kang Aat Soeratin dan mas Ipong Witono, dari kang Galih Wanadri dan lain sebagainya - tidak bisa saya sebutkan satu persatu, saya belajar dari Narasi Kehidupan mereka. 

Tapi saya menemukan bahwa di sini, melalui Atomic Essay Smipa, kita juga bisa belajar dari Narasi Kehidupan teman-teman yang menuliskan kisah kehidupannya di dalam ribuan esai-esai pendek yang dituangkan di sini. Di sinilah anak-anak kita juga kita semua bisa berbagi dan saling belajar dari narasi kehidupan satu sama lain... Dunia berubah, peradaban terus bertransformasi - tidak lagi seperti adegan filem Apocalypto tadi, tapi hakikat kehidupan dan proses belajar, menurut saya tetap sama. Karena seperti kata John Dewey, Education is Life Itself, sepertinya hakikat belajar adalah belajar dari narasi kehidupan orang-orang terdekat kita. Di sini, di Semi Palar - kita menemukan kembali wadahnya. Salam Smipa.