Kemarin di Jum'aatan siang hari bersama para kakak, kami menutup Festival Literasi yang telah berlangsung selama lima hari kemarin. Menutup festivalnya, bukan mengakhiri prosesnya. Sebelumnya saya sudah berpikir untuk membuat evaluasi - mumpung masih teringat jelas prosesnya, tapi saya mengurungkan niat itu. Saya sampaikan kepada kakak-kakak bahwa sebagai sebuah festival, keriaannya sudah berakhir, tapi mudah-mudahan kesenangan berliterasi dan pemaknaan berbagai prosesnya terus berlanjut dan terus bergaung.
Saya kembali ingat kata-kata kang Aat Soeratin. Bahwa kata-kata merayakan seringkali memerangkap kita untuk berhenti sebatas di ruang perayaan, selebrasi, keriaan. Seperti halnya merayakan 17 Agustus - saat kita merayakan kemerdekaan Indonesia, berbagai perayaan dan seremoni diselenggarakan di berbagai ruang publik. Tapi sejauh mana kita mengkhidmati, mengambil hikmah dan menaruh makna dari apa yang dijadikan perayaan. Apa makna kemerdekaan bagi kita dan bagaimana membawakan pemaknaan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Evaluasi kemarin urung dilaksanakan, karena toh, evaluasi hanya terbatas hal-hal teknis. Bukan tidak penting, tapi menurut saya tidak esensial. Apalagi kalau proses refleksi, proses memaknai kembali apa yang difestivalkan : Literasi segera dilupakan dan gagal dirembeskan ke dalam batin warga Smipa. Kalau itu yang terjadi makna kemeriahan kemarin hanya sekedar menjadi keriaan yang kemudian terlupakan, terhapus oleh berbagai kesibukan baru yang akan mengisi ingatan kita yang terlalu mudah lupa.
Lima hari penyelenggaraan juga menggaris bawahi pentingnya Literasi dalam berbagai bentuk aktivitas dan ekspresinya. Sekali lagi bukan sekedar penting tapi juga esensial dalam segenap proses pembelajaran di Semi Palar. Kemudian tentunya 5 hari kemarin juga menggaris bawahi pentingnya proses. Penyelenggaraannya mensyaratkan spirit pembelajaran dan kebersamaan yang perlu dihayati betul oleh segenap warga Semi Palar.
Sebelum menuliskan esai ini saya membaca tulisan @sanya yang berjudul Mandala Terakhir. Jujur saya terharu membacanya karena apa yang saya tuliskan di atas segera mendapat jawabannya dari apa yang dituliskan Sanya. Sanya memang meleburkan diri dalam prosesnya. Apa yang dikontribusikan Sanya dan rekan-rekan orangtua lain, kakak-kakak juga tim Mujaer mendapatkan jawabannya di sana. Mudah-mudahan cerita-cerita dan penghayatan yang sama terus bermunculan di hari-hari mendatang, dituliskan atau tidak, ataupun diekspresikan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Ini bisa jadi gambaran bahwa lima hari Festival Literasi di Smipa bukan sekedar keriaan belaka tapi membawakan pemaknaan yang mendalam. Semoga. Sekali lagi terima kasih dan apresiasi atas segala yang ditumpahkan untuk Festival kita kali ini. Salam Smipa.
Photo by Polina ⠀: https://www.pexels.com/photo/black-pen-on-white-notebook-5546885/