AES952 Lagi tentang Udunan
Andy Sutioso
Wednesday July 22 2026, 8:30 PM
AES952 Lagi tentang Udunan

Entah kenapa kata Udunan ini sedang kerap sekali muncul dalam pikiranku, akhir-akhir ini. Dan ya siang tadi sempat berbincang dengan beberapa rekan tentang Udunan ini. Semakin didalami, konsep Udunan ini semakin memikat hati. Lebih jauh, Udunan ini sepertinya bisa jadi salah satu kata kunci tentang bagaimana kita semua bisa masuk ke ranah Kehidupan Holistik. 

Tanpa berusaha terlalu spiritual, saya kok melihat bahwa frasa ini dibaliknya sangat spiritual. Kenapa? Saya coba jelaskan sedikit. Kita tahu dan tentunya mengalami (dan merasakan) bahwa kehidupan modern sudah sangat terlalu komersial, sangat materialistik. Segala selalu harus dihitung, harus serba dikalkulasi dan dipersepsi dari sudut untung dan rugi. Istilahnya kerennya sudah lama kita tahu, monetisasi.

Yang mungkin tidak disadari, saat ini segala sesuatu yang sebetulnya sifatnya tidak terukur (priceless) - diupayakan agar bisa diukur - setidaknya melalui nominal uang. Nah ini kan jadi runyam ya... Sebetulnya yang tidak terukur itu dipaksakan agar punya ketetapan angka nominal, harga tertentu. Mungkin tujuannya supaya bisa ditransaksikan... Nah ini kan dengan segera melanggar / merusak esensi sesuatu yang tidak ternilai tadi... Sederhananya, dengan menetapkan harga untuk sesuatu yang sebetulnya priceless itu, sifat tidak ternilai itu dengan sendirinya hilang, terhapuskan... 

Bangsa Indonesia dikenal bergotong royong... Hmm, mungkin dulu, sekarang sifat itu mulai hilang. Dulu masyarakat kita (mungkin konteksnya di pedesaan), kalau mau bangun rumah pasti saling bantu. Bapak A bangun rumah, sekampung ikut bantu - dan ini bergantian. Apakah masih begitu? Sepertinya ini sudah hilang. Pekerja bangunan bahkan di desa-desa sudah punya tarif harian. Jadi kalau Bapak B ga punya uang, entah kapan dia bisa punya rumah. Dalam konsep udunan, semua punya kesempatan punya rumah - karena saat Bapak B dibantu proses membangun rumahnya, dia juga bisa 'membayarnya' dengan cara membantu warga lainnya membangun rumah... Begitu seterusnya. Bagi saya ini tetap sesuatu yang luar biasa.  

Nah nilai kebersamaan yang priceless ini pada akhirnya pupus hanya karena semua serba ditarifkan. Mungkin supaya profesional... Entahlah... Saya sih memilih kebersamaan dibanding profesionalitas. Bagi saya kebersamaan dan saling menolong adalah sesuatu yang tidak ternilai, priceless. Gotong royong - adalah versi udunan yang keren bagi saya, dan ya, ini adalah kearifan lokal yang dulu kita miliki dan sekarang sudah terkubur oleh modernitas. 

Dari apa yang saya coba tuliskan di atas tadi, mudah-mudahan kita bisa berkesimpulan bahwa di balik kesederhanaannya, udunan adalah sesuatu yang sesungguhnya sangat luhur. Di titik ini pertanyaan besar bagi kita semua adalah bagaimana bisa kita mengembalikan keluhuran nilai dari udunan itu. Bisakah kita mengembalikan kultur udunan ini menjadi sesuatu yang kembali jadi lebih banyak bisa kita alami di dalam laku kehidupan kita sehari-hari. 

Photo by Diva Plavalaguna: https://www.pexels.com/photo/people-holding-puzzle-pieces-6147365/

Andy Sutioso
@kak-andy   17 hours ago
colek kak @matheusaribowo, @murdeani dan @lei, mudah-mudahan gayung bersambut. 🙏🏼