AES953 Ngertakeun Bumi Lamba
Andy Sutioso
Thursday July 23 2026, 2:53 PM
AES953 Ngertakeun Bumi Lamba

Beberapa waktu lalu, seorang rekan tukar pikiran terkait forum NgoBrAS, @gunawan-muhtar membagikan info tentang kegiatan upacara adat yang akan diselenggarakan. Dari judul kegiatannya saja, upacara adat adalah sesuatu yang sudah sangat langka di jaman sekarang ini. Diselenggarakan di Gunung Tangkuban Perahu - bertajuk Manik Maya Ibu Bumi Bapak Angkasa. Upacara ini walaupun diselenggarakan di tatar Sunda - adalah upacara adat lintas budaya. Karenanya diberi pengantar singkat Upacara Adat Sunda Sabuana. Sebelumnya saya pernah dengar sekilas tentang upacara ini dan  memang sejauh ini, peristiwa budaya ini sudah menginjak angka yang ke 18. 

WhatsApp Image 2026-07-26 at 5.12.12 PM.jpeg

Sayangnya saya berhalangan hadir dan peristiwa itu lewat begitu saja dari ruang ingatan saya. Beberapa hari yang lalu - karena saya sedang banyak mengikuti berbagai konten tentang kearifan lokal, timeline Youtube saya menghadirkan video ini ke hadapan saya. Visual video Youtube ini, pesan yang disampaikannya sepertinya menyentuh ruang batin saya dan kemudian saya menyaksikannya. Di bagian awal video ini saya jadi menyadari bahwa ini adalah cuplikan rekaman dari upacara adat yang informasinya dikirimkan Gunawan kepada saya. 

Supaya tidak jadi spoiler, saya ingin mengupas beberapa bagian yang jadi komponen visual tampilan Video ini. Judul video ini adalah Pesan Terakhir Penjaga Hutan Sebelum Terlambat. Judul di bawahnya jelas dalam huruf kapital HUTAN ADAT DIRAMPAS! Di pojok kiri ada kata-kata PESAN LELUHUR SEBELUM TERLAMBAT. Di sisi kanan bawah, tertulis juga BUMI DALAM BAHAYA!

Bagi saya pribadi pesan-pesan ini mengena. Dan ini bukan jadi kata-kata kosong belaka. Bagi yang cukup sadar, kita tahu apa yang dilakukan umat manusia di atas bumi kita ini. Di Semi Palar sebetulnya ini sering kita bahas dan kita angkat ke ruang kesadaran kita. Bayangkan para leluhur berhasil menjaga alam, hutan dan lembah, hutan, gunung, sungai dan laut dengan segala kebaikannya selama ratusan tahun. Sementara kita manusia modern - korporasi dan birokrasi, tangan-tangan yang memegang dan mempermainkan kekuasaan dengan segera menghancurkan apa yang sebelumnya lestari melalui berbagai judul proyek yang serba keren dan mentereng... Proyek strategis nasional - lah, Food Estate lah apapun itu... 

Manusia modern memang kehilangan kearifan. Ini harus disadari dan diakui - karena kalau ini hilang dari ruang kesadaran, tidak usah heran kalau bencana alam hadir bertubi-tubi, semakin lama semakin ganas karena bumi memang dalam bahaya, alam kehilangan keseimbangannya... Dalam konteks ini, kearifan lokal semakin perlu mendapat perhatian. Sederhana saja, karena ada kearifan di dalamnya, berakar dari lokalitas yang berkembang selama puluhan bahkan ratusan tahun... Mari kembali ke sana - untuk kebaikan anak cucu kita. Salam.