Saat ini sudah ada beberapa sekolah yang menjalankan sekolah offline dengan menerapkan prokes. Contohnya adalah sekolah saya Semi Palar yang sudah pernah menjalani sekolah offline. Walaupun sudah menerapkan prokes, resiko tertular Covid-19 saat mengikuti sekolah offline lumayan besar. Alasannya adalah karena masih banyak anak-anak maupun orang dewasa yang lalai saat menjalani kegiatan offline. Karena itu kita harus tetap hati-hati dan memperhatikan keamanan saat menjalani kegiatan sekolah offline. Berkumpulnya banyak orang saat melakukan kegiatan bersama pasti meningkatkan resiko tertular saat sekolah offline. Dikutip dari BBC News Indonesia, transmisi di kalangan murid akan tinggi, dan menciptakan klaster sekolah.
Agar dapat menurunkan resiko tertular saat menjalani kegiatan sekolah offline, ada persiapan yang dapat disiapkan. Untuk bisa mengikuti sekolah offline semua murid harus sudah divaksin, guru nya harus sudah divaksin dan penunjang (satpam, dll) di sekolah juga harus sudah divaksin. Selain itu di sekolah juga harus menyiapkan ruangan dengan ventilasi udara yang bagus atau kalau bisa di tempat terbuka. Wajib mengenakan masker dan disarankan menggunakan face shield dan membawa hand sanitizer.
Saat bertemu orang ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tetap aman. Pertama kita harus menggunakan masker dengan baik dan benar. Lalu kita tidak boleh ada kontak fisik dengan orang lain saat menjalani sekolah offline. Contoh kontak fisik adalah salam/tos saat bertemu orang. Selain itu kita juga harus menjaga jarak dari orang lain. Minimal jarak paling dekat dengan orang lain adalah 2 meter. Jarak antara kursi paling dekat adalah 1 meter.
Saat sekolah akan mengadakan kegiatan offline biasanya ada aturan maksimal murid yang boleh ikut kegiatan. Menurut narasumber yaitu ayah saya, Andrew M. H. Knoch, SpM(K),MK, jumlah maksimal murid ini tidak pasti karena tergantung luas ruangan kelas/tempat belajar. Misalnya kegiatan tatap muka ini dilakukan di tempat luas seperti di aula, maka murid yang ikut bisa sampai lima puluh orang lebih. Atau akan lebih baik jika berkegiatan di ruangan terbuka atau diluar ruangan misalnya di lapangan rumput. Tapi menurut narasumber lainnya yaitu bunda saya Chandika Nidiasarathy maksimal murid yang mengikuti kegiatan adalah setengah kelas.
Kegiatan yang tidak boleh dilakukan saat berkegiatan sekolah offline adalah makan bersama dan kontak fisik.
Jadi walaupun sekolah offline terdengar aman bagi beberapa orang, kita harus tetap waspada dan selalu menjaga keamanan saat bertemu orang. Jangan lupa hal-hal penting yang sudah diberi tahu tadi.
Hal yang jangan sampai dilupakan saat sekolah offline:
Karena itu teman-teman/kakak-kakak/adik-adik pasti ada yang sekolahnya akan mengadakan kegiatan sekolah offline / sekolah tatap muka. Tolong jangan sampai melupakan hal-hal yang telah saya cantumkan diatas ini. Mungkin beberapa hal diatas terdengar sepele dan aman saja jika dilakukan. Setelah pulang dari kegiatan sekolah tatap muka / sekolah offline, ada satu hal yang harus teman-teman / kakak-kakak lakukan. Hal tersebut adalah membersihkan barang-barang yang dibawa keluar rumah. Teman-teman sekalian juga jangan sampai lupa untuk mandi setelah berkegiatan di luar rumah.
Saat sampai di rumah hal yang pertama dilakukan adalah menyimpan barang-barang dari luar rumah, kalau bisa ada rak khusus untuk barang kotor. Lalu setelah itu kalau bisa barang-barang tersebut disemprot terlebih dahulu, lalu teman-teman bisa membersihkan diri dengan mandi. Hal ini salah satu hal paling penting untuk menjaga keamanan agar terhindar dari Covid-19.
SUMBER:
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56481233
(10/09/2021)
Gambar https://id.pinterest.com/
(10/09/2021)
Narasumber:
Andrew Maximilian Herman Knoch 28/08/2021 (Orangtua | Dokter)
Chandika Nidiasarathy 25/08/2021 (Orangtua | Ibu Rumah Tangga)
Terima kasih Keanu! Jadi gimana nih, apakah di Semi Palar menurut Keanu, ProKesnya sudah cukup baik? Mohon masukan ya. 🙏🏼😊