Di televisi rumah kami ada 3 akun youtube sesuai jumlah penghuni rumah. Kalau diintip, konten yang tersajikan beda banget satu sama lain. Punya Budhi isinya dominan review gadget, automobil, dan topik filosofi, Akila banyaknya fashion, make up dan daily productivity, kl punyaku didominasi mukbang korea 🤭 desain arsitektur, topik2 self growth dan discovery. Tentunya ini hasil kecerdasan algoritma yang memilihkan dan menawarkan konten yang dia anggap relateable dengan pemilik akun. Sementara kalau di rumah Nenek, isinya podcast berita2 terkini. Rupanya Nenek tipe nonton yang ada di beranda aja, jadi ga pernah sengaja input topik. Kurasinya berangkat dari konten yg lagi ngehits.
Algoritma ini berjalan di semua platform sosial media. Beda2 tipis lah satu sama lain prosedurnya tapi intinya menawarkan apa yg dia pikir kita suka. Ternyata bukan cm online tp in real life juga sama. Pada tubuh manusia ada mesin algoritma juga, namanya Reticular Activating System disingkat RAS dan dia hidup di batang otak. Super duper canggih!
RAS ini semacam filter, tugasnya menyaring jutaan informasi yang masuk setiap detik kemudian memunculkan atau meng-highlight hal yg dianggap penting atau relevan di dalam 3D reality kita. Yang menentukan sesuatu itu penting atau nggak, ya otak kita juga, "search input" yg dipakai adalah pikiran dan fokus yang kita ulang2.
Kenapa info ini penting? Karena salah satu kunci manifestation ada di sini. Seringkali orang mikirnya, kita harus pikirin terus apa yg kita mau untuk mewujudkannya. Itu ada sedikit benernya sih. TAPI ada program lain yang berjalan autopilot dengan kekuatan magnet lebih dahsyat yaitu algoritma RAS yang terusss aja berjalan tanpa henti "mendengarkan" jalan pikiran atau self talk kita dan tanpa gagal akan terus menghadirkan lebih banyak lagi hal yang kita ulang2 krn dia anggap kita menyukai hal itu.
Tanpa sadar kita sering kebawa arus pikiran sedih, kecewa, takut, khawatir terlalu lama. Sampai statusnya udh terperosok dalam kubangan. Sampai badan ikut letoy, lesu ga bergairah. Walau terpanjatkan doa ke langit, niatnya mau menginginkan sesuatu sekuat2nya sampai terwujud tapi kan cara kerjanya ga gitu.. RAS bacanya "Hoo dia bangun2 langsung tepok jidat mikirin tugas belom selesai dan pelajaran yang ga ngerti2! Berarti dia sukanya itu, OKEH! akan kucarikan semakin banyak alasan utk dia tepok jidat. I know that's what you like because you do it every morning!"
TARAKDUNGCESS..
Bukan salah RAS ya, SOP dia ngga mengenali like atau dislike dari sisi perasaan kita. Dia cm taunya, kl itu terus yang kamu pikirin, fokusin dan katakan ya itu yang kamu mau! Energi diarahin ke pikiran itu, karena kamu tertariknya itu kan?
Wah tnyt strategi kudu diubah nih, biar sejalan dan lebih mengalir. Tapi setidaknya lebih menyadari seberapa penting menjaga pikiran. Dimulai dari kesadaran dan disiplin untuk mau memantau inner thoughts dan self talk yang perpetual. Alih2 berkubang dalam pikiran "kenapa semuanya stuck sih?" akan jauh lebih menguntungkan bertanya "hal baik apa lagi ya yang ada untukku hari ini?" coba memulai hari bukan dengan muram tapi dengan melapangkan diri "show me something good today!"
Kalau algoritma sosmed aja bisa cukup presisi, kamu bahkan bisa menebak akun mana punya siapa cuma liat dari berandanya, bayangkan betapa amazing beranda 3D reality kita kalau kita bisa input RAS dengan pikiran2 yang indah, baik dan beruntung 😍
Gimana kalau ternyata realita yang kamu cari sebenarnya udah ada (because yes it's true) cuma belum keliatan aja karena kamu belum “ngetik” kata kunci yang tepat di dalam pikiranmu?
Menarik... dan asik juga mulai masuk ke ranah manivesting. Mudah-mudahan bisa direspons lewat tulisan lainnya. 🙏🏼🤗
@kak-andy ini topik yg bener2 memantik curiosity aku kak, mana ga abis2 sudut pandang untuk nguliknya! would love to read your prespective 🙏🏻😍