Bukan dengan cara menyampaikan pesan atas nama seseorang kepada orang lain. “Eh, kata si X kamu perlu melakukan kegiatan Y, pokoknya kerjain aja soalnya saya juga disuruh menyampaikan pesan ini. Ngerti kan ya, udah pada gede dan udah pada pernah diajarin kan dulu. Kalau gitu saya melakukan Z dulu ya, kabarin kalau sudah selesai lalu isi daftar hadir harian.”
Justru dengan cara, “Yuk kita lakukan Y, ada tawaran dari X yang menantang nih. Mendukung tujuan kita ke Z juga, jadi kalau ada yang udah pernah ayo kita barengan. Kalau ada yang masih bingung, saya kasih contoh lalu kita kembangkan bersama-sama. Kita mulai dengan small step dulu, and the first thing is follow my step first. Nanti setelah itu kita saling cek ricek.”
Agar tidak jadi wacana saja, yang dimengerti bahkan dipahami. Namun, gagal diimplementasi karena kurangnya integritas diri. Kapasitas luas dan kapabilitas memadai, percuma kalau jarak pandangnya pendek saja. Belum lagi kalau enggan keluar kotak beroda empat yang bikin bisa ada dimana-mana tapi gak kemana-mana. Sempit memang kalau melihat hanya dari jendela.
Menyampaikan pesan adalah dengan menjadi pesan itu sendiri. Karena media penyampaian pesan akan menjadi pesan itu sendiri. Kalau hanya sekadar menyampaikan dan memilih menjadi media peyampai pesan, yang diterima oleh penerima pesan bukan pesannya. Malahan medianya yang dijadikan persoalan bahkan permasalahan, untuk apa memboroskan dana menggunakan kurir pesan.
Kalau ternyata sang media penyampai pesan, menjadi pesan itu sendiri. Dengan menghayati pesan dan menjadi model bagi pesan, sehingga menjadi pesan itu sendiri. Penerima pesan menjadi sungguh menerima pesan, karena nyatanya sama dengan katanya. Bukan sekadar wacana dan jari telunjuk yang terangkat saja. Semacam, kalau hendak menyampaikan pesan kebersihan awalilah dengan membersihkan sendiri.