Sempurna itu tidak melulu, kalau selalu malah jadinya cacat. Sempurna itu pada momen yang paling tepat. Makanya, bukan soal teknik yang sempurna. Justru soal waktu yang sempurna.
Seperti melemparkan bola basket. Kita diajari bentuk sempurna sejak dari memegang bola. Badan miring, kaki maju sedikit, sudut 20-30°, badan lurus, jari melecut, dll dst.
Kemudian saat mengaplikasikannya malah gagal karena merasa kikuk lah badan ini. Lalu untuk apa belajar sempurna di semua momen? Jelasnya untuk menentukan momen paling tepat.
Paling tepat? Paling tepat untuk jadi sempurna. Semacam lompat aja dulu bagaimanapun posisi badan, nanti ada beberapa mikro detik untuk mengunci posisi badan sempurna itu.
Kikuk hilang. Penguasaan datang. Bola melengkung masuk jaring dengan indah. Indah yang sempurna atau indah yang gak sempurna, tetap indah. Jadi, percuma belajar sempurna penuh?
Justru sebaliknya, penting untuk belajar sempurna penuh. Agar dalam realisasinya, ada kekuasaan untuk menentukan momen sempurna mana yang dinyatakan. Total perfection untuk micro perfection.