Bandung seven summits :
Puncak 2 :Gunung Manglayang 1818 mdpl.
Minggu pagi, setelah membelikan sarapan berupa nasi kuning untuk anakku, aku bersiap – siap untuk ‘nanjak’ ke gunung Manglayang di Bandung Timur. Masih dengan tekadku, mendaki tujuh puncak di Bandung secara solo. Ini mimpi terbesarku tahun ini. Merampungkan pendakian ke tujuh puncak di kota Bandung secara solo sehingga tahun depan aku sudah bisa mulai pendakian ke tujuh puncak di Indonesia dan tujuh puncak didunia di tahun tahun berikutnya. Halu yaa? Tapi tak apa, aku memiliki mimpi yang besar dan untuk mewujudkan mimpi mimpi tersebut, aku berupaya keras untuk bisa mewujudkannya.
Aku meninggalkan rumh sekitar pukul delapan pagi. Setelah sarapan dan mempersiapkan bekal untuk pendakian, kulajukan kendaraanku kea rah timur Kota Bandung. Meski hari ini long weekend, namun menurutku jalanan tidak cukup ramai. Mungkin karena masih pagi jadi belum banyak kendaraan yang keluar. Ada rasa yang hinggap ketika aku memasuki wilayah Bandung timur. Ada rasa sakit bertahun tahun lalu yang kutinggalkan disana dimasa aku berada dititik terendahku. Susah payah aku kembali berdiri seperti saat ini, memilih melupakan dan memaafkan adalah cara ku menyembuhkan sakit hati yang kurasa. Perlu bertahun tahun memang, namun ketika aku memilih berdamai dengan diri sendiri, ketika itulah aku bisa berkata aku memaafkan. Jam ditanganku menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh empat ketika aku memasuki kawasan Villa Bandung Indah di kaki Gunung Manglayang. Cuaca agak mendung pagi itu, hingga Gunung Manglayang terlihat samar samar. Aku memilih melakukan pendakian melalui lokasi wisata Batu Kuda. Selain jalurnya ramah bagi pemula sepertiku, ini juga kali ketiga aku mendaki melalui jalur tersebut. Meski sudah kali ketiga, namun aku tidak pernah merasa bosan karena aku selalu menemukan hal hal mengejutkan sepnajang perjalanan mendaki ke puncak Gunung Manglayang. Meski tidak terlalu tinggi dan waktu tempuh yang relative pendek hanya sekitar dua jam saja, namun perbekalan yang aku siapkan tetap harus maksimal. Terutama perbekalan air minum. Karena sama seperti ketika mendaki ke Gunung Bukit Tunggul, sepanjang jalur pendakian kita tidak akan menemukan sumber mata air. Setelah membeli tiket seharga lima belas ribu serta memarkirkan kendaraan, pukul Sembilan lewat lima belas menit, aku pun mulai melakukan pendakian. Petugas parker dimana kendaraan ku diparkir rupanya lumayan mengenaliku, beliau berkata ‘Ibu mah udah beberapa kali kesini ya? Yang biasa pakai jaket biru muda’. Aku tersenyum sambil berkata ‘Iya. Baru dua kali. Dan sekarang kali ketiga. Inshaa Allah sampai puncak.’ ‘Pasti sampai puncak atuh bu, udah keren gitu gayanya’, beliau menambahkan. Aku tertawa ‘Iya gayanya doang keren, nanjak mah tetep aja haheho.’ Hidungku sedikit kembang kempis mendengar perkataan petugas parkir tadi. Teringat seseorang yang selalu menyebutku Ibu ibu keren karena hobby naik gunung. Ahahaha…Sudahlah masalalu. Dilokasi wisata Batu Kuda sudah mulai ramai dengan masyarakat yang hendak menghabiskan akhir pekan mereka bersama keluarga. Beberapa kali aku berpapasan dengan anak anak, mereka menatap kepadaku. Saat aku membuka masker dan tersenyum pada mereka, mereka terus menatapku hingga aku hilang dari pandangan. Menurut salah seorang teman yang lebih lama berkecimpung di dunia pendidikan anak anak, seseorang yang menyukai anak anak dan mudah dekat dengan anak anak itu hatinya lembut. Dan temanku tahu betul bahwa dibalik penampilan ku yang ‘gagah’ dan sikap keras ku menurutnya aku perempuan berhati lembut dan super sensitive. Untuk pernyataan keduanya, aku setuju. Tapi kalau berhati lembut, aku tidak tahu pasti. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan atau yang ada dalam hatiku. Bagi sebagian teman – temanku, aku perempuan yang bersikap datar dan sangat kaku. Sehingga jarang yang mampu berteman lama denganku karena aku selalu memiliki dunia sendiri. Dunia ku ya seperti ini, dihabiskan dengan berjalan jalan dihutan, mencari air terjun atau mendaki gunung. Disaat perempuan seusiaku nongkrong di restoran untuk melepas penat dengan kehidupan rumah tangga, aku malah melepas penat dengan hiking.
Menurut artikel yang aku baca, kenapa gunung Manglayang disebut dengan gunung Manglayang karena konon katanya suatu hari Eyang Layang Kusuma pergi naik kuda seprani dengan cara melayang diatas langit. Akan tetapi ditengah perjalanan kuda semprani tersebut jatuh terjerembab dan tak mampu menyelamatkan diri. Sehingga kuda tersebut mati dan membatu. Di wisata Batu Kuda ini kita bisa melihat sebuah batu berbentuk seperti kepala kuda yang seluruh anggota tubuhnya terkubur tanah. Benar atau tidaknya kembali ke keyakinan diri masing masing. Setelah melewati papanggunngan di kaki gunung, aku terus berjalan menyusuri tepian hutan pinus yang menanjak. Jalur melalui batu kuda ini terbilang mudah, jalur nya terlihat jelas karena sering didaki. Berbading terbalik seratus delapan puluh derajat dengan Gunung Bukit Tunggul, yang apabila tidak ditemani warga lokal maka resiko tersesat sudah bisa dipastikan terjadi. Aku berusaha menjaga konsistensi langkahku. Tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu lambat. Santai dan sambil menikmati suara suara alam. Aku berada di ‘kesunyian’ yang hanya ada alam yang berbicara. Lamunanku buyar ketika terdengar suara memanggil dari arah belakang, ‘Bu..bu… mau ke puncak?’. Rupanya sepasang laki laki dan wanita menyusul dibelakangku. Kujawab ‘Iya.’ Tanpa aba aba mereka kemudian melangkah dibelakangku. Pikiran ku kembali melayang pada pertengkaran ku dan Ayah beberapa hari yang lalu. Ada rasa sedih mengingat pertengkaran itu. Masalah yang terjadi antara aku dan Ayah masih disebabkan hal yang sama,komunikasi, itu kuncinya. Aku dan Ayah memang sangat jarang berkomunikasi bahkan melalui whatsapp pun jarang. Menurut Ibu, hal tersebut terjadi karena aku dan Ayah sama sama keras dan selalu merasa benar. Kata ibu pula, aku dan Ayah ibaratkan api bertemu api, yang makin besar nyalanya. Kalau sudah begitu biasa nya aku memilih pergi dari rumah untuk sekedar meredam emosi. Biasanya kalau tidak hiking ya pergi ke toko buku. Dan selagi aku pergi, biasanya Ibu bicara dengan Ayah. Memang hingga saat ini kuakui, baik aku dan ayah hanya akan luluh bila ibu yang berbicara. Meski ibu sudah berbicara pada saat aku dan ayah bertengkar namun bagiku belum cukup untuk kembali bersikap biasa biasa saja kepada Ayah sekarang ini. Andai saja ayah tahu, apa yang aku lakukan semata mata untuk keluarga, demi membahagiakan ibu.
Langkah membawaku tiba di Pos 1. Pos Batu Lawang. Kenapa pos ini dinamakan pos Batu Lawang, karena keberadaan dua buah batu yang sangat besar dan saling berhadapan. Ditengahnya terdapat sebuah celah kecil yang membentuk seperti sebuah pintu. Lawang sendiri dalam Bahasa Sunda memiliki arti sebagai pintu masuk. Pintu masuk kemana? Ya aku juga tidak tahu. Kuakui di area Pos Batu Lawang ini memang agak sedikit ‘berbeda’. Mungkin karena sebagian orang mempergunakannya area tersebut untuk bersemedi atau apapun itu namanya sehingga suasana sedikit berbeda. Jalanan terus menanjak, hingga aku tiba di sebuah tanah yang sedikit lebih lebar, ternyata itu Pos 2. Di pos 2 kita hanya akan menemukan sebidang tanah yang tidak terlalu luas ukurannya mungkin hanya sekitar 4x4 m2 saja. Entah berapa lama aku berjalan, namun aku sudah tiba di pos tiga yang dikenal sebagai pos batu keraton. Entah apa makna dibalik penamaan pos batu keraton namun di pos 3 ini kita bisa melihat tumpukan batu yang seperti kursi dan meja yang disusun secara sengaja. Langkah kakiku mulai berat dan hal itu terjadi karena aku mulai mendekati puncak. Samar samar kudengar suara anak kecil berterika teriak dari atas sana. Ahh aku yakin, puncak tak lama lagi. Kupercepat langkahku dan benar saja lima menit kemudian aku sudah kembali berada di puncak gunung Manglayang untuk yang ketiga kalinya. Suasana di puncak lumayan ramai. Ada sekitar dua puluh orang disana. Aku mencari spot yang tidak terlalu mencolok, mendudukan diri di tanah dan mulai membongkar perbekalanku. Hari ini aku hanya berbekal sebatang coklat, sekotak cemilan yng kudapt dari rumah Ibu, dua buah botol air minum serta dua botol cairan isotonik. Entah mengapa saat mendaki aku selalu minum lebih banyak ketimbang saat hari hari di rumah. Meski saat mendaki aku banyak minum, namun aku bisa dikatakan jarang ingin buang air kecil. Ini karena cairan yang aku minum dikeluarkan melalui keringat. Yaaa… Hal yng membuatku senang hikinh adalah karena aku bisa mengeluarkan banyak keringat saat mendaki.
Selesai me-recharge energy, aku mulai mengeluarkan ponselku. Mengambil beberapa foto. Tanpa malu malu aku meminta bantuan pendaki lain yang kebetulan berada didekatku untuk mengambil foto. Ya kadang rugi memang kalo mendaki solo, banyak momen yang tidak bisa kuabadikan karena jangan kan untuk mengambil foto, bernafas saja ngos ngosan apabila sedang mendaki. Oh iya, kenapa pada akhir nya aku menjadi suka dengan solo hiking ? Selain karena tidak ada teman yang bisa kuajak, dengan solo hiking pun aku bisa bebas mengatur kecepatan berjalan, mau berhenti atau tidak atau mau berapa lama aku istirahat. Kurang lebih dua setengah jam kutempuh dari wisata Batu Kuda hingga Puncak Manglayang. Sebenarnya aku ingin memulai muncak dari Baru Beureum di Kiarapayung Jatinangor namun hingga kini belum terealisasi. Selesai foto foto, mungkin hanya sekitar dua puluh menit aku berada di Puncak, aku memutuskan untuk turun. Tujuan ku mencari lokasi curug Ciantani, yang katanya terletak di kaki Gunung Manglayang. Bertanya pada beberapa pendaki yang kebetulan berpapasan di jalan namun mayoritas mengatakan belum pernah mendengar Curug Ciantani di kawasan Gunung Manglayang. Ahhh…Apa aku salah baca? Karena tidak menemukan petunjuk sama sekali ke Curug Ciantani, akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali ke parkira dengan maksud pulang lebih cepat. Waktu tempuh dari puncak ke wisata Batu Kuda relative lebih singkat. Mungkin hanya sekitar satu setengah jam hingga dua jam saja. Namun jalan ku sedikit tergopoh gopoh karena aku melepas kacamata hingga penglihatanku tidak begitu jelas. Memang semenjak mengenakan kacamata, aku amat sangat terganggu saat hiking. Sering kacamataku berembun karena bagian disekeliling mataku memproduksi minyak lebih banyak. Ataupun ketika hujan turun, kacamataku tertutup air hujan…AAAhhhhh sumpahhhh ribetttt!!!! Ya itu masalahku pada saat pendakian belakangan ini, mataku! Nampaknya aku harus segera memeriksakan mataku lagi.
Akhir pendakian Bandung 7 summits
: Puncak 2
: Manglayang 1818 mdpl!