Absurd lah menengahi kalau tidak ada yang yang di kutub-kutub. Perlu ada posisi di kedua kutub berlawanan baru bisa menengahi. Kalau tidak demikian, kata menengahi hanyalah repetisi dari istilah yang entah mengapa begitu lekat dan terngiang di telinganya.
Bisa jadi, dulu dirinya berada di salah satu kutub dan ada yang lain di kutub berlawanan. Sehingga ada pihak yang menengahi kedua pihak yang mengisi kutub berlawanan. Secara tidak sadar, merasakan pentingnya peran penengah dalam menengahi. Terngiang selalu deh.
Menengahi membutuhkan dua kutub berlawanan yang terisi oleh peran, pihak satu dengan pihak satunya lagi. Kalau menengahi dilaksanakan dengan meniadakan keberadaan salah satu kutub atau bahkan keduanya, itu bukan menengahi melainkan menewasi. Tidak ada yang diketengahkan, yang ada malah ditewaskan.
Tewasnya peran kedua kutub berlawanan itu, membuat peran penengah hanyalah sosok delusif bias fungsi. Logikanya, tidak ada yang di kutub, tidak ada yang diketengahkan, tidak ada yang ditengahi, tidak ada yang menengahi, tidak ada lah si penengah ini. Kalaupun ada yang mengaku penengah, mungkin ia tukang bubur.
Karena, kerjaannya halusinasi. Halusin nasi. Ngehalusin nasi. Bukan menengahi dua sisi. Hanya menghalusi nasi. Makanya, menengahi selalu dimulai dengan mengakui adanya dua kutub berlawanan. Dilanjutkan dengan membiarkan kedua kutub itu diisi peran. Barulah fungsi menengahi dapat digenapi peran penengah ini.