Sebelum hari ini, perpaduan kata kembali dan selamat tak terdengar harmonis bagi saya. Kembali selamat. Lebih akrab jika 'kembali' berpasangan dengan datang atau pulang. Begitu pun 'selamat', ia lebih dekat dengan pagi, siang, malam, datang, atau jalan. Sedangkan kembali dan selamat tidak cukup dikenal sebagai sepasang yang "enak didengar".
Namun jodoh tak bisa diingkari, ya. Seperti kata Mbah Tedjo; "Kita bisa memilih menikah dengan siapa saja, namun tak bisa memilih hanya akan mencintai siapa." Begitu pula dengan kembali selamat. Seolah tak dekat, ternyata mereka karib.
Mulai dari diri sendiri; ukuran kita selamat selalu diukur setelah kita kembali ke tempat di mana kita berangkat. Seperti ketika saya pulang kampung, saat itu saya bisa disebut kembali dan selamat. Ketika saya pergi lagi ke tanah rantau, saya hanya akan disebut selamat di jalan. Karena saya pergi dan bukan ke tempat asal.
Dalam kisah yang lebih lawas dan terkenal; ada cerita bangsa Israel kembali dari Mesir ke Kanaan. Ke daerah asal mereka. Sehingga bangsa Israel kembali dan selamat. "Tidak lagi terjajah".
Ketika saya naik gunung juga ada istilah; tujuan kita naik gunung bukanlah puncak, tetapi pulang. Pulang berarti kembali dan selamat. Ada juga dalam sebuah perumpaan "Anak Sulung". Saya malah senang mengamati si Bungsu yang pergi dari rumah dan meninggalkan keluarganya. Ketika kemalangan mulai menghampiri, ia pulang dan sang Ayah menyambutnya. Ia pun selamat. Kembali dan selamat.
Bagi saya; menulis itu menyelamatkan saya. Entah sudah berapa bulan saya berhenti dari rutin menulis saya. Ada yang berbeda, ada yang kurang dari diri saya. Hari ini saya kembali. Semoga kembali ini juga berarti kembali dan selamat. Selamat dari colekan kak Andy misalnya (canda kak Andy).
Selamat kembali menulis ka Mamat.. gitu boleh ya..
Selamat kembali menulis ka Mamat.. gitu boleh ya..
Mari kak Ine 😊
Nulis terus ya, Kak. Kutipan Kak Mamat sdh saya capture jg di esai saya hari ini. 😊
welcome back ka Mamat...
Keren esainya kak ❤