AES 003 BERTANYA-BERDIALOG
minfadlyrobby
Thursday March 6 2025, 10:39 AM
AES 003 BERTANYA-BERDIALOG

Untuk mencapai dialog yang mencerahkan maka seseorang perlu belajar tentang bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat. ‘Belajar Bertanya’ seharusnya menjadi mata pelajaran wajib dalam sekolah kehidupan.

(Gernatiti, 2022)

 

Tidak ada salah dari bertanya. Apapun pertanyaannya baik yang ringan maupun yang membuat lawan bicaramu kesulitan menjawab tetaplah pertanyaan. Justru dari sekadar bertanya terkadang kita akan ngobrol ngalor-ngidul dengan lawan bicara.

Kesulitan bertanya adalah saat pertanyaan tersebut diremehkan bahkan dipagari seperti melalui kalimat “kamu nanya mulu ah!” Kalimat yang akan membuat seseorang di masa depan akan kesulitan dalam mengungkapkan sesuatu. Perasaannya akan cenderung tidak enakan untuk menanyakan sesuatu padahal di kepalanya sangat banyak pertanyaan dan kebingungan yang harus dipecahkan. Kemampuan komunikasinya pun akan berjalan pasif.

Jika ruang pertanyaan selalu tertutup maka rasa penasaran kepada dunia ini tidak pernah terjawab. Padahal ilmuwan-ilmuwan hebat selalu mulai dari pertanyaan yang sederhana. Newton menciptakan hukum gravitasi kemungkinan dari pertanyaan sederhana “Kenapa apel ini bisa jatuh ke tanah?” dikembangkan dan jadilah teori gravitasi.

Kembali ke Newton kita dapat bayangkan setelah bertanya-tanya dan juga dieksekusi lalu pertanyaan itu berdialog. Tidak diendapkan begitu saja maka terciptalah teori yang terkenal itu.

Remeh temeh pertanyaan sejatinya memang tidak ada. Pertanyaan yang diremehkan hanyalah bentuk pertahanan seseorang. Ia tidak mampu menerima pertanyaan tersebut secara bijaksana.

 

SENI MENANGGAPI PERTANYAAN

Pertanyaan tetaplah pertanyaan, ia mempunyai berbagai rasa di dalamnya. Rasa di dalamnya merupakan rasa penasaran. Meskipun terkadang terdapat penyampaian pertanyaan yang rasanya terlalu menyerang, tetapi itu tetaplah pertanyaan. Jika menanggapinya dengan menyerang juga maka tidak akan terjadi dialog di dalamnya. Penyerangan akan dilancarkan sehingga dialog yang kosong akan terjadi. Arena dialog menjadi arena pertarungan batin yang tidak berkesudahan jika pertanyaan menyerang ditanggapi dengan serangan balik.

Tidak semua pertanyaan perlu ditanggapi. Ketika kita tidak mengetahui secara pasti jawabannya. Kita bisa mengajukan pertanyaan lainnya kepada penanya untuk memikirkan jawaban secara bersama-sama. Bisa juga dengan menjawab “Saya tidak mengetahui jawabannya secara lebih jelas mungkin kamu kita dapat memecah apa yang kamu bingungkan dengan….” Dengan demikian dialog lainnya pun akan terjalin dari pertanyaan yang tidak terjawab oleh si penjawab.

Kebijaksanaan menanggapi pertanyaan merupakan hal yang paling utama. Tidak bisa diukur tetapi bisa dilatih untuk menerima banyak pertanyaan. Bisa dengan belajar mendengarkan. Melalui mendengarkan dengan intensif dan sabar kepada lawan bicara kita akan mengetahui point apa yang sedang ditanyakan serta memperhatikan si penanya. Kemunculan sikap lainnya akan terlihat. Sikap apresiatif yang tinggi menjadi hal yang utama dan lawan bicara akan menyukai sikap yang ditunjukkan. Dalam budaya kita yang apresiasi seakan kurang ini sikap ini merupakan yang terbaik.

Bagaimanapun sebuah pertanyaan diungkapkan itu adalah pertanyaan. Mungkin tidak ada niat apapun dari si penanya. Jika terasa menyerang itu hanyalah sebuah sikap dari penerima tanya atau bisa jadi si penanya belum mengetahui caranya bertanya yang bijak itu seperti apa. Manusia itu sangat kompleks maka dari itu bisa jadi itu adalah sebabnya atau hal lainnya yang membentuk demikian. Terkait hal ini bisa juga soal budaya di lingkungan seorang penanya yang selalu menyampaikan memakai kalimat secara langsung dan terus terang dan hal lainnya yang melingkupinya.

Pendeknya setiap pertanyaan yang disampaikan oleh seseorang mengandung banyak arti jika kita dapat menerima pertanyaan lebih bijak. Bahkan sekecil apapun pertanyaannya maka akan terjadi dialog yang begitu intensif sehingga mendapatkan jawaban baru dari yang sebelumnya tidak ada jawaban sama sekali.