Akhirnya, kelas kami melakukan live in. Sebelum live in ke Gambung ini, kami sempat mendiskusikan tempat yang lain. Namun karena setelah di bandingkan, Gambung ini lah yang terpilih. Kemudian waktu live in juga di persingkat jadi 4 hari tiga malam, tentu saja aku sedih karena waktu di persingkat. Padahal aku sudah membayangkan kegiatan selama live in selama satu bulan yang akan mengasikan. Tapi aku tidak bisa berharap penuh dengan imajinasi ku ini, karena realita tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Tidak apa-apa, karena selama aku di Gambung ini, aku dapat pengalaman yang berwarna.
Selama aku berada di Gambung, aku bisa merasakan semua emosi yang manusia punya. Bahagia, sedih, marah, takut, jijik, kaget, dan emosi lainnya walau hanya di 4 hari 3 malam yang singkat ini. Mungkin aku akan cerita di bagian bahagia, atau senangnya terlebih dahulu. Dari awal persiapan saja, aku sudah merasakan senang yang tak terbendung, sampai aku deg-degan sendiri. Mungkin agak sedikit lebay, sampai deg-degan, namun itu lah yang kurasakan di h-1 sebelum berangkat.
Kemudian hal yang membuat ku sangat bahagia aalah saat aku bisa mengobrol dengan warga sekitar, karena biasanya aku hanya mendengarkan saja. Itu juga aku belum tentu hadir di perbincangan walau pun mendengarkan, tapi akhirnya aku bisa memperbaiki perbuatan buruk itu, dan aku senang dengan hasilnya. Aku bisa lebih paham dengan perbincangan yang sedang di obrolkan, aku jadi seanga ada teman mengobrol, dan aku senang dengan timbal balik orang yang bisa menikmati saat mengobrol dengan ku. Walau pun kadang karena lelah dengan kegiatan warga ynag kami ikuti, tapi aku terus berusaha untuk bisa hadir secara menyeluruh.
Lanjut ke bagian sedihnya, hal yang paling membuat ku sedih saat di Gambung adalah saat kami menjalani workshop. Walau kami menuntaskan tugasnya, yaitu membuat Workshop Pembuatan Kertas di luar lingkup sekolah dan melaksanakannya di Gambung, saat workshop berjalan tidak selancar yang aku bayangkan. Saat itu kami dapat banyak evaluasi yang perlu di perbaiki, setelah workshop selesai kami langsung ngobrol evaluasi bersama. Ada beberapa poin yang kami dapat, kami masih egois sampai kami tidak menyambut para peserta, kemudian adaptasi yang lambat, dan kerja sama yang kurang. Hal ini disebabkan karena peserta datang disaat jam waktu makan kami, kemudian kami malah cuek dan kaget ternyata yang datang ada banyak warga. Awalny aaku hanya mengundang Laladan teman-temannya, yang sering berada di PPM tempat kami menginap, tapi dia bilang teman-temannya tidak bisa hadir. Ternyata ada banyak temannya yang datang dan ada anak Pak Dayat (beliau adalah orang yang menjaga PPM dan pengurus kebun Pak Vinan) yang membawa teman-temannya. Disitu kami kurang cepat untuk adaptasi jadi kaget ynag terlalu lama. Sudah begitu aku kurang dibantu oleh teman-teman ku untuk menjalankan workshop ini. Teman-teman malah mengeluarkan energi negatif saat kegiatan berlangsung, tentu saja aku berusaha meng-covernya dengan energi positifku. Namun dari awal sampai akhir hanya aku yang berusaha, teman lain kurang berusaha. Jadi energi ku habis, dan jadinya kesal dengan teman-teman lain yang kurang membantuku. Tapi setelah evaluasi, kami jadi sadar kalau kami harus lebih “welcome”, kepada orang luar, kemudian kami harus memperbaiki kerja samanya. Jadinya malah ada lebih dari satu perasaan yang ku rasakan, sedih, marah, kaget, dan kecewa.
Lalu jijik, setelah sekian lama aku tidak merasakan “sangat jijik” akhirnya aku merasakannya lagi saat memandikan sapi. Saat di awal pengumuman akan memandikan sapi, aku pikir hanya bercandaan, tapi setelah sampai di tempat ternyata benar. Disitu aku langsung teringat saat di kelas 1 SMP memeras sapi. Aku merasakan sangat jijik dan ingin muntah, dan itu yang kurasakan kembali. Awalnya aku hanya mencoba saja saat memandikan, namun saat sadar kalau tugas kami harus tuntas, akhirnya aku memberanikan diri. Dari awal aku memiliki rasa kepo memandikan sapi ini, ingin sekali, namun terhalang karena aku takut tertendang, kemudian jijik dengan kotoran yang menempel di badan sapinya karena itu adalah tinjanya dia yang dia injak dan tiduri sendiri, kemudian harus kita bersihkan. Oleh karena itu, setelah aku mencoba dan bergiliran memandikan sapinya dengan tteman yang lain, aku terdorong untuk memandikan sapinya dengan benar. Walau bajuku akhirnya dijilati sapi di kendang sebelahnya, tapi aku bisa melawan rasa takut dan jijik ynag kurasakan saat itu. Jadi aku merasakan dua perasaan, jijik dan takut.
Selain emosi yang kurasakan, aku merasakan sakit juga. Saat hiking, membantu ngored rumput liar di kebun teh, dan di setiap pagi. Banyaknya rasa pegal yang kurasakan, tapi sakit juga ada, seperti tanaman liar yang menempel tajam.
Banyak hal yang ku dapat selama di Gambung ini, walau hanya 4 hari 3 malam, aku bisa menjalani hari-hari ku dengan puas, malah aku ingin menambah hari dan kegiatanku disini.
Keren banget Thania. Betul-betul keluar dari zona nyaman ya. Terima kasih sdh berbagi cerita. 😊🙏