Hari ini aku hadir di kelas semesta yang membahas Design Thinking. Awalnya aku lupa-lupa ingat tentang desing thinking ini, tetapi karena ada kelas semesta design thinking ini jadi diingatkan kembali, dan untungnya penjelasan dari nara sumber detail dan ada contohnya jadi lebih paham lagi. Awal mulai ada teka teki yang receh, jadi mencairkan suasana dan semua gak tegang. Setelah diceritakan beberapa proyek yang narasumber lakukan dengan komunitasnya, Kak Mita menjelaskan industrial revolution. Kak Mita menjelaskan tahapan teknologi dari yang 1 sampai 4 kita. Ada tiga hal yang berubah tiap evolusinya, dari kita mengatur hal (manage), kekuatan apa yang dapat menghidupi (power), dan memperluas jaringan (move). Awalnya aku bingung apa hubungan proyek itu dengan design thinking. Nah, dari penjelasan Kak Mita design thinking adalah salah satu thinking dari beberapa thinking, untuk membantu kita memproses / berproses berpikir .
Jadi sesign thingking adalah salah satu alat untuk kita berpikir dari banyaknya masalah yang ada, yang ditimbun dari dekade sebelum kita, dan kita punya senjata yang unggul dari tahun / dekade sebelumnya yaitu teknologi. Hampir semua masalah di teknologi punya solusinya, yang tidak di punyai oleh teknologi adalah kreatifitas untuk berpikir. Lalu tidak semua masalah bisa diselesai kan oleh design thinking, malah bisanya menggunakan cara thinking yang lainnya.
Awalnya aku pikir apakah design thingking ini merancang pikiran kita seperti perancang rumah, baju, dan perancang lainnya, dan ternyata ya betul. Design thinking ini meminjam cara pikir designer, cara kita bisa dapat design thingking ada tiga, ampathy, creativity, empiric. Dari empati, kita harus punya perasaan itu untuk memulai berpikir. Lalu kreatif, katanya kreativitas itu bukan suatu hal yang baru, tapi dari suatu hal yang sudah ada namun kita lihatnya dari sisi yang berbeda. Kemampuan yang dapat melihat dari sisi yang berbeda itu lah kreativitas.
Nah intinya tuh ada 4, yang pertama mengumpulkan inspirasi, kedua mengumpulkan ide ide seru, ketiga merealisasikan dan menguji ide, keempat melakukan interaksinya. Kreatif problem solving, tiga kunci utama design thinking. Jadi kita bisa melakukan design thinking kalau ada masalahnya atau belum yakin kalau itu masalah. Kalau tidak ya tidak usah dan bahkan tidak bisa.
Lalu Kak Mita bilang, “kalau bisa kelompok dedsign thinking itu harus lebih dari 4 orang, dan beragam latar belakangnya.” Untungnya teman- teman ku sangat beragam dan berbeda semua, dari yang ada di sekolah mau pun di luar sekolah. Pantas saja setiap menyelesaikan masalah di sekolah atau diskusi, kita susah mendapatkan kesimpulan. Tapi setelah mendapatkannya akhirnya ada rasa senang dan puas.
Kalau di luar sekolah pantas saja aku suka bergosip sampai malah tiba- tiba emosi dan saling adu bicara (walaupun akhirnya tenang lagi kok), karena pemikiran kami berbeda, apa yang kami alami dari satu masalah itu berbeda, jadi ada pendapat yang berbeda saat sedang bergosip ria itu.
Tapi aku senang dengan kelas semesta ini. Aku jadi tahu kenapa tiap berdiskusi atau bergosip sering ada perbedaan pendapat, yang awalnya tiap aku membayang kan pasti semua akan berjalan lancar dengan satu pemikiran, dan satu pendapat yang membuat kegiatan itu asik. Tapi ternyata tidak.
Jadi aku harap aku bisa mengunakan design thinking dan thinking, thinking lainnya, dan bisa menggunakannya dengan baik.
"Untungnya teman- teman ku sangat beragam dan berbeda semua, dari yang ada di sekolah mau pun di luar sekolah. Pantas saja setiap menyelesaikan masalah di sekolah atau diskusi, kita susah mendapatkan kesimpulan. Tapi setelah mendapatkannya akhirnya ada rasa senang dan puas."
Wah ini keren banget nih Thania. 🏼