Malam sudah bergulir menuju saat beristirahat. Saya tahu bahwa tugas saya menulis hari ini belum selesai. Sepanjang hari saya harus beristirahat karena kondisi tubuh yang tidak baik. Sesudah 3 minggu kembali ke tanah air akhirnya tubuh ini menyerah dam saya jatuh sakit. Oleh sebab itu keinginan menulis sepanjang hari hampir tidak ada, hingga menjelang tidur.
2 Hari terakhir ini saya harus bernapas dalam kondisi udara yang sangat buruk. Ada beberapa pekerja yang berusaha mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari dengan bor. Peralatan yang mereka pakai menggunakan mesin diesel, sehingga seluruh rumah saya bau dan udara sangat kotor. Bayangkan berada di belakang bus Damri sepanjang waktu sekitar 8 jam sepanjang hari, maka mungkin itu yang mentriger saya sehingga jatuh sakit. Saya banyak menghabiskan waktu di kamar.
Untunglah saya memiliki banyak sahabat yang care. Saya sejak hari pertama kembali, sering mendapat kiriman makanan hahaha.. demikian pula kemarin dan hari ini karena dia mengetahui bahwa saya terjebak di rumah harus menunggu para pekerja melakukan tugasnya. Hari ini terlebih lagi, karena saya jatuh sakit. Sudah sangat lama saya tidak menikmati makanan sederhana yang bagi saya menjadi sangat mewah karena dibuat dari bahan-bahan yang segar. Jagung muda segar itu sangat enak jika dibandingkan dengan jagung muda kalengan yang selama sekian tahun saya harus rasakan! Makanannya mungkin sama, tapi jika bahan baku tidak sesegar seperti saat ini, maka rasanya akan sangat jauh berbeda. Saya makan dengan lahap nasi dengan sayur yang terbuat dari wortel, jagung muda dan jamur tiram. Ini makanan mewah yang sangat luar biasa! Tempe mendoan, tahu isi adalah makanan yang selama ini saya idam-idamkan. Percaya atau tidak, hari pertama, malam pertama saya tiba di Bandung sudah ditunggu oleh tempe mendoan! Ini sebuah kenikmatan tiada tara! Life is good!
Dalam keadaan sakit saya masih dapat menikmati makanan dengan nikmat. Hingga menjelang tidur tiba-tiba saya mendengar suara yang sudah sekian lama tidak pernah saya dengar. Tek.. tek tek..! Saya sudah siap-siap akan tidur langsung terjaga dan berusaha mendengarkan suara itu dengan seksama.
"Ada mie tek tek!" Teriak saya semangat.
Saya langsung keluar kamar mengintip keluar melalui tirai jendela depan rumah. Ada seorang pria degan memakai pikulan duduk di tepi jalan kompleks.
"Eh yang jualnya pake pikulan, Nin." Kata saya
"Beli sana, biar ngebantu dia. Ntar bisa dibawa buat ke kantor besok." Kata Nina
Kami memang sudah kenyang dan siap-siap untuk tidur. Tapi melihat seseorang yang bekerja keras berjualan menggunakan pikulan, sudah hampir tidak pernah saya lihat, apalagi 8 tahun terakhir ini. Saya langsung keluar dan ternyata dia sudah kehabisan nasi, sehingga saya memesan mie goreng. Saya langsung bersemangat ketika melihat bapak muda tadi mengeluarkan sebuah alat memasak menggunakan arang dan sebuah kipas angin portable. Langsung bau harum menerpa hidup saya.
"Berapa, pak?" Tanya saya.
"Mie tek-tek 16 ribu, pak." jawabnya.
Mie tek tek setara dengan 1 Dollar! Kata saya dalam hati. Dan seperti biasa saya diam memperhatikan bapak itu memasak. Persis seperti kebiasaan saya dulu yang selalu digossipkan oleh almarhum ibu mertua dan Nina. "Lihat. si Jo pasti berdiri dan nonton penjual memasak!" Ya, persis itu yang saya lakukan. Seperti biasa, kebiasaan lama dan selalu merupakan saat-saat menyenangkan menyaksikan seorang penjual makanan menyiapkan masakannya. Saat ini saya masih jadi "turis" karena belum betul-betul melebur dengan kebiasaan hidup baru di Bandung, dan masih menghitung konversi harga dalam Dollar. Seperti malam ini, beli mie tek tek seharga 1 Dollar. Kapan lagi? Hahahahaha...