Pukul 3 pagi. Saya tiba-tiba terjaga karena ada suara batuk-batuk di luar. Kano bolak-balik ke kamar mandi. Saya mulai berpikir, dia akan terlambat masuk kerja jika pukul 3 pagi masih belum tidur. Dia harus sudah berada di tempat kerja pukul 6:30 pagi. Saya akhirnya keluar karena kebetulan perlu ke kamar mandi. Kano sepertinya tidak bisa tidur dan semakin lama dia semakin khawatir karena dia tahu 3 jam lagi sudah harus pergi kerja. Semakin khawatir tentunya semakin sulit tidur.
"Try to sleep." Akhirnya saya berkata karena tidak tahu lagi harus bagaimana.
Di luar gelap gulita, tidak ada suara binatang. Begitulah situasi musim dingin. Tidak ada binatang keluar ketika gelap dan udara dingin membeku menguasai semesta. Saya kembali berbaring, suara exhaust di kamar mandi masih terdengar, lalu suara keran air. Mungkin Kano ingin minum, lalu terdengar lagi suara batuk dan saya terlelap.
Hari Senin ini saya libur karena semua kantor tutup untuk merayakan hari Martin Luther King Jr. Saya terjaga ketika alarm berbunyi, masih pukul 5 pagi. Tubuh saya masih lelah karena semalam sulit tidur. Saya khawatir akan Kano, tapi saya juga berusaha tidak mencampuri masalah dia. Dia sudah mulai dewasa, jadi harus bisa menghadapi situasi dan masalahnya sendiri. Saya hanya berusaha menyampaikan gesture bahwa saya selalu siap untuk dia jika dibutuhkan. Itu alasan saya keluar kamar tadi malam. Hanya sekedar menyampaikan pesan. Nasihat tidak akan berguna, nasihat tidak akan dapat membuat dia tidur nyenyak. Dia harus dapat menekan kekhawatirannya dan rileks agar tubuh bisa beristirahat. Tapi saya ingin dia mengalaminya sendiri dan mengambil pelajaran dari situasi itu.
Saya meraih telepon lalu melihat sebuah pesan "Wake me up at 7:15 instead, my shift starts at 8." Hmm.. pikir saya. Jadi dia mengambil keputusan untuk tetap berangkat kerja tapi lebih siang karena dia butuh tidur. Sebuah tindakan yang masuk akal dan juga bertanggungjawab. Memberikan kesempatan pada tubuh untuk beristirahat, tapi juga tetap melaksanakan tanggungjawabnya untuk hadir di tempat kerja, walau sedikit terlambat. Kompromi yang baik! Saya tersenyum. Tapi saya punya masalah baru. Membangunkan dia pukul 7:15 artinya saya masih ada di kolam renang karena hari ini adalah jadwal berenang. Ya sudah, demi "pendampingan" saya rela. Saya suruh Nina berangkat sendiri dan saya minta dia bisa segera pulang sesudah selesai berenang. "That'll do it!" Kata saya dalam hati.
Pukul 6:15. Pintu kamar saya terbuka. "Dad, something is going on at work. I tried to call but no answer. I will have to go there earlier. I called in this morning to tell them that I will be coming in a little late, but I think, I will try to come earlier."
"Ok. I have to let mommy know because she has the car." Kata saya sambil langsung menulis pesan singkat ke Nina agar segera pulang begitu selesai berenang.
Saya sama sekali tidak menegur Kano karena saya tahu dia baru tidur ketika sudah terlalu larut. Saya hanya bertanya,"Do you know how adrenaline works? When your body is full of adrenaline, you won't be able to sleep because you are full of anxiety." Kano main game bersama teman-temannya hingga larut, lalu sulit tidur. Dia tahu itu, dia juga menyadari masalah yang sedang dia hadapi ketika sulit tidur. Kano juga sadar bahwa jika kurang istirahat dan tubuh lelah dia tidak akan mampu melakukan pekerjaan dengan baik. Saya perhatikan dia begitu aware dengan situasi yang sedang dia hadapi. Saya lihat juga Kano sudah mengambil tindakan dengan mempertimbangkan penyelesaian masalah yang terbaik lalu mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Ini sebuah pelajaran yang baik. Risiko nanti harus bisa dia hadapi dan mudah-mudahan dia bisa mengambil hikmahnya. Saya menjaga jarak dan memberi dia ruang yang cukup untuk belajar.
Sebagai orang tua, yang saya lakukan itu sangat sulit. Godaan untuk ikut campur sangat tinggi. Tapi kemudian saya sadar bahwa saya harus mulai menghadapi Kano bukan sebagai anak kecil lagi. Yang harus saya lakukan adalah bukan membantu dia dalam bentuk penyelesaian masalah, melainkan memberikan, menunjukkan atau menyediakan alat yang benar untuk dia agar dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Menunjukkan padanya bahwa yang dia lakukan itu memberikan kontribusi besar terhadap masalah yang sedang dia hadapi itu lebih penting daripada menyelesaikan masalahnya itu sendiri. Semakin saya intervensi mengajak dia refleksi diri, semakin baik dia mengambil tanggungjawab atas tingkah laku yang dia lakukan.
Menjadi oang tua itu pekerjaan yang tricky. Selama lebih dari 17 tahun saya berusaha dan sambil belajar mendampingi, mengajari dan menuntun. Selama itu juga saya berusaha memberi nasihat dan kadang meluruskan keputusan-keputusan yang dia pilih, dan ketika dia beranjak dewasa, saya harus mulai melonggarkan semua ikatan yang sudah terbentuk selama ini karena dia akan menjadi seorang dewasa yang mandiri. Ini pekerjaan yang sangat tidak mudah. Mengetahui kapan mulai melonggarkan, itu saya sama sekali tidak punya petunjuk. Tidak ada primbon yang diciptakan untuk ini. Saya hanya mengandalkan suara hati dan sensitivitas. Kadang keliru kadang tepat. Semuanya seperti meraba-raba dalam gelap.
Orang tua menghadapi banyak kesulitan ketika dituntut untuk mulai melepaskan kontrol dan membiarkan anaknya melakukan serta mengambil keputusan sendiri. Ini bagi saya rasanya seperti sedang menonton film horor. Semalaman saya gelisah. Ini sebetulnya kondisi yang sepele. Paling sial dia dimarah-marah oleh managernya, kalau dipecat tidak mungkin karena saya tahu dia salah satu karyawan favorit yang sangat disukai. Tapi membiarkan seseorang berbuat salah itu merupakan siksaan yang hebat bukan main. Menyaksikan anak tumbuh dengan melalui berbagai rintangan membuat tangan saya gatal-gatal karena begitu sulitnya menahan diri untuk tidak melakukan intervensi. Kalau dibilang latah, nah ini mungkin istilah yang tepat. Bagaimana mengubah kebiasaan selama 17 tahun dengan begitu saja? Luar biasa sulitnya! Menahan ikut campur bukan karena merasa anaknya tidak mampu, bukan itu! Tapi karena kita sebagai orang tua begitu concern akan kebaikan dan keberhasilan dia, akan prestasi dia, akan imej dia di mata umum. Kita sebagai orang tua ingin melihat dia menjadi anak yang hebat, untuk itu tidak tanggung-tanggung kita ingin ikut terjun langsung demi keberhasilan mereka, kalau perlu biar orang tuanya saja yang babak belur! Jujur saja, hampir semua orang tua rela melakukan itu kok. Saya juga begitu!
Sekarang bagaimana cara kita sebagai orang tua untuk mendapingi mereka menuju ke kedewasaan tanpa terlalu mengontrol? Yang saya lakukan pertama-tama, dengan susah payah tentunya, yaitu dengan memperlakukan mereka sebagai anak dewasa. Mereka bukan anak-anak lagi. Saya juga berusaha menurunkan tingkat harapan saya dalam segala hal, termasuk misalnya, ingin "mengetahui" keberhasilan dia dalam pekerjaan. Saya berusaha untuk tidak "nosy" yang selalu ingin tahu tindak tanduknya. Orang tua tidak boleh kepo hahahah. Mereka butuh ruang untuk bergerak dan melakukan berbagai kesalahan dan belajar darinya. Saya bersaksi: ITU SAMA SEKALI TIDAK MUDAH! Saya harus belajar bisa berdiri di sudut menyaksikan segala hal yang menyayat hati sambil menggigit bibir. Gemes? iya, luar biasa! Gatal-gatal ingin nimbrung? Tak tertahankan! Tapi semuanya itu akan memberikan buah yang sangat manis yang setimpal dengan situasi panas dingin sekujur tubuh yang saya rasakan karena dilanda kekhawatiran yang luar biasa! Saya tahu ini baru permulaan, hal-hal yang lebih mencekam akan tiba di masa depan dan saya harus siap karena itu datang selalu tanpa diduga-duga! Nah para orang tua anak-anak remaja yang menjelang dewasa, siap siaplah! Hahahaha...
Foto credit: deronschool.org