AES109 - meng(aku)
Ara Djati
Wednesday February 19 2025, 8:29 PM
AES109 - meng(aku)

Sebagai anak tunggal dengan sedikit orang di sekitar, aku menghabiskan masa kecilku dalam dunia angan-angan. Aku berpura-pura jadi peri, jadi putri duyung, jadi owa jawa. Aku berpura-pura jadi anak kepala suku di sebuah planet terpencil. Aku berpura-pura jadi agen rahasia, menyelesaikan misi penting untuk menyelamatkan dunia. Dalam permainanku ini, aku orang yang gagah-berani-pandai-gesit-ramah-baik-hati. Aku bisa jadi siapapun yang aku mau!

Tapi dunia sesungguhnya tidak seperti dunia angan-angan. Aku hanyalah aku. Aku harus membentuk diriku sendiri dari apa yang kupunya, dengan apa yang nyata. Yang kupunya belum tentu yang kuinginkan, yang kuinginkan belum tentu yang kupunya.

Kalau ditanya, kamu ingin jadi siapa?, ada jawaban tak terbatas yang kupendam dan akan kuusung dengan senang. Aku ingin jadi seorang antropolog, akademisi, astronom. Seorang penulis, pendekar, pengajar, pesulap. Seorang yang disayangi dan menyayangi, seseorang yang berguna dan serba-bisa. Keinginan adalah sesuatu yang indah, tak terbendung. Tapi juga, sepertinya, sesuatu yang serakah.

Kalau ditanya, kamu siapa?, jawabanku akan terdefinisikan oleh hal-hal yang kuinginkan. Jawabanku selalu, aku ingin jadi antropolog, aku ingin tahu rasanya jadi bintang di langit. Siapa aku sepenuhnya, senyatanya, sewujudnya? Kurasa pada dasarnya manusia ingin jadi lebih dari apa adanya. Hal yang bagus: tanpa ambisi, manusia tidak akan sampai pada titik ini. Tapi dengan begitu, kita sulit menjawab dengan jujur kamu siapa? itu.

Kami pernah pergi ke pantai di Jawa Tengah, suatu hari, sekian tahun lalu. Aku berdiri di tengah elusan deru ombak, pasir basah di antara jemariku, asin udara di hidungku. Kutatap matahari yang kian meleleh, merangkak turun ke tempat istirahatnya di ufuk Barat. Dan kurasakan, dengan kedalaman dan keyakinan yang amat sangat: aku begitu menyayangi ini semua.

Kurasa diriku terdefinisi dalam keping-keping mungil seperti ini. Tiap keping punya artinya. Aku belum menemukan tiap keping, dan aku tidak akan pernah bisa mengumpulkan semuanya. Tapi pada intinya, aku perlu memegang semua keping ini, mencintai dan memaknai. Aku perlu mengakui bahwa aku adalah keping-keping ini, atau keping-keping itu adalah aku, atau bahwa dunia adalah keping-keping adalah aku adalah semua. Mungkin kalau aku sudah mengakui, dengan penuh dan jujur, aku akan menemukan aku.