AES508 Ketidak Mengertian Itu Terlalu Banyak Pengetahuan
leoamurist
Wednesday March 26 2025, 4:15 PM
AES508 Ketidak Mengertian Itu Terlalu Banyak Pengetahuan

Seorang pemanah telah melepaskan tahanan pada busurnya, anak panah melesat menuju sasaran yang diinginkan. Meleset! Lalu marah dan menuntut, marah kepada angin dan menuntut pepohonan. Katanya angin tidak boleh berembus saat anak panah itu melaju dan pohon (kese)harusnya(an) memberikan jalur bebas hambatan bagi kelajuan anak panah itu.

Meletakkan busur dan sisa anak panahnya ke tanah, pemanah itu menggerutu dengan keras kepada langit. Tuntutannya adalah intensi pemanah yang kuat dan fokus yang jelas (kese)harusnya(an) didukung oleh spirit langit, seperti intensi dan fokus dirinya yang sudah kuat dan jelas. Keinginannya adalah teknik yang benar yaitu menarik panah dari angkatan tangan yang diturunkan dengan napas tenang, walaupun tidak diterapkannya (kese)harusnya(an) tetap dibenarkan bumi karena ia sudah memiliki pengetahuannya.

Ketidak mengertian itu terlalu banyak pengetahuan, memang. Sehingga langit dituntut oleh keseharusnyaan dan bumi ditekuk oleh keseharusnyaan, keseharusnyaan-nya yang seharusnya untuknya saja bukan untuk langit dan bumi. Keseharusnyaan-nya itulah yang perlu menuntut dirinya sendiri menerapkan pengetahuan itu oleh tangannya sendiri, bukannya menekuk tangan milik yang lain untuk mengimplementasikan imajinya yang niscaya akan selalu salah jadinya.

Pemanah ini pun kembali ke dalam gubuk miliknya di dalam goa yang bukan miliknya, membuka-buka catatan lama milik orang-orang tua pendahulunya. Berusaha membenar-benarkan dirinya kalau ia ditakdirkan menjadi seorang pemanah, ia malah melihat selipan catatan di antara halaman. Isinya, "Semua yang tertulis di sini adalah yang tidak sanggup kami penuhi hingga tua, sehingga kami turunkan kepada pemuda yang baru tumbuh ini menjadi tujuan hidupnya. Kami boleh mati tetapi ambisi ini harus dipenuhi, walaupun tidak ada kami yang melihatnya terjadi; definisi berhasil ini harus terus dipenuhi." #korbandefinisi.

Seketika terbuka lah mata dan telinganya, ephphata! Ia segera membakar gubuk miliknya di dalam goa yang bukan miliknya itu, kemudian keluar dari goa itu dan melihat bahwa selama ini yang dilihatnya adalah bayangan. Seperti alegori goa yang diungkapkan oleh Plato. Berjalan lah dirinya ke tengah realita dan berniat untuk bertempur sebagai seorang pemahat yang lebih disukainya daripada pemanah. Seperti kata Sun Tzu "Pilihlah pertempuran yang paling layak, tidak semua pertempuran pantas diladeni."

Sampai pada suatu waktu, ia mampu memahat bulan karena akhirnya ia sudah mampu memandang bulan. Sebelumnya, ia ingin memanah bulan karena ia tidak pernah sekalipun melihat bulan. "When the sage pointing at the moon, all the monkey see is the finger." Memang, ketidak mengertian itu terlalu banyak pengetahuan.