Pilihan tidak bisa dihindarkan. Pilihan adalah bagian dari hidup, pilihan harus dipilih sebelum telat. setiap pilihan pasti ada konsekuensi, konsekuensi yang harus dijalankan ketika pilihan dipilih. Pilihanku sekarang adalah antara di Smipa sekolahnya, atau HS (Home Schooling). "Smipa atau HS, pilih yang mana ?" aku berkata begitu terus di dalam kepalaku. semacam pilihan yang akan berpengaruh di masa depan. Aku ingin di Smipa karena sekolah ini lebih baik daripada sekolah lain (menurutku). Tapi masalahnya adalah Aba (panggilan untuk ayahku), ingin kembali kerja di area JaBoDeTaBek (Jakarta Bogor Depok Tanggerang Bekasi). Saudaraku ingin juga ke Jogja dan belajar bertani di Bumi Langit. Aku menghadapi masalah sulit, tidak memungkinkan sekolah di Smipa (kecuali kalau aku boleh online terus selamanya dari Bekasi), tapi aku tidak mau meninggalkan teman2-ku di Smipa. Aku mau memilih HS, karena aku ingin belajar lebih banyak dan mendapat lebih banyak teman. Aku juga takut kalau aku HS, aku akan kehilangan banyak teman. kalau aku HS, Bubu (panggilan untuk ibuku) dan aku akan berkunjung ke SALAM di Jogjakarta. Kalau di Smipa aku takut kalau aku tidak akan bisa kuat tahan disini, karena aku ingin les panahan, les berenang, les piano, dll. Aku juga ingin HS karena aku akan lebih leluasa dalam soal les, dan lebih leluasa soal waktu. Saudara aku ingin punya peternakan atau kebun sendiri. Bubu dan Aba, ingin tinggal di desa. Aku harus memilih sebelum Januari, jika ingin di Smipa aku harus lebih cepat dalam mengerjakan tantangan dari semua les2 aku dan sekolah. Sementara kalau ke HS, aku harus bersiap untuk menghadapi masa depan yang menungguku.
Semangat Obiet