AES 001 Home Sweet Loan (2024)
Pia Gabriella
Tuesday October 8 2024, 12:05 PM
AES 001 Home Sweet Loan (2024)

Sebenarnya hari itu iseng ke Bioskop dan random pilih film Home Sweet Loan (2024) dan ternyata bagus banget film nya. Tidak cuma jalan cerita dan endingnya yang lebih masuk akal, karakternya yang pas dan tidak berlebihan dari sisi make-up, kostum sampai character buildingnya. Gak lebay (haha) kayak film nkcti (sori sebut merk wkwk) yang (menurutku) terlalu mengglorifikasi gebrakan generasinya atas gerakan sadar mental health. (Do I sound like I hate them so much? haha). Sebelum lanjut, saya ingatkan dulu ya, tulisan ini mengandung spoiler, kalau mau nonton dulu kembali lagi ke blog ini saat sudah keluar bioskop ya, biar kita bisa diskusi hehe.

Yang membuat menarik dari film ini untuk saya pribadi, salah satunya adalah bagaimana satu keluarga ini yang terdiri dari 3 generasi tinggal di sebuah rumah di Jakarta (asumsi saya sekitaran Jakarta Selatan), dimana rumah itu digambarkan cukup besar dengan 2 lantai dan beberapa kamar tidur termasuk sevice area dan kamar pembantu. Dan dijelaskan juga bahwa rumah itu sudah diturunkan dari generasi sebelumnya, mereka menyebutnya dengan rumah 'engkong'. Bayangkan, rumah yang cukup besar (cukup besar aja, tapi gak mewah juga) dengan halaman dan garasi di Jakarta Selatan, yang membuat saya bertanya apa pekerjaan 'engkong' dulunya? Sepertinya cukup mapan dan berada ya. Tapi terus yang menarik adalah bagaimana generasi selanjutnya digambarkan jelas pada film ini bahwa mereka sulit untuk punya rumah sendiri. Ada berbagai kasus dan variabel yang membuat keadaan mereka seperti itu, disebutkan anak tertuanya yang sudah berkeluarga terjebak hutang pinjol, anak keduanya yang sudah berkeluarga juga sempat kena 'tipu' karena apartemen yang dijanjikan gagal dibangun dan si adik paling kecil akhirnya harus menanggung banyak hal secara finansial untuk keluarga besar ini.

Mungkin untuk sebagian orang film ini sebatas penceritaan tentang perjuangan sandwich generation yang tetap harus membiayai keluarga dan sambil juga mengejar mimpinya sendiri. Tapi bila kita lihat lagi, karakter si kakak pertama dan kedua ini tidak terihat seperti Gen Z (yang sering dgambarkan sebagai generasi yang lembek /strawberry generation), karakter mereka di buat terlihat pada rentang umur 30 - 40 tahun. Yang membuat saya berpikir "label" generasi at some point hanya menggeneralisir perilaku orang-orang sesuai masa lahirnya. Film ini sesungguhnya membuat saya berpikir lagi bahwa yang membentuk sikap mental anak adalah warisan/ legacy berupa nilai-nilai kehidupan yang diberikan orang tua pada anak-anaknya. Dan semua variabel lain seperti perkembangan ekonomi, perkembangan teknologi dan lainnya hanya tantangan-tantangan di masanya masing-masing yang harus dihadapi. Peran orang tua ternyata lebih besar dari sekedar mewariskan asset atau harta tetapi juga warisan sikap juang, sikap adaptif, prinsip hidup dan pastinya banyak lagi, sesuai dengan value yang di pegang masing-masing keluarga agar anak nantinya akan bisa menghadapi tantangan mereka di zamannya masing-masing.

Tulisan ini tentu hanya membahas sebagian kecil dari penceritaan film Home Sweet Loan aja, dan mungkin masih banyak lagi point of view lain yang bisa di lihat dari penonton lain. Kalau sudah nonton juga, silahkan share your thoughts ya :)

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Waaw, gebrakan ini esai pecah telor dari Pia yang langsung jleb ke hal yang jadi perhatian kami di Smipa saat ini. Terima kasih insightnya, filem ini jadi menarik dilihat juga. Nuhuun. Semoga jadi pemicu untuk tulisan berikutnya. πŸ™πŸΌπŸ˜ŠπŸ‘πŸΌ