Pas sampe di rumah sore ini, menemukan foto wisudaku yang pecah kacanya di atas meja, mau marah? Trus, jadi inget juga pernah ngalamin handphone pecah layarnya gara-gara jatuh dari saku kemeja sendiri pas lagi ngajul pohon kersen. Atau cangkir kopi kesayangan gak sengaja pecah pas lagi dicuci. Termos kesayangan jatuh dan pecah sama anaknya teman. Atau ketika masalah rumah tangga muncul dan harus berakhir kembali pada keluarga masing-masing. Marah, apa enggak?
Marah, bagi saya pribadi adalah sebuah hal yang lumrah dan alamiah. Kenapa lumrah dan alamiah, karena dalam pandangan saya saat ini, setiap hal yang terjadi selalu diiringi sebuah alasan, apa pun itu alasannya. Kata ‘marah’ di masa saya kecil dulu, memiliki konotasi yang negatif. Ketika mendengar ibu saya berkata, “beresin mainannya, nanti papa marah!” seketika tubuh saya terasa seperti menciut, jantung berdebar lebih kencang dan terasa mencekam. Yang tergambarkan dari kalimat ‘papa marah’ adalah papa saya yang berkumis baplang akan bertindak seperti ibunya Nobita di film Doraemon yang akan membentak dan menjitak anaknya. Padahal, marahnya papa saya tidak begitu.
Saat remaja, si ‘marah’ itu telah berubah bentuk gambarnya. Marah yang ini lebih memicu jantung tapi ada rasa ‘penasaran’. Ulang tahun setiap tahun, dan setiap tahun juga si ‘marah’ itu bertransformasi. Di kemudian hari marah juga menciptakan ruang kosong dimana saya sendirian di sana bersama dinding-dinding yang terasa akan menghimpit. Hingga tiba pada suatu tempat dimana si ‘marah’ tak berbentuk, saya tau saya marah, tapi hal itu membuat saya bingung. Yang membingungkan adalah pertanyaan saya terhadap diri saya sendiri, “Apakah saya harus marah? Ada banyak pilihan rasa lain, kok!” Dan saya memilih untuk mengabaikan itu, tidak ‘marah’ dan tidak juga ‘tidak marah’. Berharap akan hilang tersapu angin naik ke langit dan nyangkut di awan kumulus dan terbuang ke tempat jauh bersama hujan dari kumulonimbus.
Kenyataannya, rasa marah itu nyangkut di setiap kali saya berkedip dan sendirian atau ketika hendak terlelap tidur, maka saya akan langsung terbangun dengan jantung yang berdegup kencang.
Singkatnya, ada sebuah ‘God’s Way’. Saya menemukan sebuah buku berjudul “Hemat Emosi” yang ditulis oleh Prof. DR. Daldiyono. Buku ini sebetulnya milik ibu saya, jadi saya pinjam tapi belum bilang sih, tapi boleh kok (hehehe).
Ini buku apaan sih, covernya kuning dan gambar ilustrasinya emoticon smile. Terlintasnya pasti ini buku motivasi yang diperuntukan para pegawai atau staf kantor supaya tetap giat bekerja. Ternyata isi buku ini memaparkan bagaimana otak kita bekerja terhadap emosi yang diterima dan dimunculkan. Sampai detik ini, adalah kali ke lima saya baca bukunya, tapi masih belum sepenuhnya paham atau bisa hafal bahwa marah itu salah satu bentuk emosi yang juga merupakan respon diri terhadap aksi dari luar diri, yang bisa saja merupakan bentuk pertahanan diri, yang juga berhubungan dengan penginderaan yang berlanjut ke pengolahan oleh otak dan perintah otak terhadap hormon-hormon yang juga berpengaruh pada organ tubuh lainnya yang bahkan juga dapat memunculkan ciri fisik dari orang yang marah, hingga dalam jangka panjang bisa berakibat menimbulkan penyakit-penyakit fisik.
Yang juga menempel pada fikiran saya dari buku ini adalah marah memiliki bentuk-bentuk atau macamnya, yang berhubungan juga dengan tipe pribadi seseorang (secara psikologis). Sehingga si ‘marah’ itu beragam pengelolaan, pemunculan dan akibatnya. Marah, yang merupakan salah satu bentuk emosi, juga diproses oleh otak kita pada bagian sistem limbik yang disebut otak emosi. Jadi, apa marah itu boleh? Tentu boleh! Tapi harus dengan alasan, cara dan orang yang sesuai. Terus, kalo merespon dengan ‘gak marah’ ? Endapakan saja dulu! (endapkan versi saya = tidur, makan, jalan pagi, nyanyi, nulis diary, berenang gaya punggung).