Untuk yang sudah belajar atau sudah pernah belajar mengenai system thinking biasanya sih akan familiar dengan gambaran gunung es. Puncak dari gunung es adalah fenomena atau penampakan, di bawahnya yang sedikit kelihatan adalah pola yang seringkali berulang, di bawahnya lagi yang gak kelihatan karena di bawah permukaan air adalah struktur, dan yang paling dasar adalah paradigma atau model mental.
Ya, komunikasi hanya fenomena. Secara berpikir sistem, bukan ini yang perlu dibenahi. Karena membenahi komunikasi hanya seperti melarang anak kecil makan permen, lebih tepatnya seperti melarang anak kecil yang sudah memegang permen itu agar tidak memakannya. Kalau sudah sadar percuma, maksudnya tidak efisien dan hanya melelahkan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Kenapa masih tetap memaksa melakukan pembetulan fenomena ini? Mungkin seperti kata Soe Hok Gie, “…yang sudah tidak tahu perlu melakukan apa lagi.”
Pola komunikasi inilah yang perlu ditemukan. Apakah alfa yang menenangkan dan mendamaikan, juga solutif dan suportif? Apakah pola dominan yang memenangkan dan mendiamkan yang tidak segambaran, bahkan yang segambaran pun berusaha dikalahkan? Apakah pola beta yang iya-iya katanya nanti-nanti nyatanya lalu tidak jadi dan selalu kembali memetik pembelajaran, seperti belajar melulu implementasi tidak? Ataukah pola sigma yang diam tenang dan hadir dengan penawaran, kalau diterima lanjut kalau ditolak mundur untuk merevisi penawaran dan maju lagi kemudian?
Lebih dalam dari pola ada struktur, yang membuat pola tersebut berulang. Semacam jalur aliran. Menemukan struktur salah satunya bisa dengan menjawab pertanyaan berikut secara berurut. Apa hal besar ataupun kecil yang megah ataupun remeh, yang paling menakutkanmu? Apa rasa bersalah baik itu dari kenangan atau pengetahuan, yang masih kamu bawa sampai sekarang? Apa hal yang membuatmu merasa malu, rendah diri, tak berharga, tak berdaya? Apa hal yang membuatmu merasa sedih, duka, kehilangan? Apa kebohongan yang selalu kau katakan kepada dirimu sendiri, kepada orang lain, terutama kepada dirimu sendiri melalui berkata kepada orang lain? Apa yang membuatmu begitu arogan atau angkuh sehingga merasa terpisah, berbeda, memisah, membedakan diri dengan orang lain? Apa yang menjadi kemelekatanmu di dunia ini baik itu hal kecil atau besar baik itu hal abstrak atau riil?
Lalu yang ada pada dasarnya adalah paradigma atau model mental. Model partisipatif atau model kontributif? Yang berpartisipasi selalu berkontribusi. Yang kontributif belum tentu berpartisipasi. Menyelesaikan persoalan komunikasi, bahkan permasalahan komunikasi perlu menyelam sampai di sini, dengan metoda free diving. Sekuatnya semampunya badan, tidak bergantung pada pakaian dan tabung udara bertekanan. Kunci ada di partisipasi, part of us. Kalau tidak merasa bagian dari kita yang di sini, bisa jadi adalah bagian dari kita yang di sana. Kalau begitu, ke sana lah. Kalau di sini, ya begini. Sebenarnya ada lagi sih model mental yang bisa didekati, mentalitas selektif atau mentalitas adaptif.
Lalu kembali lagi ke paragraf ketiga, karena setelah membaca tulisan ini jelas lahir pendapat dan komentar. Nah polanya yang mana? Alfa yang have something to say. Atau dominan, yang have to say something.