Aku, seseorang yang sangat sulit berteman, oh bukan sekedar berteman tapi lebih dekat dengan orang lain. Butuh waktu bertahun-tahun untukku bisa berteman dekat dengan seseorang. Hampir lima tahun, dan tidak ada teman dekat baru dalam hidupku, mungkin belum.
Teman dekat yang kumiliki sekarang adalah teman-teman masa kuliah yang sudah kukenal bertahun-tahun, ingin rasanya aku mencari apa sebenarnya alasan kenapa aku sangat sulit untuk dekat dengan orang lain. Aku selalu terbuka untuk berkenalan dengan siapapun, hanya untuk berbagi cerita sepertinya sangat sulit, terlalu sulit untuk percaya bahwa orang itu dapat menjaga ceritaku dengan baik dan mengerti maksud penceritaanku.
Karena hal itu, aku sangat mensyukuri keberadaan teman-teman terdekatku saat ini, mereka adalah orang yang selalu bisa jadi tong sampahku, sekedar bercerita bahwa hari ini aku sakit kepala. Kadang aku bercerita bukan untuk meminta saran, hanya menyampaikannya saja agar menjadi lebih lega.
Belakangan aku menyadari, bahwa mungkin selama ini aku kurang menghargai keberadaan teman-temanku ini, aku selalu berpikir bahwa mereka akan mengerti dan tidak sakit dengan dengan apapun yang aku katakan karena sudah mengenalku lama. Padahal setiap orang punya masalahnya sendiri, perkataan yang salah diwaktu yang tidak tepat mungkin kadang menyakiti hati mereka. Terkadang setelah bertemu dengan mereka, aku merenungkan ‘apakah yang tadi ku katakan sudah benar?’, ‘apakah aku menyinggung perasaan mereka?’, atau ‘apakah mereka tahu bahwa maksudku tidak buruk?’.
Katanya semakin tua kita, semakin sedikit teman yang kita miliki. Teman-temanku sekarang sudah sedikit, semoga tidak berkurang lagi. Tidak apa-apa tidak bertambah tapi jangan berkurang.
Temanku, maafkanlah bila sebelumnya aku tidak mensyukuri keberadaan kalian,
Temanku, maafkanlah bila selama ini terkadang aku menyakiti hati kalian,
Temanku, ketahuilah bahwa aku selalu ada untuk kalian, datanglah padaku saat kalian butuh sesuatu.
Temanku, jangan pikir aku hanya ingin mendengar kisah bahagia kalian, aku juga mau berbagi kisah pilu yang sedang kau pikul,
Temanku, mari terus melakukan hal bodoh, agar kita bisa terus menertawakan kisah kita,
Temanku, terimakasih karena sudah mau menjadi temanku.
Photo by Kimson Doan on Unsplash