To Build The World Anew
Rico
Monday June 13 2022, 10:22 PM
To Build The World Anew

Pada tanggal 30 September 1960, Presiden pertama Republik Indonesia; Soekarno, berdiri di depan sidang umum PBB, di depan para pemimpin negara-negara dunia, dan memberikan sebuah pidato yang menggeparkan dunia. Kumpulan kata kata dibawah ini pasti akan menyalakan kobaran api di hati kita, membuat kita mengingat kembali, mengapa kita harus bangga menjadi warga negara Indonesia. Pidato ini memang adalah pidato yang sangat panjang, kutipan di bawah sini pun belum menunjukkan pidato ini dalam keseluruhan. Walaupun panjang, saya tidak bisa berhenti membacanya, dan terkagum kagum atas kebijakan dan kecakapan dari kata-katanya. Silahkan dibaca dan diresapi.

Mengambil kembali peranan sebagai pemimpin dan membawa dunia ini menuju kesejahteraan seluruh umat manusia . Pandanglah dunia yang lebih luas, tebarkan cakrawala yang jauh menjangkau ufuk membawa bangsa ini maju kedepan membawa bangsa2 dunia membangun kembali dunia baru, dunia yang lebih sejahtera, dunia yang lebih mengedepankan manusia dan peradaban manusia.

Tuan Ketua, Para Yang Mulia, Para Utusan dan Wakil yang terhormat,

Hari ini, dalam mengucapkan pidato kepada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, saya merasa tertekan oleh suatu rasa tanggung-jawab yang besar. Saya merasa kecil hati berbicara dihadapan rapat agung negarawan-negarawan yang bijaksana dan berpengalaman dari timur dan barat, dari utara dan dari selatan, dan dari bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali dari tidur yang lama. 

Saya telah memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar lidah saya dapat menemukan kata-kata yang tepat, semoga kata-kata ini bergema dalam hati sanubari yang mendengarnya. Kitab Suci Islam, Al Qur’an berkata: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian mengenal satu sama lain. Yang lebih mulia diantara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu”. Dan juga Kitab Injil agama Nasrani, berkata “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang Maha Tinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya”.

Saya sungguh merasa sangat terharu, Disinilah bukti kebenaran perjuangan panjang yang bergenerasi. Disinilah bukti pengorbanan dan penderitaan telah mencapai tujuannya.Disinilah bukti keadilan mulai berlaku, dan kejahatan besar sudah dapat disingkirkan. Hati saya kegirangan yang besar dan hebat.Tampak jelas dimata saya menyingsingnya hari yang baru, matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika.

Sekarang, hari ini, saja berbicara dihadapan para pemimpin bangsa-bangsa dan para pembangun bangsa-bangsa. Namun, saya juga berbicara kepada mereka yang telah mengutus Tuan-tuan kemari, kepada mereka yang telah mempercayakan hari depan mereka ditangan Tuan-tuan. Saya ingin agar kata-kata saya akan bergema dihati mereka itu, didalam hati nurani ummat manusia, didalam hati sebahagian besar manusia dalam teriakan kegembiraan, karena demikian banyák jeritan penderitaan dan putus-harapan, dan demikian banyak cinta-kasih dan derita.

Hari ini presiden Soekarno-lah yang berbicara dihadapan tuan-tuan.Ia adalah seorang manusia, Soekarno, seorang Indonesia, seorang suami, seorang Bapak,seorang anggauta keluarga ummat manusia. Saya berbicara kepada Tuan-tuan atas nama rakyat saya, mereka yang 92 juta jiwa yang telah mengalami hidup penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, 92 juta jiwa yang telah membangun Negara diatas reruntuhan Imperium. 

Sekarang ini, Mereka itu, dan rakyat Asia dan Afrika, rakyat-rakyat benua Amerika dan benua Eropa serta rakyat benua Australia, sedang memperhatikan mendengarkan serta mengharapkan. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini merupakan harapan masa-depan memperbaiki kehidupan zaman sekarang ini

Keputusan menghadiri Sidang Majelis Umum ini bukanlah keputusan yang mudah bagi saya. Bangsa saya sendiri menghadapi banyak masalah, sedang memecahkan masalah itu sangat terbatas waktunya. Tetapi sidang ini adalah sidang Majelis yang terpenting yang pernah dilangsungkan dan kita semua mempunyai tanggung-jawab kepada dunia, disamping kepada bangsa kita masing-masing.

Tak seorangpun diantara kita dapat menghindari tanggungjawab itu, dan pasti tak seorangpun ingin menghindarinya. Saya sangat yakin bahwa pemimpin-pemimpin dari negara-negara yang lebih muda dan negara-negara yang lahir kembali dapat memberikan sumbangannya yang sangat positif untuk memecahkan demikian banyak masalah yang dihadapi Organisasi ini dan dunia pada umumnya. Memang, saya percaya bahwa orang akan mengatakan bahwa: “Dunia yang baru itu diminta untuk memperbaiki keseimbangan dunia yang lama”.

Dewasa ini segala masalah dunia kita saling berhubungan saling bersangkut-paut. Jika kita pada akhirnya berhasil memecahkan satu masalah, maka terbukalah jalan untuk penyelesaian masalah-masalah lainnya. Jika kita berhasil memecahkan masalah perlucutan senjata, maka akan tersedia dana-dana yang diperlukan untuk membantu bangsa-bangsa yang sangat memerlukan bantuan itu.

Akan tetapi, yang sangat diperlukan sekarang ini adalah, Semua itu harus dipecahkan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang telah disepakati bersama. Apabila setiap usaha untuk memecahkannya dengan menggunakan kekerasan, atau dengan ancaman kekerasan, atau dengan kekuasaan, tentu akan gagal bahkan akan mengakibatkan masalah-masalah yang lebih buruk lagi. Yang dimaksud adalah, prinsip prinsip persamaan kedaulatan bagi semua bangsa, hal ini merupakan penerapan hak-hak azasi manusia. dan hak-hak azasi nasional. Harus ada: satu dasar pegangan, dan semua bangsa harus menerima dasar pegangan itu, demi perlindungan dirinya dan demi keselamatan umat manusia.

Kami dari Indonesia menaruh perhatian yang khusus sekali atas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami sangat menginginkan agar Organisasi ini berkembang dan berhasil baik. Karena atas bantuan PBB lah perjuangan kehidupan nasional kami terwujud dengan lebih cepat. dan telah mencegah banyak pengorbanan dan penderitaan serta kehancuran, baik dipihak kami maupun dipihak lawan-lawan kami.

Tetapi walau bagaimanapun juga saya percaya, bahwa perjuangan kami akan berhasil baik, dengan atau tanpa Perserikatan Bangsa-Bangsa? Saya yakin akan hal itu kerena dua sebab. Pertama, saya mengenal rakyat saya, saya mengetahui kehausan mereka yang tak terhingga akan kemerdekaan nasional, dan saya mengetahui akan tekadnya. Kedua, saya yakin akan hal itu karena keniscayaan jalannya sejarah.

Kita hidup di zaman pembangunan bangsa bangsa, Proses ini tidak dapat dielakkan dan merupakan kepastian; kadang-kadang lambat, cepat dan tak terelakkan, bagaikan lahar menuruni lereng gunung-api, kemenangan perjuangan nasional adalah suatu kepastian adalah keniscayaan jalannya sejarah.

Bila perjalanan menuju kebebasan itu sudah selesai diseluruh dunia, maka dunia kita akan menjadi suatu tempat yang lebih baik; tempat yang lebih bersih dan jauh lebih sehat. Kita tidak boleh berhenti berjuang pada saat ini, manakala kemenangan telah menampakkan diri, justru kita harus melipat-gandakan usaha kita. Tidak hanya berjuang untuk kepentingan kita sendiri, melainkan kita berjuang untuk kepentingan ummat menusia seluruhnya kini maupun nanti.

Silahkan melihat disekeliling Majelis ini sekarang! Dan katakanlah apakah saya benar, bila saya berkata bahwa kini saatnya pembangunan bangsa, dan saat bangkitnya bangsa-bangsa. Kemarin Asia, dan itu merupakan suatu proses yang belum selesai. Kini Afrika, itupun merupakan suatu proses ya, belum selesai.

Tetapi sayang, belum semua bangsa-bangsa Asia dan Afrika diwakili disini. Organisasi bangsa-bangsa ini telah dilemahkan selama masih menolak perwakilan satu bangsa yang berdaulat, bangsa bangsa yang besar, bangsa agung dan kuat dalam arti kwantitet, kebudayaan, ciri-ciri suatu peradaban kuno, suatu bangsa yang penuh dengan kekuatan dan daya ekonomi, dengan mengecualikan atau mendiskriminasi bangsa itu maka akan melemahkan Organisasi internasional ini, dan dengan demikian, akan menjauhkannya dari kebutuhan dan cita-cita kita.

Ditahun 1960 ini, Majelis Umum kembali berkumpul dalam sidang tahunannya. Namum Majelis Umum ini janganlah hanya dianggap sebagi suatu sidang routine biasa, dan bila dianggap hanya sebagai sidang routine, maka kemungkinan besar Organisasi intemasional  ini akan terancam dengan kehancuran. 

Camkanlah kata-kata saya, Gunakanlah Organisasi ini yang mampu memberi harapan ‘masa-depan, dengan kesepahaman internasional, apabila tak ada kesepahaman, maka mungkin kita akan lenyap perlahan-lahan dibawah gelombang pertikaian, sebagimana dialami organisasi yang digantikannya.

Bila hal ini terjadi, maka ummat manusia akan menderita, dan impian yang agung, dan cita-cita yang agung, akan hancur. Ingat yang Tuan tuan hadapi, bukan hanya Tuan-tuan. bukan pion-pion diatas papan catur . Tetapi Yang Tuan-tuan hadapi adalah manusia, impian-impian manusia, cita-cita manusia dan hari-depan semua manusia.

Sungguh kami bangsa bangsa yang baru merdeka bermaksud berjuang untuk kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami bermaksud memperjuangkan supaya sukses dan menjadikannya effektif. Badan ini effektif, hanya bila mengikuti keniscayaan jalannya sejarah, serta tidak berusaha mencoba membendung, menghalangi ataupun menghambatnya.

Sekaranglah saatnya pembangunan bangsa-bangsa dan runtuhnya imperium-imperium. Itulah kebenaran yang sesungguhnya. Sudah berapa banyak bangsa-bangsa yang telah memperoleh kemerdekaannya sejak terciptanya Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa? Berapa banyak bangsa-bangsa telah melemparkan rantai penindasan yang membelenggunya? Berapa banyak imperium-imperium yang dibangun diatas penindasan manusia telah hacur-lebur? Kami yang tadinya tiada bersuara, tidak membisu lagi. Kami yang tadinya membisu dialam kesengsaraan imperalisme tidak membisu lagi. Kami yang perjuangan hidupnya tertutup dibawah selubung kolonialisme, tidak tersembunyikan lagi.

Sejak hari bersejarah ditahun 1945, dunia telah berobah, dan berobah kearah perbaikan. Di zaman pembangunan bangsa-bangsa , kini telah muncul suatu keharusan, yaitu Dunia yang bebas dari ketakutan, Dunia yang bebas dari kekurangan, Dunia yang bebas dari penindasan nasional. Dunia yang bebas dari penindasan manusia atas manusia.

Kini, sekarang ini juga, di Majelis Umum PBB ini, kita mempersiapkan diri untuk menempatkan diri, didunia masa-depan itu, dunia yang telah kita pikirkan dan impikan serta bayangkan. 

You May Also Like