AES042 Sajak Sampiung
Rizalk47
Thursday April 17 2025, 11:06 PM
AES042 Sajak Sampiung

(dokumentasi pribadi)

Hari ini adalah hari terakhir saya magang di kelompok Sampiung. Wajah-wajah mereka yang hangat, gelak tawa di sela pembelajaran, dan bincang-bincang ringan mewarnai hari-hari saya selama dua minggu terakhir. Dalam proses magang ini, saya tidak merasa menjadi "guru", melainkan sebagai pembelajar yang mengajar—sebuah upaya menuntut ilmu yang tak terbatas, di sudut Jalan Sukamulya.

Di sudut jalan ini, saya banyak belajar. Dan dua minggu bersama teman-teman Sampiung telah memberi saya pelajaran yang sangat berharga. Saya belajar bagaimana cara mengajar yang tepat, bagaimana meningkatkan kepekaan terhadap teman-teman, serta bagaimana memfasilitasi keingintahuan mereka terhadap ilmu pengetahuan. Dulu saya berpikir bahwa menjadi pengajar berarti harus menjelaskan semuanya sampai ke akar-akarnya. Tapi ternyata tidak demikian. Pandangan saya kini berubah: proses pembelajaran yang baik adalah ketika kita membangun kerangka materi bersama, memberikan dorongan kecil yang kemudian tumbuh menjadi semangat besar di tangan mereka.

Waktu terasa begitu cepat saat dinikmati, dan saya sangat menikmati setiap detik magang saya di Semi Palar. Banyak sekali hal yang saya dapatkan. Di kelompok Sampiung, saya membawakan dua program: materi tentang perpindahan penduduk dan percakapan dalam Bahasa Sunda.

Pada hari pertama, saya menyampaikan materi sains sosial, melanjutkan pembelajaran sebelumnya tentang dinamika kependudukan. Saya membawakan bagian mengenai perpindahan penduduk—imigrasi, ruralisasi, transmigrasi, dan sebagainya. Saya merasa teman-teman Sampiung sudah cukup memahami topik ini, sehingga peran saya lebih kepada memantik dan memperluas pemahaman. Namun, saya menyadari masih ada beberapa siswa yang kurang aktif. Mungkin itu juga menjadi refleksi bagi saya—bahwa saya perlu lebih peka terhadap dinamika kelas agar bisa merangkul semua teman-teman secara merata.

Saya melontarkan berbagai pertanyaan pemantik, dan saya sangat puas ketika diskusi itu berkembang menjadi materi tambahan yang bermakna. Setelah itu, saya mengadakan game migrasi. Masing-masing siswa saya berikan kartu tanda penduduk (simulasi), asal daerah, tujuan, serta masalah yang mereka hadapi. Mereka lalu berpindah sesuai instruksi, menghadapi situasi-situasi simulatif seperti "banjir melanda kota" dan harus mengambil keputusan. Antusiasme mereka luar biasa. Saya berharap dengan permainan ini, mereka bisa merasakan langsung konsep perpindahan penduduk, meskipun dalam ruang kelas.

Hari berikutnya, saya diberi kesempatan mengajarkan percakapan Bahasa Sunda, khususnya Bahasa Sunda halus. Di awal, saya tanyakan mengapa kita harus menggunakan Bahasa Sunda, dan jawaban mereka sangat relevan, seperti "untuk melestarikan bahasa Sunda." Saya menuliskan percakapan di papan tulis dan mereka menyalinnya di buku proyek masing-masing. Kami lanjut dengan role-play. Saya menjadi penjaga warung—ide dari mereka sendiri—dan mereka menjadi pembeli. Saya sangat menikmati momen itu, bisa menyalurkan passion dalam berakting menjadi bagian dari proses belajar. Setelah simulasi, mereka membuat dan menampilkan percakapan sendiri. Bahasa yang mereka gunakan masih tercampur antara Sunda loma dan halus, tapi saya tidak mengejar kesempurnaan. Saya justru sangat mengapresiasi kejujuran dan keberanian mereka tampil apa adanya.

Dua hari itu berlalu begitu menyenangkan dan memuaskan. Ketika hari terakhir magang tiba, semua kenangan melintas seperti proyeksi yang diputar di dalam kepala. Saya jadi sedikit melankolis. Saat mereka diberikan kata-kata pelepasan oleh Koordinator Umum karena hendak berangkat nyaba lembur, saya pun diberi ruang oleh teman-teman kelas 7 untuk menyampaikan kata-kata perpisahan. Salah satu kesan yang paling saya ingat adalah dari satu siswa yang berkata, “Akting Kak Rizal lebih bagus dari aktor-aktor Thailand.” Terima kasih, itu sangat berharga dan sentimental bagi saya—seperti air yang menjaga bibit-bibit mimpi saya tetap hidup.

Sebagai penutup, saya membacakan sebuah sajak berjudul “Sajak Sampiung”:

Sajak Sampiung

Ngahaturkeun séwu nuhun anu kasuhun
Nyuprih élmu pangaweruh
Ngajén diri anu rengkuh
Sangkan kasadaran diri leuwih tumuwuh
Sanajan mindeng mépéndé rurungsing jantung nu gumuruh

Sampiung
Ngigelan sagala hal anu ngabarung
Tapi tarékah tara nyerah
Ajeg dina ringkang anu nangtang
Ngagarap diri nu mindeng ngaberung mangprung

Kahaturanan ka barudak Sampiung
Ieu sajak mugia bisa jadi do’a
Lancar dina sagala urusan
Ditangtayungan berkah jeung kabagjaan

Sampiung dipirig tarawangsa
Narawang lamunan nu jauh ti mangsa
Ayeuna sadaya
Tuluy silih mikanyaah
Babantu sasama
Saraksa, samakta, sadarma

Ngahaturkeun nuhun pikeun pangaweruhna.

Cag!
Bandung, 17 April 2025