AES043 CORETAN HITAM DI BULAN MEI (TINTA YANG TUMPAH)
Rizalk47
Thursday May 29 2025, 1:08 AM
AES043 CORETAN HITAM DI BULAN MEI (TINTA YANG TUMPAH)

Unsplash.com

Apabila tinta tumpah di atas kertas, ia mungkin akan menjadi noda hitam pekat. Tapi apakah itu sebuah keburukan? Atau justru pengingat bahwa kita sedang—dan pernah—mencoba menulis? Mungkin kita bisa mengambil kertas baru dan menumpahkan tinta lagi, dan lagi, hingga lembaran-lembaran itu habis. Lalu, apa yang tersisa?

Barangkali, pada saat itu, kita akan mulai menulis di atas kulit kita sendiri. Dan jika tinta kembali tumpah, biarkan saja. Ia akan hilang oleh waktu, oleh mandi tiap pagi dan sepulang kerja. Sampai pada akhirnya, kita menyadari: kesempatan untuk membuat coretan itu mungkin adalah ilusi, tapi menulis tidak selalu butuh media. Karena ada satu jenis coretan yang tak pernah bisa dilihat siapa pun: pengalaman.

Coretan Yang Tak Nampak: Pengalaman

Pengalaman bagiku adalah coretan hitam yang tak kasat mata. Ia tidak terlihat, namun meninggalkan jejak yang dalam. Paragraf absurd di atas boleh dimaknakan sesuka pembaca, tapi bagiku, ia adalah bentuk ekspresi jujur atas keresahan—dan aku merasa lebih baik setelah menuliskannya. Aku tidak peduli apakah pesannya sampai atau tidak. Yang aku pedulikan hanyalah momen ketika jariku menari luwes di atas papan ketik, seakan tubuh dan pikiran sepakat menumpahkan isi hati yang tak pernah sempat diucapkan.

Selama empat bulan terakhir, pengalaman menjadi guruku. Aku belajar memegang diriku sendiri, terutama saat berada dalam posisi menganggur. Melihat wajah kedua orang tuaku—yang menua perlahan, rambut mereka mulai memutih—adalah ujian paling berat. Di tengah ruang hidup yang sempit dan sesak itu, aku berjuang untuk tidak menyerah.

Semi Palar: Napas Baru, Diri yang Terbentuk

Pada bulan Februari, aku mulai berproses di Semi Palar. Rasanya seperti menghirup udara segar setelah terlalu lama tenggelam. Pandanganku mulai jernih, napasku lebih lapang. Tempat ini, yang awalnya hanya kusangka sebatas kesempatan kerja, ternyata menjadi ruang transformasi batin.

Prosesku di Semi Palar telah selesai minggu lalu. Perasaanku campur aduk—antara senang, cemas, sedih, dan pasrah. Tapi di antara itu semua, satu kesadaran muncul perlahan: aku tidak hanya sedang mencari pekerjaan, aku sedang menemukan diriku sendiri.

Lingkungan di Semi Palar terbentuk dari ketertarikan yang tidak dibuat-buat, dari semesta yang mengatur pertemuan antar jiwa-jiwa yang sedang bertumbuh. Di sana, aku menemukan “aku” yang selama ini tak mampu kujelaskan. Mungkin inilah esensi dari penemuan diri—saat kita mulai tahu arah tujuan, dan merasa pantas untuk berjalan ke sana.

Tujuanku kini sederhana tapi bermakna: menjadi manusia muda dewasa yang membawa kebermanfaatan bagi sekitar. Sebagai makhluk spiritual, aku sadar bahwa batinku akan terpenuhi ketika aku melakukan kebaikan bagi sesama. Api jiwaku, meski kecil, bisa menyalakan ruang gelap dalam diriku. Musuh-musuhku—kecemasan, amarah, rasa takut—tidak lagi kutolak. Aku akan memeluk mereka. Karena berdamai adalah bentuk tertinggi dari keberanian.

Kesan yang Tak Terlupakan

Dengan bahasa paling sederhana, izinkan aku menuliskan kesanku: Warga Smipa adalah lingkungan yang selama ini kuimpikan. Kesadaran yang tumbuh tanpa paksaan, rasa ingin tahu yang begitu besar, dan ilmu yang mengalir tanpa nilai angka. Ilmu di sini begitu murah—atau bahkan tak berharga, karena terlalu bernilai untuk diukur.

Entah berapa lamunan yang menyelinap selama tiga bulan terakhir, entah berapa tetes air mata yang jatuh diam-diam, dan entah berapa senyum yang terukir tulus saat melihat para siswa. Setiap momen adalah bekas yang tak akan pudar.

Penutup: Tujuan yang Selalu Bertumbuh

Teman-teman, Ibu, Ayah, kakak-kakak Smipa, dan seluruh warga Semi Palar:
Saya bukan pengangguran lagi.
Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk diriku sendiri, yang terus berjalan walau pelan, yang tetap bernapas walau sesak.

Untuk siapa pun yang membaca ini:
Tujuan itu tidak pernah berujung.
Jika kamu telah mencapainya, carilah tujuan yang baru. Karena hidup adalah tentang menggenapi segala ketidaktahuan yang kita miliki.

You May Also Like