Hari kedua di Gambung, tersisa 2 setengah hari lagi, kegiatan kali ini berjalan cukup lama, lokasinya jauh, tetapi kegiatannya cukup menyenangkan dan dapat dilakukan dengan santai. Sebelumnya mulai kegiatan itu, saya bangun pada jam 05:00 pagi, saya memulai hari ini dengan mandi pagi, dibandingkan dengan hari sebelumnya, air mandinya bisa dibilang dingin, dibandingkan dengan hari kali ini, airnya menjadi hangat, dengan mengulik posisi keran “shower”, temperatur air berganti seketika, mengeluarkan air yang menyejukan, menenangkan badan, momen ini adalah bayarannya jika mencoba mengulik, hanya dengan mengulik sebuah benda yang sederhana, dibandingkan dengan hari sebelumnya, dimana harus pasrah dengan air dingin, air dinginnya sendiri menusuk dan membuat badan pegal. Seusai mandi saya, memulai menyiapkan semua peralatan yang akan dibawa di kegiatan pagi ini, menyiapkan sepatu, merapihkan peralatan tidur, alasannya sendiri sangat sederhana, mempermudah penempatan barang di kamar lumbung ke-2, dengan merapihkan posisi alat dan peralatan tidur, kamarnya dapat dilihat dengan enak, ditambah barang-barang pribadi dapat ditemukan dengan mudah, tindakan ini saya lakukan untuk bersiap-siap untuk hari Minggu nanti, tepat saat pulang.
Sarapan sudah ada dan dimulai, sesi sarapan bermulai di lumbung utama, tetapi sebelumnya kami berkumpul di tengah area PPM, untuk melakukan rutinitas harian, dengan waktu hening dan doa pagi sebelum melakukan kegiatan lain. Rutinitas pagi berjalan dengan cepat, saya langsung masuk ke lumbung utama, untuk duduk dan menyiapkan sarapan pagi, segelas energen, dan 2 lapis roti dengan selai cokelat di tengahnya, sebelum itu saya menambahkan “meises”, untuk penambah rasa makanan. Sarapan pagi ini saya nikmati sepenuhnya, makanan sederhana yang akan menjadi bekal kegiatan panen kopi nantinya, sebenarnya sarapan ini sangat sedikit, meski itu, saat kegiatan panen, saya bisa mengikuti sesi kegiatan tersebut, berjalan 1 jam lebih 10 menit, perjalannannya menanjak dan cukup berlumpur, tetapi saya sepenuhnya bersyukur dengan pencapaian tersebut.
Tuntasnya sarapan, kami semua pergi ke lokasi kebun kopi milik Pak Anwar, dari yang kami ketahui, kebunnya terlokasi cukup jauh, perjalanannya melalui hutan Belanda di Gambung, dengan mengambil semua peralatan yang diperlukan untuk perjalanan ini, sebuah tas kecil dilengkapi dengan “snack” dan keperluan teknis seperti buku catatan, alat tulis, peralatan kebersihan dan sebuah jas hujan. Selesai menyiapkan semua peralatan, kami semua langsung pergi, kali ini mentornya adalah adik dari pak Dayat, mentor yang kami temui pada kemarin hari di kebun teh, beliau bertugas dalam mengurus kebun milik pak Anwar, salah satu mentor yang kami temui kemarin harinya, perjalanan ini tidak hanya diikuti kelas kami dan sang mentor, tetapi terdapat 1 pengurus kebun kopi yang nantinya menemani kami di proses panen buah kopi.
Mengawali perjalanan, jalan yang diambil menuju hutan, perjalanannya tidak sepenuhnya rata atau terbuat dari aspal, melainkan jalan tanah yang berbatu, sebuah jalan yang cocok untuk digunakan mobil “offroad”, tidak untuk kaki saya, dimana selama perjalanan kaki saya jadi terasa sakit, karena bentuk dan paduan batu yang memenuhi seluruh jalan, posisinya sangat acak, kadang ada yang rata, kadang ada yang tajam mencolok ke atas, sehingga saat jalan kaki, kaki saya terbelok-belok, harus mengambil posisi langkah yang aneh dan abstrak, alhasilnya membuat kaki pegal. Perjalanan ke depannya sangat berlumpur, jalannya sangat berlumpur, membuat celana dan sepatu cukup kotor, ditambah jalannya sangat licin, untungnya selama perjalanan saya tidak terjatuh karena permukaan licin atau lumpur di jalan, ini semua dikarenakan saya mengenakan sepatu gunung, sepatu ini membantu keberlangsungan saya ke lokasi kebun kopi, berhubungan jalan yang licin atau berlumut, sempat ada beberapa anggota kelas yang lain terpeleset, dan terjatuh, sayangnya saya tidak melihat kejadian tersebut, karena posisi saya paling terbelakang dari seluruh rombongan. Tertinggal dari rombongan, kebetulannya saya terjebak di sebuah pertigaan jalan, 1 jalan menuju ke atas, 1 jalur menuju ke bawah, saat waktu ini, saya tidak sempat melihat teman-teman saya, secara otomatis saya tidak mengetahui kemana perginya seluruh rombongan, saat ini saya panik, tetapi paniknya hanya singkat, ini dikarenakan berjalannya pemikiran logis saya, mengetahui posisi kebunnya di atas, saya lanjut mengambil jalur pertama, saya ikuti jalur tersebut sampai datang ke tempat teman-teman saya berhenti menunggu saya dan kakak kelas. Sejak saya mencoba menggunakan pemikiran logis, saya dapat mengetahui jalur apa yang perlu diambil, pemikiran logis ini jarang kali muncul, tetapi dengan memaksakan diri, saya berhasil mengetahui jalur apa yang benar dan tidak menyesatkan, berbeda dengan kakak kelas saya yang tersesat mengambil jalan kedua.
Perjalanan panjang dan melelahkan saya berakhir di sebuah saung di tengah-tengah kebun kopi, saat itu kami mencoba menunggu pengurus kebun kopi makan terlebih dahulu, saat itu saya menyaksikan kakak kelas saya yang baru meminta minum dari pemilik saung tersebut, penyebabnya sendiri karena ia tidak membawa minum, terpaksa, jadinya harus meminta minum ditambahkan bagian sebuah basa-basi. Melihat ini, saya bersyukur saya sudah membawa minum sendiri, sehingga tidak perlu atau mengalami kejadian “awkward” atau memalukan seperti itu. Untuk sisa kegiatan di kebun, kami semua mulai panen buah kopi, proses panen dilakukan di satu barisan pohon kopi, sayangnya karena saya tidak mengetahui hal itu, saya terpaksa mengambil pohon dengan ceri matang terbanyak, mengikuti pohon kopinya, saya berakhir di posisi barisan kebun kopi paling tinggi. Dengan tidak mengikuti instruksi atau tidak fokus, saya berakhir di lokasi barisan kebun tertinggi yang membahayakan, untungnya saya dapat melanjutkan kegiatan panen kopi, untuk sisanya saya kembali turun di barisan pohon kopi paling depan, membantu teman-teman saya panen kopi. Di akhir kegiatan kopi yang didapatkan disatukan di satu karung, saat diangkat, beratnya kira-kira mencapai 5 kg.
Kegiatan panen kopi berakhir disitu saja, diakhiri dengan pulang ke PPM, dan dilanjut dengan jam istirahat sementara. Kegiatan untuk hari ini sudah mau berakhir, hanya menyisakan kegiatan gladiresik “workshop kertas”, dengan singkat kami semua mempersiapkan alat-alat dan “script”, untuk jalan kegiatan pada esok hari, tanggal 28 Mei 2022 pada hari Sabtu. Kegiatan gladi resik sebenarnya berganti jadi proses pencetakan kertas, nantinya kertas akan digunakan untuk produk “preview”, digunakan untuk pencontohan proses pencabutan kertas.