Tepat pada hari ini, KPB kelas 10, 11 dan 12 bepergian untuk melihat beberapa museum di Bandung dalam lingkup kegiatan KPB, museum yang kami hadiri saat itu masih tutup, ternyata jam bukanya berbeda dengan info yang didapat di internet, melalui “Google”. Terjebak dengan kondisi seperti itu, kami semua bingung, ditambah museum yang satunya lagi, museum geologi Bandung masih tutup, maka karena kondisi itu, kegiatannya terhabiskan sampai jam 10:00 untuk istirahat sementara dan sesi diskusi per-kelompok, membahas lokasi yang akan dikunjungi, ditambah poin-poin yang akan dibahas dan diamati dari beberapa lokasi tersebut. Sesi istirahat, dalam waktu yang singkat, saya bersama dengan beberapa teman lainnya, pergi untuk mencari kafe untuk tempat “ngopi”, bernama Musat.
Musat adalah kafe yang sudah kami kunjungi sebelumnya bersama salah satu anggota kelas 10 dan beberapa anggota kelas 12 sendiri. Pernah kami sempat memesan minuman kopi, sempat ada yang tertukar dengan pesanannya, sehingga berdebat antara rasa pesanan kopinya, di akhir kopinya dianggap tertukar. Sampai pada tanggal 25/07/2022, kami pergi lagi ke Musat, memesan kopi yang sama, saat dicek pesanan itu adalah kopi yang tertukar, pesanannya adalah es kopi susu gula merah, warnanya cukup kecokelatan, tetapi tidak menunjukan warna merah-merah dari gula merahnya, minuman ini pernah dikira minuman yang menggunakan rum, kenyataannya satu dari teman saya berasumsi mengira es kopi gula merah adalah pesanan saya, ternyata sebaliknya. Dari momen-momen kecil itu, saya sudah berfirasat bahwa saya merasa benar dengan pilihan minuman saya, firasat ini tidak akan dirasakan oleh orang lain, kadang-kala sampai firasat orang itu bertabrakan dengan firasat saya sendiri, tetapi dengan merasa percaya diri, mengingat-ingat momen saat memesan dan menerima kopinya, rasa panik atau keraguan dapat dihiraukan, tetapi karena pihak lainnya merasa benar sendiri, saya mengambil keptusan untuk mengalah, daripada memperpanjang perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu “urgent”.
Hari ini juga tidak hanya diisi oleh kegiatan “ngafe”, melainkan pergi ke museum pos Indonesia. Museumnya sendiri berada di “basement” gedung kantor posnya, kondisi museumnya cukup mengkhawatirkan. Sekali menginjakan kaki di museum itu, saya merasa ada yang ganjil, museumnya sangat sepi, kedatangan kami disambut cukup baik, terlihat satpam dan beberapa pegawai pengurus museum bersikap cukup antusias. Masuk ke tempatnya, terlihat ada beberapa pajangan bingkai yang diisi oleh surat dan foto surat perjanjian yang dibuat oleh banyak tokoh sejarah dari era kemerdekaan Indonesia dan era kolonialisme Indonesia, bingkai-bingkai terisi oleh banyak tulisan bahasa arab, dan sansekerta, ditambah beberapa gambar, sayangnya terlihat cukup “burik”, karena kualitas cetakan surat-sura duplikatnya, ada pula yang lembab sehingga luntur. Masuk ke seksi ke-2, area museum pos, diisi oleh etalase berisi perangko dari jaman ke jaman, hampir dari seluruh dunia. Mengikuti jalannya terdapat beberapa etalase peralatan mesin ketik, kotak pos, mesin penjual perangko otomatis, atribut pos dan beberapa meja yang digunakan untuk mensortir kartu pos.
Melihat kondisi museum ini, saya merasa cukup sedih, kondisi fisik museumnya yang lapuk dan tidak terurus, lokasinya sendiri cukup kecil, terdiri dari beberapa lorong kecil dengan cat putih oranye yang mengelupas, ditambah desain “layout” benda-benda museum yang berantakan. Saat dibandingkan dengan Museum Mandala Wangsit, milik TNI, saya bingung, keduanya adalah bangunan yang diurus oleh pemerintah, museum milik TNI terlihat sangat terurus, “layout”nya yang enak dilihat, penerangan yang jelas, ditambah koleksinya teratur dari setiap perang dan peristiwa tahun ke tahun yang diikuti oleh dunia pemiliteran Indonesia. Kedua museum ini memiliki pemandu yang bersikap yang beda, satunya pemandu, (Sebenarnya tidak memandu, hanya sebatas menjelaskan sejarah singkat), pemandu di museum pos terlihat gugup, tidak terlalu memahami informasi setiap objek di museum pos, ditambah masih dibantu oleh rekan kerjanya. Saat melihat pemandu Museum Mandala Wangsit, ia bersikap sangat “confident” dan antusias untuk menjelaskan semua persitiwa dan objek yang ada di museum, ditambah ia mencoba untuk lebih interaktif dengan kami, meski kami sendiri masih merasa cukup takut untuk bertanya, karena informasi yang ada di Museum Mandala Wangsit cukup sensitif, jadinya saya sebatas bertanya terkait teknis pemasukan benda-benda untuk di museum, ditambah menanyakan persenjataan api yang digunakan dan ditampilkan di Museum, yang paling saya cukup bingung adalah penamaan senjata api yang masih banyak keliru, contohnya senapan M1 Carbine, dinamakan senapan M1 Garand, secara segi bentuk sudah berbeda, saya sudah tahu ini akan terjadi, kadang kala dunia permiliteran tidak selalu ahli dalam bidang senjata api, apalagi senjata api kuno, bisa dibilang hanya ada sebatas orang yang mengenalinya satu persatu senjata api.