AES14 Metode Design Thinking
SamBin
Friday August 13 2021, 6:04 PM

Dalam mengerjakan sebuah proyek atau dalam membuat suatu produk, idenya perlu dipikirkan dengan runut dan jelas, sehingga dapat menemukan alasan utama dibuatnya ide produk/proyek tersebut, tetapi dalam melaksanakan proyek atau ide bukanlah sebuah proses yang cepat dan mudah. Dengan metode “design thinking”, perumusan ide dapat dilakukan dengan cepat, runut dan jelas, metode ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala, tetap belum begitu banyak orang yang mengetahui namanya. Tetapi sejak ditemukannya nama dari metode dan caranya, orang-orang mulai banyak mengadopsi metode ini dan digunakan dalam banyak proyek-proyek besar, utamanya dalam membuat produk-produk inovatif yang dapat menuntaskan permasalahan keseharian, “design thinking” dari apa yang saya pelajari hari ini, dikenal sebagai nama lainnya, cara berpikir, sebuah framework.

Biasanya di dalam “desain thinking”, terdiri dari beberapa tahapan, tahapan dalam menggunakan metode ini harus berunut, dan biasanya didasarkan dari mengimajinasikan sebuah ide terlebih dahulu, dari idenya sendiri bisa menjadi sebuah pertanyaan. Dari idenya sendiri tentu harus dipertanyakan, dengan ini alasan dari idenya sendiri dapat digali lebih dalam hingga mencapai dasar dari ide proyeknya, dengan ini kita dapat menemukan motivasi dari idenya sendiri, karena tanpa menggali dalam alasan sebuah ide proyek, tidak aka nada motivasi untuk melaksanakan proyeknya sendiri sehingga nasib proyeknya hanya menjadi sebuah tugas yang dikerjakan tanpa sebuah pemaknaan tertentu.

Dari yang saya pelajari hari ini, tepat dari kelas semesta hari ini, bahwa dalam “design thinking”, memerlukan juga unsur kreatifitas, contohnya jika terdapat sebuah ide untuk membuat sebuah mobil, tetapi apa yang bisa menjadi pembeda dari mobil ini dengan mobil lainnya yang sudah diproduksi oleh perusahaan besar, maka ditariklah unsur kreatifitas. Kreatifitas adalah sebuah cara atau sebuah sifat yang dapat memberikan produk biasa menjadi luar biasa dan unik, kreatifitas bisa menjadi pembeda dan kunci untuk menuntkaskan sebuah proyek yang hambar, biasanya yang ada di unsur kreatifitas, contohnya adalah unsur apa yang dapat menuntaskan permasalahan di masa tersebut, sebuah solusi yang dapat menuntaskan suatu masalah yang dialami oleh begitu banyaknya orang-orang.

Secara singkat, dalam menggunakan metode “design thinking”, terdiri dari beberapa tahap, yang pertama “emphatize”, yaitu dengan mengenali permasalahan yang sedang dialami, ini bisa dilakukan dengan riset, wawancara ke masyarakat, selanjutnya dengan melakukan “define”, yaitu memetakan dan menetapkan permasalahan apa yang sedang dialami oleh orang-orang, ini bisa dilakukan dengan menyatukan dan menyimpulkan hasil riset yang sudah dilakukan via riset internet, atau di lapangan langsung. Dengan menyatukan semua data, kita juga dapat menyerucutkan permasalahan karena selama riset kita bisa mendapatkan berbagai varian jawaban dari publik, dilanjut dengan mengambil lingkungan yang mau dipilih untuk bahan observasi, di lingkungannya, biasanya sudah terdiri dari satu permasalahan yang paling dialaminya. Setelah proses ini, terdapat proses ideasi, dengan ini kita diperbolehkan untuk mencari dan membuat berbagai jenis solusi untuk menuntaskan permasalahannya, di proses ini, semua ide yang dilampirkan harus sebisa mungkin mempunyai banyak jenis ide, harus berhubungan dengan idenya, boleh tidak realistis, atau sedikit maniak, intinya ide apa saja yang dapat menjadi solusi permasalahan tersebut. Jika semua ide sudah dikumpulkan maka kita dapat mulai memilih idenya, dan masuk ke tahap “prototype”.

Dalam tahap ini ide sudah mulai dikembangkan menjadi sebuah prototipe, dimana ide mulai dibuat dan dijadikan eksperimen, utamanya untuk menentukan sebeberapa cocok dan realistisnya ide tersebut, sehingga bisa mendapatkan ide solusi yang paling cocok, jika ide sudah ditemukan, perlu ditambahkan unsur keunikannya, ini memerlukan sisi kreatifitas dari diri sendiri, utamanya jika idenya sudah pernah dibuat oleh orang lain. Sebuah prototipe bukanlah produk asli yang nantinya digunakan, tetapi merupakan untuk membayangkan secara “real”, bagaimana solusinya berjalan nantinya. Jika Ide prototipe sudah ditemukan dan dipilih, maka prototipe bisa dicoba di target lingkungan yang ingin dibantu, alhasil akan mendapatkan sebuah “feedback” atau masukan dan kritik dari targetnya, dengan ini produk prototipe dapat diperbaiki dan dimodifikasi sesuai keinginan targetnya.  Yang terakhir adalah menerapkan atau “implement”, dengan ini produk sudah mulai bisa dicoba dengan skala besar ke lingkungannya, tentunya ide solusinya yang diterapkan adalah ide asli dan akhir dari tahap “testing”.

Setelah semua tahap ini dilakukan, jika terdapat sebuah masalah baru lagi atau kelanjutan dari produknya, maka kita dapat melakukan proses sebelumnya, seakan sebuah rotasi yang tidak akan berakhir hingga semua permasalahan tertuntaskan. Secara kesimpulan dari hari ini, di kelas semesta “design thinking”, kebanyakan materinya sudah pernah saya pelajari, tetapi setidaknya hari ini saya bisa menghilangkan semua asumsi fungsi dari isi “design thinking”, buktinya dengan adanya kelas semesta ini, saya dapat mengingat kembali sebagaimananya metode ini berfungsi di sebuah proyek atau dalam kehidupan sendiri.

You May Also Like