"Ya Tuhan.. kemana aja kita selama ini? Kenapa kita tidak coba ini dari dulu-dulu ketika masih bebas bisa makan apa saja?" Kata saya sedikit mengomel sambil menikmati sebungkus bubur kampiun dan menghela napas panjang karena kekenyangan dan penuh rasa puas.
Seperti biasa, setiap hari Minggu adalah hari nasi Padang! Tapi hari ini agak berbeda, biasanya makan di tempat, hari ini kami memutuskan dibungkus dan dibawa pulang.
"Memang jadi agak dingin dan nasinya menyerap semua kuah, tapi kalau dibungkus nasinya jauh lebih bayak, jadi kita puas!" Kata saya hahaha.
Hari ini memang kami baru keluar rumah siang hari, sepagian kami agak bermalas-malasan, saya bahkan tidak akan membuka pintu depan jika tidak ada kurir yang mengirimkan paket dan Pak Wahyanto, tetangga yang paling aktif dan hari ini bertugas mengantar amplop untuk aksi Natal untuk semua warga kompleks. Di dapur ada setumpuk piring kotor saya biarkan saja. Hari ini sungguh saya malas sekali melakukan apa-apa. Tukang tidak ada yang masuk, besok mungkin ada beberapa yang akan bertugas mengganti saklar, stop kontak dan semua terminal listrik. Kelihatannya sederhana, tapi ada puluhan terminal, colokan, dan saklar yang harus diganti. Benda-benda itu sudah menjadi kuning warnanya, kelihatan jelek ketika semua dinding selesai dicat. Jadi mau-tidak mau saya terpaksa merogoh dompet dan membeli gantinya. Kalau satu tidak seberapa, setelah saya hitung setidak-tidaknya ada 35 unit. Mahal!
Eniwei, sejak jaman mahasiswa setiap hari minggu kami makan nasi Padang, dan tradisi ini sebisa mungkin kami pertahankan. Saya pernah cerita nasi kapau yang selalu saya datangi dari ketika mereka masih baru buka di dalam pasar Kosambi, benar-benar di dalam, kami harus blusukan. Hingga sekarang sudah punya 4 cabang! Saya hampir selalu memesan makanan yang sama, gulai ikan mas, nasi, sayur dan kalau ada, jengkol atau terong. Saya tidak pernah bosan! Sudah puluhan tahun selalu makan yang sama.
Sudah lama saya mengincar bubur kampiun. Ini jenis kudapan penutup yang seumur hidup belum pernah saya cicipi. Sore ini kami iseng memesan, toh kalau tidak habis bisa dimasukkan lemari es, pikir saya. Jadi kami pesan satu. Selesai makan malam saya buka plastik pembungkus bubur ini lalu mulai saya amati sebelum mencicipinya. Dibagian atasnya ada santan, lalu yang langsung menarik perhatian adalah ada kolak labu, bubur ketan hitam, bubur kacang dan entah apa lagi. Sangat menarik. Saya cicipi sedikit kacang hijau dan ketan hitamnya, tidak terlalu manis, lalu kolak pisang dan kolak labu, juga tidak terlalu manis, saya langsung lega. Ini akan menjadi salah satu kudapan favorit saya!
Jadi, kalau melihat yang saya nikmati sekarang, bubur kampiun itu adalah kolaborasi (hahaha.. istilahnya!) atau mungkin lebih tepat campuran dari berbagai bubur dan kolak. Yang saya nikmati itu ada kolak pisang, kolak labu, lalu ada semacam candil tapi dari ketan dan berwarna bening seperti nata de coco tapi dengan konsistensi kenyal yang berbeda, bubur kacang dan bubur ketan hitam. Rasanya luaaaar biasa! Tidak terlalu manis tapi perpaduan antara semua jenis kudapan itu menjadi satu kesatuan yang sangat memanjakan lidah, dan yang terpenting tidak terlalu manis sehingga saya tidak merasa terlalu berdosa apalagi seusai makan nasi padang yang tentunya loaded dengan kolesterol hahahaha... Sesudah selesai dan menghela napas panjang penuh kepuasan, ada sebuah rasa sesal yang sangat kuat yang saya rasakan. Bukan karena mengkonsumsi makanan tidak sehat itu, melainkan kenapa saya tidak mencobanya sejak dulu ketika saya masih boleh makan apapun tanpa ada rasa takut! Tapi ada ujar-ujar mengatakan:"Better late than never!" Jadi ya saya harus tetap bersyukur dan mungkin ada baiknya juga saya baru mencobanya sekarang, kalau dulu, saya bisa menikmatinya terus-terusan sehingga ada kemungkinan saya sekarang jadi pengidap penyakit diabetes hahahahaha...
Foto credit: masakapahariini.com