AES 1409 Pilihan
joefelus
Friday May 16 2025, 12:21 PM
AES 1409 Pilihan

Pernah mendengar kalimat yang diungkapkan oleh Edwin Markham, pujangga awal tahun 1900-an. Beliau berkata demikian: Choices are the hinges of destiny yang kalau kita terjemahkan kurang lebih artinya pilihan adalah engsel-engsel takdir. Sekilas kita dapat membayangkan apa yang sebenarnya Markham ungkapkan itu, yakni pilihan-pilihan yang kita buat mengarahkan pada takdir. Jadi bukan takdir yang ingin kita renungkan, untuk apa? kita tidak akan pernah tahu. Yang penting adalah bagaimana kita mengambil keputusan sehingga berakhir dengan sesuatu yang baik dalam hidup, yang menjadi takdir kita.

Saya tidak ingin membahas atau berdebat soal siapa yang menentukan takdir. Itu adalah masalah keyakinan kita sebab ada yang berkata bahwa takdir kita sudah ditentukan. Kita bisa berdebat tentang ini seumur hidup. Jika saya ditanya, paling mudah akan saya jawab: tidak tahu. Saya juga bisa berdalih bahwa jika memang takdir sudah ditentukan, pilihan apapun yang kita ambil akan mengarah kesana, jadi apa gunanya. Betul khan bahwa disuksi atau debat tentang takdir akan jadi panjang lebar? Jadi saya mau hindari saja dalam obrolan pagi ini.

"Mas, sudah berapa lama jualan di sini? Saya inget waktu anak saya masih kecil mas sudah ada di sini." Tanya saya pada tukang martabak asal Pekalongan.

"Ya sejak Alfamart ini beroperasi aja, Pak. Tahun 2000." Katanya.

Pertanyaan yang sama saya tayakan pada beberapa karyawan Superindo. Kebanyakan karyawan lama mengenal kami terutama Kano yang selalu datang membuka doos-doos penyimpanan Hotwheels yang belum dipajang. Apalagi Kano saat itu selalu menggunakan bahasa Inggris, jadi dia sangat dikenal.

"Ya, sejak Superindo ini buka, pak!"

Bayangkan, sudah puluhan tahun! Beberapa malam yang lalu saya pergi membeli nasi goreng di salah satu tikungan jalan. Setiap kali saya kesana, saya selalu ingat ucapan Kano. "I remember when I was grounded and couldn't choose my dinner. You went to get me nasi goreng from the street and it turned out to be the best nasi goreng I have ever had in my life." Kata Kano beberapa tahun yang lalu ketika saya menjemput dia dari tempat kerja. Nah, itu tempat nasi goreng yang saya kunjungi beberapa malam yang lalu. Percaya atau tidak, bapak yang sama masih setia memasak nasi goreng di situ!

Saya percaya bahwa segala sesuatu berubah. Manusia berubah, bahkan Heraklitus berkata bahwa semua mengalir, panta rhei! Filsuf Yunani jaman sebelum Sokrates ini berkata: No man ever steps in the same river twice, for it's not the same river and he's not the same man. Segala sesuatu mengalir, manusia berubah, kita tidak pernah sama. Yang saya perhatikan memang orang-orang yang saya kenal itu tidak sama, mereka bertambah usia, warungnya pun tidak sama walau tetap di tempat itu, tulisannya berbeda, tukang nasi goreng itu sudah ada garis-garis usia, rambutnya sudah mulai berubah warna. Mbak di supermarket itu juga tidak muda lagi, mas yang bagian restocking juga menunjukkan kematangan dari pengalaman hidup dia. Hanya satu yang sama, pekerjaan mereka. Kenapa begitu? pikir saya.

Saya tidak bisa menjawab mengapa. Itu merupakan pilihan yang mereka ambil. Ada satu atau dua yang kemungkinan menjadi alasan, pertama mungkin adalah stabilitas. Pekerjaan yang stabil, mapan itu comforting! Itu saya mengerti, apalagi jika suasana kerjanya menyenangkan. Kenapa tidak? Setiap bulan saya bisa mengharapkan penghasilan yang sama, pekerjaan walau mungkin tidak banyak berubah tapi sudah saya pahami benar, jadi tidak akan banyak yang berubah. Perubahan seringkali tidak menyenangkan, sesuatu yang rutin walau kadang membosankan tapi nyaman, menciptakan semacam comfort zone dan saya bisa dengan tenang berada di dalamnya. Mapan, stabil, itu mungkin salah satu jawaban disamping satu lagi, saya bisa melakukan sesuatu yang saya sukai, saya cintai dan good in it. Seperti tukang nasi goreng, Kano bilang makanannya enak dan dia akan makan lagi ketika nanti tiba di Bandung. Tukang nasi goreng itu kemungkinan besar menyukai pekerjaannya, dan kalau dilihat cara dia memasak, he is good in it. Dia menyukainya, sudah punya langganan, pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dia, mapan, stabil dan mungkin juga punya kebebasan serta tidak diperintah orang lain karena itu usaha dia sendiri. Kenapa tidak?

Jadi apakah pilihan itu menentukan takdir? Mungkin saja, bisa iya, bisa juga tidak, yang pasti sekarang ya begitu, nanti bagaimana? Kita tidak pernah tahu. Saya sudah membuat banyak sekali pilihan dalam hidup, karir saya berbeda-beda, berniat menjadi sesuatu berakhir dengan yang lain, semua itu diakibatkan oleh pilihan. Bagi saya akan lebih menyenangkan jika saya tidak mengetahui ujungnya seperti apa. Takdir kita bukan seperti puzzle dimana kita sudah tahu gambar apa yang nanti akan terbentuk di akhir sementara itu sekarang kita harus kerjakan hanya memutuskan untuk memulai dari sisi yang mana. Kalau hidup dan takdir seperti itu, menurut saya tidak seru, tidak asyik!

Photo credit: quotefancy.com

You May Also Like