AES427 Compassion Through Virtue
leoamurist
Friday May 10 2024, 7:57 PM
AES427 Compassion Through Virtue

Terinspirasi prinsip Caritas in Veritate yang selalu perlu dihayati (bukan dikhayali melalui definisi-definisi dialektika apalagi diskursi) dalam keseharian. Yang bahkan makan pun perlu minta bukti pembayaran dan pengeluaran seribu dua ribu untuk parkir beserta toilet pun ada catatannya.

Bahwa kasih, kebaikan, bahkan niat baik perlu melalui dan berada dalam kebenaran. Seperti saat hendak membantu; intensi, kualitas, kuantitas, bentuk, dan termasuk metodanya perlu jelas. Transparent and accountable. (Lulusan pelatihan MANGO nih 🤣)

Jadi kalau kita kelebihan ngasih ke tukang parkir, atau kebanyakan bayar ke penjual makanan, termasuk bagi-bagi makanan yang kelebihan disediakan. Itu bukan sedekah berbagi dan bukan bentuk dari kasih (charity), malahan itu bentuk dari sunk cost fallacy!

Kalau memang mau berbagi makanan; niatkan, penuhi kualitasnya, pas-kan jumlahnya, dan susun alur pembagiannya. Transparan dan akuntabel, adalah bagian dari responsibility kan response-ability. Kalau spontan itu bukan responsibilitas lagi, itu sih reaktif aja. Bukan berbagi, justifikasi aja itu.

Bahkan lebih menyebalkan lagi; kasih (caritas) itu dijadikan bentuk apologi akan ketidak mampuan diri untuk benar (veritas). Kemudian dijadikan bahan obrolan seakan-akan ini adalah materi dialektika yang penting, dan muncul wacana hendak dijadikan diskursus tersendiri. Aduuumamasayangeee.. onde mande, alamaaaak...

Okeh balik lagi, ke compassion through virtue.

Pertama-tama perlu ada passion, diri sendiri apa dan orang lain apa serta terutama komunitas ini apa; passion-nya. Passion adalah penderitaan/kesusahan/pengorbanan/konsekuensi logis yang sanggup untuk ditanggung, demi mencapai misi tertentu atas dasar harapan terwujudnya visi tertentu. Dedikasi, bukan da' dikasih.

Selanjutnya through, yang artinya melaluinya secara aktual dan relevan. Jelas perlu memperhatikan lingkungan sekitar, mempertimbangkan orang lain, melampaui kebijak-sanaan dengan bertindak bijak-sini juga. Gak sekadar ber-retorika, perlu sampai kepada meng-animasi. Integrity, grit bukan greed.

Jadi keingat, tiga pilar perubahan fundamental. Edukasi (membebaskan), animasi (menghidupkan), fasilitasi (menggerakkan). Ini deh kalau gak salah, akomodasi gak masuk seingat saya. Hmmm...

Terakhir adalah virtue, hmmm... teorinya sih akan panjang kalau dijelaskan. Pragmatisnya sih, yang ber-virtue akan membuat lingkungan dan orang lain di dalamnya merasa nyaman terhadap keberadaan dan kehadirannya. Kalau tidak, itu vice bukan virtue. Lalu kalau banyak pembelaan diri jadinya victim, bukan victor. Trust, bukan trash.

sumber gambar: pinterest

matheusaribowo
@matheusaribowo   2 years ago
Hatu nuhun pencerahannya, Kak Leo!
You May Also Like