Tidak ada seorangpun yang tidak pernah mengalami rasa takut. Rasa takut adalah salah satu mekanisme untuk keselamatan diri. Dengan adanya rasa takut kita menjadi lebih berhati-hati, tidak sembarangan, tidak sembrono. Rasa takut adalah rambu-rambu yang memang selalu ada agar kita selalu mawas diri sebelum melakukan sebuah tindakan. Sekali lagi, tujuannya positif, agar kita tidak terancam keselamatannya, agar kita berhasil dalam mengambil keputusan, agar kita dapat mencapai tujuan dan sebagainya.
Kenapa kita takut? Karena kita tidak tahu akan outcome yang mungkin akan terjadi. Misalnya kita berada dalam kegelapan, kita akan takut untuk melangkah karena tidak tahu akan apa yang ada di depan kita. Karena rasa takut itu kita mulai meraba-raba, sebelum melangkah kaki kita digerak-gerakkan di depan agar memperoleh informasi apakah aman untuk melangkah.
Rasa takut itu juga hadir karena kita tidak tahu serta tidak mengerti. Ada sebuah game yang pernah saya saksikan di televisi. Seseorang diminta memasukkan tangannya ke dalam kotak tanpa tahu apa yang ada di dalamnya. Orang tersebut diminta untuk mengetahui apa isinya. Nah ketika dia memasukkan tangannya ke dalam kotak, dia sangat berhati-hati dan terlihat dengan jelas begitu ketakutan. Ketika dia menyentuh sesuatu, langsung menarik tangannya keluar karena ngeri.
Kita tidak takut akan cacing, tapi jika tidak mengetahui kalau itu cacing dan meraba-raba dalam gelap lalu menyentuh cacing, apakah kita akan berteriak ketakutan? Kemungkinan besar akan begitu. Itu terjadi karena kita tidak mempunyai informasi. Tapi jika bisa kita lihat maka rasa takut itu juga akan berkurang. Nah begitu prinsipnya.
Terus kenapa saya hari ini ngobrol tentang rasa takut. Rasa takut apa yang saya rasakan? Terus terang, saya sedang mengalami rasa takut akan perubahan. Kita begitu senang pada kemapanan. Rasa mapan membuat kita aman, membuat kita nyaman. Ketika rasa aman dan nyaman itu berubah, kita mulai merasa tidak secured lagi. Sesuatu yang tidak kita ketahui membuat rasa takut semakin menjadi-jadi bukan?
Contoh sederhana, saat ini saya tidak terlalu khawatir akan kesehatan sebab jika terjadi sesuatu saya memiliki asuransi. Namanya juga asuransi, dari kata assurance yang mengimplementasikan keyakinan, kepastian, jaminan. Jika saya mempunyi asuransi maka akses saya pada pelayanan kesehatan terjamin. Nah, kondisi ini akan segera berubah ketika nanti saya pindah tempat tinggal, misalnya. Apa yang terjadi jika saya tidak mempunyai asuransi? Bagaimana saya dapat terus melakukan pengobatan? Bagaimana jika .... Nah pertanyaan itu terus menggempur tanpa henti membuat saya semakin khawatir. Atau misalnya tentang Kano. Bagaimana jika dia sakit? Siapa nanti yang akan mengurus dia? Dan sebagainya. Ada seribu satu macam rasa takut dan khawatir yang saya alami karena perubahan. Ini normal, merupakan bagian dari kehidupan. Seperti dahulu ketika saya akan pindah ke Fort Collins, apakah ada rasa takut? Tentu saja. Pertanyaannya misalnya, bagaimana jika saya tidak memperoleh pekerjaan? Jika saya tidak punya penghasilan, maka bagaimana saya dapat membiayai kehidupan sehari-hari. Dari mana saya bisa membayar asuransi kesehatan yang tidak murah? Dan seterusnya.
Nah lalu bagaimana saya menanggulanginya? Ini merupakan sebuah proses. Dan kita juga mengalami ini berulang kali, jadi seharusnya kita secara sadar juga tahu bahwa cepat atau lambat kita harus dapat melewatinya. Hari pertama masuk kerja, misalnya. Apakah itu menakutkan? Untuk banyak orang tentu saja. Selalu ada kekhawatiran ketika kita memasuki sebuah wilayah, lingkungan, dan situasi baru. Sekali lagi, itu semua diakibatkan dari pengetahuan kita yang minim, informasi yang tidak cukup. Nah salah satu cara menanggulanginya, ya mencari informasi sebanyak-banyaknya agar proses adaptasinya akan berjalan dengan mulus. Itu baru satu. Masih banyak lagi dan akan saya usahakan untuk berbagi di tulisan-tulisan saya yang berikutnya.
Foto credit: psychologicalscience.org