Satu hal yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan sesudah bergabung dengan kelompok menulis AES, kita di "paksa" memfokuskan diri untuk memikirkan satu hal, memilih satu dari banyak hal yang mungkin hadir dalam pikiran kita.
Kita menjalani proses berpikir setiap hari, sepanjang hari dan merupakan sesuatu yang konstan kita lakukan dalam hidup. Berpikir menjadi semacam pemandu untuk berbagai macam kegiatan seperti menganalisa, berangan-angan, memecahkan masalah, bercerita bahkan ruminasi. Ada yang mengatakan setiap hari rata-rata manusia berpikir 60,000 hal, 75% diantaranya adalah hal-hal negatif dan 95% merupakan pengulangan. Nah, mengetahui ini, saya selalu bersemangat setiap hari ketika akan menulis AES karena jika saya memikirkan 60 ribu hal sepanjang hari, masa saya tidak mampu memilih 1 saja? Logikanya sih harusnya bisa, khan? Ternyata tidak semudah itu.
Yang menarik dari proses berpikir, katanya, itu merupakan sebuah fenomena yang kompleks yang melibatkan hal-hal kognitif, emosional dan proses sensori. Lihat saja banyak para ahli menggunakan berbagai cara pendekatan untuk meneliti tentang hal ini, ada yang dari sudut psikologi, neuroscience, filsafat dan sebagainya. Pikiran, berpikir dan kerja otak memang begitu menarik dan saya yakin walau telah ada ribuan penelitian tentang ini, masih banyak yang belum kita ketahui. Nah, sekarang karena proses berpikir itu kompleks, saya berpendapat, mungkin loh ya, alasan mengapa kita seringkali kesulitan memilih 1 pikiran dari ribuan yang kita lakukan adalah karena melibatkan banyak hal tadi, faktor emosi misalnya. Kita memilih satu hal untuk kita pikirkan dan akan kita tulis, lalu kita kehilangan mood dan akhirnya tidak tuntas. Masih banyak alasan lainnya, yang jelas menuliskan pikiran kita itu tidak semata-mata memilih 1 dari 60 ribu pikiran. Belum lagi misalnya bagaimana kita dapat mengurai sekian ribu pikiran itu agar dapat memfokuskannya pada satu hal, lalu memilih beberapa lagi untuk mendukung 1 pilhan itu. Tidak mudah.
Saya ingin mengambil pemikiran Jean Piaget ketika kita akan menulis. Piaget mengatakan bahwa proses berpikir itu ada 2 macam yaitu asimilasi dan akomodasi. Ketika kita melakukan proses asimilasi, kita berusaha menggabungkan pengalaman-pengalaman baru sementara akomodasi adalah memodifikasi pola dan skema yang sudah ada sehingga cocok dengan pengalaman baru. Jadi sebetulnya berpikir merupakan alat yang digunakan sebagai pola pengenalan, untuk belajar, pemecahan masalah, serta mengumpulkan ide-ide. Nah kemudian berpikir itu juga merupakan cara untuk memberikan arti pada hal-hal di atas, menceritakan kembali sehingga memiliki keterkaitan dengan peristiwa kehidupan kita.
Rumit sekali ya? Jadi apakah bisa disimpulkan bahwa kesulitan kita menulis itu karena masalah berpikir? Tapi juga yang menarik adalah bahwa pikiran kita itu sangat luar biasa sehingga mampu mengenali pola kebiasaan sehingga kemudian menciptakan pola berpikir yang disukai agar lebih efisien, mudah, lebih cepat bahkan melakukan ha-hal diluar kesadaran kita. Nah ini yang menjadikan proses berpikir kita menjadi sebuah kebiasaan. Namanya kebiasaan, maka harus terus menerus dilatih dan diasah, bukan? Ini sah satu dampak positif dari menulis di AES!
Kesimpulan saya, berpartisipasi dalam kelompok AES itu bukan hanya sekedar menulis, tapi banyak lagi benefit yang bisa kita nikmati seperti salah satunya yang saya obrolkan hari ini yaitu kebiasaan berpikir kita akan menjadi semakin luar biasa dan terlatih.
Foto credit: speeches.byu.edu
Wah tulisan hari ini satu frekuensi ya pak! Bisa juga ternyata bukan wajah yg mirip tapi ide tulisan yang serupa tapi tak sama. Menarik sekaliii
nyambung lagi dengan tulisan mbak kemarin ya! Hahahaha
Betul pak ternyata dunia punya jalur tersendiri menghubungkan orang-orang di frekuensi yang sama. Jalur tidak kasat mata!
Menurut ilmu kedokteran juga gitu? Kalo teman-teman yang rajin bergumul dengan metafisik, selalu bilangnya gitu. Hahahaha