Salah satu kultur yang tidak pernah hilang di Smipa adalah anak-anak senang sekali memainkan permainan tradisional, dari pertama saya masuk ke sekolah ini, sekitar 7 tahun yang lalu. Baik saat istirahat maupun program 'bermain' di kelas, permainan tradisional sering menjadi primadona permainan yang dimainkan. Senang sekali saat mereka larut dalam permainan, tanpa sadar, banyak teman-teman yang memunculkan 'warna' mereka.
Makin kesini saya jadi sadar, di Smipa, bahwa bermain bukan hanya sarana mengisi waktu luang atau ruang interaksi natural anak, lebih dalam dari itu, media permainan tradisional memiliki banyak tujuan yang luar biasa manfaatnya. Bagi anak, bisa jadi itu menjadi ruang untuk kebutuhan gerak, membangun relasi dan sarana untuk 'mengkomunikasikan' banyak hal. Bagi saya sebagai kakak, lewat bermain bisa menjadi ruang untuk bonding, dan menakar sejauh mana 'trust' yang sudah dibangun dengan anak. Bagi saya, bermain bersama anak juga bisa menjadi sarana membuat sebuah memori/momen manis bersama. Karena sampai saat ini, ada beberapa momen-momen bermain bersama anak yang masih diingat dan suka senyum-senyum sendiri kalau diingat lagi.
Jika diurutkan, sepengalaman saya di jenjang SD besar ada beberapa permainan tradisional yang sering dimainkan :
Permainan yang laku keras :
1. Bebentengan
2. Ucing bola
3. Boi-boian
4. Ucing sumput
Permainan yang lumayan laku :
1. Galasin
2. Egrang
Permainan yang mulai 'muncul' lagi :
1. Sorodot gaplok
2. Perepet jengkol
Permainan yang menunggu 'muncul' lagi :
1. Kasti
2. Damdaman
3. Gatrik
4. Rangku alu
Kapan-kapan saya akan cerita tentang permainan-permainan di atas, semoga permainan tradisional juga terus lestari. Mun ceuk papatahmah, kade ah jati tong kasilih ku junti tong nepi leungit jati diri.
Karena cerita kak Asep saat mampir ke RT 3, SD 3 jadi main Perepet Jengkol bersama SD 4. Nuhun kak Asep!
Sami-sami, hayu urang ngamumule kaulinan tradisi, ehehe