Hari Jumat beberapa waktu yang lalu kelasnya Boni mengadakan perjalanan mandiri ke rumah narasumber masing-masing untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehidupan di Jawa. Ini dalam rangka persiapan Perjalanan Besar ke Jawa Tengah yang akan diselenggarakan bulan Februari yang akan datang. Perjalanan mandiri ini wajib dilakukan sendiri, dengan menggunakan setidaknya 2 rute angkutan umum (angkot), dan tidak boleh menggunakan ojek online. Sebelumnya anak juga diminta untuk menghitung kebutuhan biaya, juga mempelajari rute angkot dan peta menuju lokasi, juga sebaliknya untuk pulang, termasuk mencari lokasi warteg untuk makan siang.
Ibu @Ichaleia sudah menuliskan dengan sangat presisi mewakili perasaan kami orang tua yang belajar melepas anaknya untuk mandiri. Silakan baca esainya yang berjudul โPerjalanan Mandiri: Saat Saya Belajar Melepasโ.
Beberapa hari sebelumnya ketika aku buka medsos, isinya banyak tentang penculikan anak di beberapa tempat. Membaca itu muncul rasa khawatir, padahal Boni sudah biasa bepergian naik angkot. Ada seorang bapak yang berkata tegas di salah satu post, bahwa dia akan mengantar jemput anaknya hingga lulus SMA, ngga usah peduli dengan apa kata orang soal kemandirian. Pendapat dia tentu saja valid. Tapi bukan juga jadi kebenaran satu-satunya, apalagi bagi orang lain. Sempat ada muncul, "Jika aku membiarkan anakku naik kendaraan umum pulang sendiri, apa itu artinya I put her in danger? Apa aku bukan ortu yang peduli?" Ada bayangan label yang menanti untuk dilekatkan.
Rasa cemas, takut, itu wajar karena kita sedang mengalami pengalaman sebagai manusia, bukan sebagai malaikat. Tapi rasa khawatir itu juga bukan untuk membatasi atau memenjarakan kita. Dia hadir untuk memastikan kita tetap aman. Dan seperti semua rasa lainnya, ia ingin dilihat, diterima keberadaannya bukannya dilawan dengan berusaha menjadi berani, atau diabaikan dengan berusaha positive thinking.
Ketika aku menyadari ada rasa khawatir untuk melepas Boni perjalanan mandiri naik angkot setelah aku terpapar berita-berita tentang penculikan, aku benar-benar merasakan sensasi rasa cemas dan takut itu pada tubuhku. Biasanya, kita otomatis berusaha mengusir perasaan yang nggak nyaman itu, dan langsung menutupinya dengan tindakan. Entah itu memutuskan untuk melarang anak pergi sendiri sebagai tindakan pencegahan, atau menepis rasa takut itu dengan pembenaran bukti-bukti yang membuat diri merasa tenang. Tindakan apapun, semua bergantung dari mana ia lahir. Doing akan mengikuti Being-nya. Kejernihan Being berasal dari ruang di mana kita berani hadir sepenuhnya pada apa yang sedang hidup di dalam diri. Dalam ruang itu, kita tidak lagi dikendalikan oleh narasi di kepala, atau oleh reaksi otomatis yang ingin segera menyelamatkan kita dari ketidakpastian.
Pelan-pelan, rasa cemas dan takut itu mulai luruh. Saat sudah jernih, yang kulakukan adalah mengajak Boni berbincang soal langkah-langkah yang ia ketahui untuk menjaga dirinya tetap aman selama bepergian. Dan dari apa yang ia paparkan, aku merasa yakin bahwa aku bisa percaya ia bisa menjaga dirinya dengan baik. Ia menyebutkan tentang menyiapkan pecahan uang receh di kantong depan agar tak perlu buka dompet, tidak mengeluarkan ponsel jika tidak benar-benar perlu, tidak menerima makanan dan minuman dari orang tak dikenal, tidak membagi informasi pribadi, tidak sembarangan membantu orang. Ketika kita membahasnya dari kejernihan untuk menjaga diri, dan bukannya dari rasa takut, maka getaran itu yang juga akan dirasakan beresonansi dalam dirinya. Menjadi jernih bukan berarti jadi abai dan menganggap remeh.
Pada akhirnya, melepas adalah mengizinkan anak belajar menavigasi dunia luar, sementara aku sebagai ortu belajar menavigasi dunia dalamku. Setiap keberanian kecilnya adalah keberanian kecilku juga. Dan ia lahir bukan karena aku menekan rasa takut, tapi dari mengizinkan rasa takut itu hadir dan melihatnya seapaadanya.
Keren ini. Terima kasih sudah berbagi di sini Dini. Proses Dini ini juga gambaran melepaskan diri dari cengkeraman Matrix ya . Oh iya belum lama ini sy juga menambahkan tagar baru : #melepas. Mulai banyak tulisan tentang ini. ๐๐ผ๐
Nuhun kak... Nanti saya baca2 esai terkait tagar #melepas ya...