"Oh No!" Teriak saya.
"What happens?" Tanya Kano sambil menurunkan HP yang dari tadi dipelototinya.
"Train! look!" Jawab saya.
Mobil kami berhenti dan antrian di belakang kami semakin lama semakin panjang. Hari ini Nina ada meeting dengan cohort nya di kampus, jadi pulang kerja saya kebagian tugas menjemput Kano. Saya tadi harus beli bensin dan tanya Kano kalau dia tidak sibuk saya usulkan untuk ikut saja lalu jemput ibunya dan kita bisa makan malam sama-sama. Dia setuju!
Kemarin saya menulis soal bagaimana sulitnya berkomunikasi dengan seorang remaja. Sekarang sudah sangat membaik, sebelumnya beberapa tahun yang lalu, kami orang tua merasa dianggap sebagai aliens yang mungkin memalukan, sehingga anak semata wayang sebisa mungkin menghindari terlihat bersama kami! Coba bayangkan! Dulu kami merasa sangat didewa-dewakan, dianggap sebagai manusia paling hebat, seperti superhero yang punya super power dimata anak, tiba-tiba kami dilempar jauh jauh karena si anak merasa malu jika berdekatan dengan orang tuanya! Kami patah hati!
Contoh sederhana lain. Saya kadang suka bicara dalam bahasa Indonesia di tempat umum, tujuannya adalah agar orang lain tidak mengerti apa yang sedang kami diskusikan. Ini memang sengaja! Tapi suatu saat kami ditegur si gondrong, dia bilang,"Please do not talk in Bahasa, you sound weird! I do not want my friends think that you are weird!" Nah lo! Atau kalau jemput di sekolah (untungnya jarang, karena dulu dia pergi ke sekolah naik bus sekolah, pulangnya juga) kami berusaha invisible! Alias tidak terlihat oleh siapapun! Kami harus bisa jadi penyihir yang menyihir diri sendiri agar tidak tampak di mata teman-temannya! Hahahhaa
Masa itu memang sudah lewat. Dengan berjalannya waktu dia sudah mulai bisa menerima kondisi apapun apa adanya, bahkan sering mengajak sahabat-sahabatnya main ke rumah hanya sekedar bisa bersama-sama makan poke yang saya buat. Ini prestasi gemilang! Betapa bahagianya si gondrong membangga-banggakan masakan bapaknya di depan teman-temannya. Bahkan dengan bahagia dia bilang,"Ethan said it is the best food he has ever had in his life!" Dia bahkan sengaja mengajak sahabat-sahabatnya mampir jika kebetulan saya sedang masak makanan yang menurut dia enak! Saya kembali merasa menjadi superhero yang memiliki superpower! I am baaaaaccck!!! Persis seperti Spiderman yang kekuatannya kembali sesudah beberapa saat dia kehilangan superpower-nya! Hahahaha...
Ya relasi antar orang tua dan anak memang ada pasang surutnya. Saya sempat melalui masa sulit untuk hanya sekedar berkomunikasi ringan. Kadang bicara 1 kata bisa berakhir dengan bantingan pintu! Ada masanya seperti itu. Saya kewalahan dan berusaha mencari cara untuk memulai sebuah percakapan. Oh.. itu sama sekali tidak mudah! Hanya bertiga di rumah, tapi seperti 3 manusia dari 3 penjuru dunia dengan bahasa berbeda! Tidak mengerti satu sama lain! Bayangkan!
Kereta api yang lewat panjang sekali, saya hitung tadi ada 117 gerbong, butuh bermenit-menit menunggu. "They found out who pulled the fire alarm!" Kano bergumam. "really?" Tanya saya. "Yes, we have been talking about it all day. But school did not tell us who. And he isn't punished or anything because he is still underage!" Ceritanya lagi. "Do you know that it is a criminal offence?" tanya saya. "I know, but since he is underage, he won't get charged. Plus it happened after the school was over, so it did not disturbed any classes. Most of the student had left classes."
Dari lanjutan obrolan kemarin tentang seorang anak bandel yang iseng membuat alarm kebakaran berbunyi di sekolah hingga polisi dan truk pemadam kebakaran datang, kami mulai banyak ngobrol lain yang lebih serius! Saya harus berterima kasih pada kereta api yang selama ini selalu membuat saya jengkel karena terjebak berlama-lama. Dan kereta api di sini wajib membunyikan suaranya selama menyebrangi kota. Berisik dan lama sekali karena ini kereta api barang yang mengangkut kontainer yang panjang sekali. 117 itu belum seberapa, saya pernah menghitung hingga 240 gerbong! Oke balik ke topik, gimana caranya ngobrol? ada beberapa trik yang ingin saya bagikan.
Pilih topik yang disukai! Ya, berkomunikasi dengan remaja itu tidak mudah. Butuh banyak jam terbang. Dari dianggap sebagai aliens, dianggap sebagai manusia dengan bahasa barbar, lalu pelahan-lahan mulai bisa bercakap-cakap dengan wajar. Bisa mulai dengan mengajak ngobrol dengan topik yang dia sukai. Serius saya sama sekali tidak mengerti dengan games, ya saya harus belajar tahu agar bisa engage dalam obrolan! Jadi kalau Bryan nulis soal games di Atomic essay, baca itu agar kita orang tua punya pengetahuan yang bisa dijadikan topik obrolan! Semakin banyak pengetahuan seputar kehidupan remaja di jamannya, semakin banyak topik yang bisa kita angkat untuk membuka percakapan!
Lebih banyak mendengar daripada bicara! Biarkan dia menjadi semacam nara sumber. Saya tidak mau sok tahu sebab generasi saya dan dia jauh berbeda. Jaman saya remaja cuma ada TVRI, tidak bisa memilih channel. sekarang ada ratusan, belum terhitung dengan yang streaming! Jadi sebagai orang tua jangan sok tahu. Dengarkan dan kita bisa belajar dari sana, lalu itu dijadikan pe-er untuk belajar agar paham lalu bisa dijadikan jembatan untuk membuka percakapan di kemudian hari. Nah sesudah itu lalu bisa dimasukkan topik-topik yang ingin didiskusikan. Misalnya tentang pilihan jurusan kalau kuliah, soal soal yang lebih esensial yang sudah kita pahami sebagai bentuk pembekalan dia di masa depan nanti. Kita berusaha membuka pintu untuk masuk ke dalam.
Makan! Nah ini penting! Pulang sekolah anak lapar, gula darah tidak stabil, jangan diajak ngobrol serius lah. Ajak makan biar dia bisa fokus, baru ngobrol. Di samping itu, jika ajak dia pergi makan, kita menciptakan sebuah momentum! Kesempatan ini bisa diawali dengan ngobrol santai sambil mengunyah french fries, bercanda hingga mudah-mudahan mulai mmeasuki obrolan yang lebih dalam. Anak saya doyan makan, dia kritis soal makanan. Lidahnya mirip dengan bapaknya yang bisa merasakan keganjilan, merasakan kalau minyak goreng sudah saatnya diganti. Nah saya ajak ngobrol soal makanan, salah satu topik yang dia sukai, lalu berlanjut!
Sabar! Beri dia kesempatan untuk mengenali masalah dia sendiri. Jangan dipaksa untuk membicarakan. Ketika dia sudah siap, dia akan mulai membuka diri. Kasarnya, beri kesempatan mengunyah, merasakan setiap keunikan dan dampingi jika dia butuh bertanya, tapi jangan intervensi sebab dia membutuhkan momen ini untuk tumbuh dan mengalami. Seringkali saya gatal untuk melibatkan diri, ini ternyata salah. Jadi jangan heran kalau kita berusaha ikut campur akan ada reaksi misalnya,"Leave me alone!" Itu tandanya dia sedang mengolah, biarkan dia berbuat kesalahan tapi dalam batas aman, tidak destruktif. Itu yang harus kita amati. Jadi sekali lagi, sabar!
Do Not Start lecturing! Kebiasaan orang tua adalah mengumbar nasehat. Remaja sering kali hanya butuh didengarkan. Bayangkan jika dia belum selesai bicara atau hanya ingin cerita dan hanya butuh didengarkan lalu kita orang tua langsung nyerocos: "Mangkanya, harusnya kamu begini, kenapa kamu terus-terusan begitu? khan jadinya seperti ini!" dan sebagainya. Ujung-ujungnya dia kapok dan malas ngobrol Lalu terciptalah jarak. Nanti akan sulit sekali untuk membangun kembali jalur komunikasi, sebab sudah ada apriori bahwa ujungnya akan dicekoki setumpuk nasihat.
Put yourself in his shoes. Nah ini penting. Bayangkan kita sendiri menjadi dirinya. Empati sangat penting dalam mendalami remaja. Lupakan kehebatan kita (kalau memang hebat loh), lupakan kepintaran kita, lupakan pengetahuan kita untuk sesaat. Jadilah seperti dirinya. Bayangkan sakitnya ditinggal pacar, misalnya. Dia butuh dimengerti. Kadang mengerti tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Pelukan seringkali sudah cukup. Dalam kondisi tertentu remaja hanya butuh seseorang yang bisa diandalkan, bisa melindungi, bisa untuk bersandar. Untuk bisa menjadi seperti itu, kita butuh mengerti dia.
Terus terang sekarang saya sudah bisa bernapas lega. Dulu yang namanya menunda-nunda, procrastinating, jadi masalah sehari-hari. Saya pernah cerita 2 minggu terakhir sebelum semesteran selesai, si Gondrong punya 64 tugas yang belum selesai! Babak belur lah. Sekarang, dia sudah tahu bahwa menunda-nunda itu melelahkan diakhirnya. Dia sudah punya rencana dan pengorganisasian yang baik. Kamis malam dia bilang,"I am going to do my project tonight." "Okay," Kata saya. "Memang ada tugas buat besok?" "No, I finished it. I am going to do the one that due on Monday. I want to finish it tonight so I can spend the whole weekend relaxing!" Wow! pikir saya. Ajaib khan?***
Pic: singlemomsasksara.com
Nice post. Nah kalau ada anak2 di sini yang baca tulisan2 kita orangtuanya. Mereka juga jadi tau apa yang kita pikirkan ya? 😁👍
Terima kasih sudah berbagi pak Jo.. memang kalo diinget, dulu kita diomongin orang tua juga dalam hati sering komentar "kan jamannya uda beda.." hehe.. apalagi dengan percepatan perubahan sekarang ya..