AES 1305 Almost
joefelus
Tuesday January 21 2025, 8:32 AM
AES 1305 Almost

Chet Baker, salah seorang pemain terompet jazz kondang yang saya sukai, memainkan alat musiknya dengan sangat syahdu. Almost Blue, itu judulnya. Menyayat-nyayat hati, menghanyutkan penuh rindu. Kalau di liriknya akan berbunyi, Almost you, Almost me, Almost blue. Kalau di lagu itu menceritakan seseorang yang melihat seorang gadis yang mirip dengan pujaan hatinya. Saya justru melihat hujan.

Almost you, almost doing thing we used to do... itu sebagian dari lirik di bait yang pertama. Hujan rintik-rintik di luar. Saya memperhatikan batu-batu kerikil yang memenuhi halaman belakang menjadi basah, sekarang berwarna lebih gelap. Keladi Sante yang tegar, seolah-olah tidak terganggu dengan tetesan air dari langit, tegar menantang tengadah menanti di bawah. Ada 2 yang agak layu karena saya baru pisahkan dari induknya. Tanaman keladi hitam saya sebetulnya ada 3, tapi 2 diantaranya sekarang sudah beranak pinak. 1 pohon malah sudah ada 3 sementara yang di tengah baru muncul tunas baru. Sementara si bungsu yang paling kiri belum, hanya menumbuhkan daun baru. 

"I am walking home from work, Dad. It's snowing. I know you guys love snow, so I am calling you now. Look, can you see the drizzle coming down from the sky? It's not as cold as before when I was going to work." Cerita Kano.

Saat itu dia sedang berjalan kaki pulang. Jalanan diliputi warna putih yang lumayan tebal, mungkin sekitar 5 cm lebih. Jalanan sangat sepi, maklum sudah malam. Kano pulang kerja sekitar pukul 9 malam dan turun salju, jadi jelas tidak banyak orang yang mu keluar rumah. 

Sambil mengobrol, musik terus mengalun. Banyak melantunkan lagu-lagu lama, sebagian ketika saya masih kecil atau malah sebelum saya lahir, seperti Waltz For Debby yang dikarang oleh Bill Evans di awal tahun 60-an. Kalau sudah demikian saya akan mulai melamun, Kano ngobrol dengan ibunya sementara pikiran saya melayang jauh membayangkan salju yang turun dan diselubungi jaket panjang hingga ke lutut saya memasuki sebuah ruangan yang remang-remang, seperti memasuki era yang berbeda, memberikan keharuman yang kuno, bau pelitur yang digunakan oleh pemiliknya untuk merawat meja-meja dan kursi kayu langsung menerpa indra penciuman ditambah bau alkohol. Dibeberapa sudut ada sekelompok orang ngobrol, pria yang dibelakang bar sedang meracik minuman, biasa di awal dia sedikit overpouring agar pengunjung lebih bergembira. Saya biasanya menjauh dari bar dan lebih mendekat ke sudut dimana pemain musik melantunkan lagu-lagu. 

"Jo, show Kano our backyard." Kata Nina

"Huh?" Saya terjaga dari lamunan dan bangkit dari tempat duduk menuju halaman belakang. 

Suara air gemericik langsung terdengar. Beberapa hari lalu saya memang menambah ornamen di halaman belakang dengan water fountain kecil. Murah meriah, saya beli dari seorang bapak yang berjualan pot tembikar dan hiasan kebun di tengah kota. Saya berencana halaman belakang nanti akan dijadikan semacam sanctuary untuk bermeditasi di pagi hari. Bunyi gerericik air biasanya mudah membantu saya untuk memfokuskan diri pada keadaan sekeliling sebelum masuk ke suasana hening. Itu rencananya disamping juga memang sejak dahulu saya selalu ingin memiliki ruang kecil sederhana untuk menikmati kesendirian, menulis, membaca atau melakukan kegiatn yang saya sukai.  

"Nice. You can also hang some plants and add a bigger plant in the corner." Usul Kano.

"We are planning to have those, We haven't decided what kind of plants we are going to have, though." Kata saya.

"Are you home, yet?" Tanya saya

"Almost" Katanya sambil menunjukkan jalan-jalan yang sedang dia lalui, yang sangat saya kenal. 2 truk pembersih jalan lewat, mereka akan bekerja semalaman membersihkan jalan dari salju tebal yang menutupi jalan raya. Saya dulu sempat berpikir bahwa kota Fort Collins sangat gelap, ternyata sekarang sudah saya buktikan bahwa Bandung jauh lebih gelap lagi. Seingat saya dulu tidak begitu, mungkin dengan semakin banyaknya pertambahan penduduk dan rumah-rumah, penerangan jalan raya semakin dibatasi. 

Hujan gerimis terus berlangsung, sementara di tempat Kano salju turun. Chet Baker mulai bernyanyi, almost you, almost me, almost blue.. almost doing thing we use to do..

"Ah I miss snow, I miss the thing I used to do" Kata saya dalam  hati. Saya harus banyak melakukan hal positif dan lebih aktif, selama ini tidak terlalu terasa kerinduan-kerinduan saya akan masa lalu. Sekarang ketika proyek perbaikan rumah selesai, perasaan itu mulai semakin sering hinggap. Saat ini di dua tempat yang berbeda turun hujan, di sini air, di sana serbuk-serbuk es.. dua-duanya air, beda suhu, hampir sama, almost...