Bulan Januari. Hujan masih sering turun, meskipun tidak sekerap bulan November dan Desember kemarin. Buah rambutan mulai sering terlihat tergantung di kios-kios buah di tepi jalan.
Aku jadi teringat, di suatu sore kira-kira dua bulan lalu, saat aku sedang mengupas buah mangga, tiba-tiba sebersit rasa sedih menyeruak dalam hati. Karena, ketika aku membeli mangga itu beberapa hari sebelumnya di tukang buah langganan, aku melihat ada buah rambutan di sana. Dan, dari percakapan dengan penjual buah, aku baru mengetahui bahwa musim mangga akan segera berakhir saat rambutan mulai muncul. Pantas saja mangga harumanis yang kukupas tidak sewangi dan selegit biasanya.
Entah mengapa, ketika itu perasaanku benar-benar mellow. Rasanya sedih, karena waktu perjumpaanku dengan buah mangga tak akan lama lagi. Selama beberapa bulan terakhir mangga menjadi salah satu buah favorit yang hampir selalu tersedia di meja makan kami. Sekarang, kami harus menunggu satu tahun lagi untuk menikmati mangga dalam kondisi primanya. Ya, mangga yang kadang muncul di bulan Mei atau Juni biasanya tak seenak mangga bulan Oktober.
Perasaan-perasaan seperti ini sering menyapaku saat aku sedang sendiri. Menyadari, bahwa semua yang ada di sekeliling kita tidak akan abadi. Mereka datang dan pergi, menjadi teman perjalanan atau sekadar pelengkap kisah yang akan kita ceritakan kepada anak-cucu kita nanti. Akan ada yang pergi untuk datang menemui kita lagi pada suatu masa, ada yang pergi dan tak kan kembali.
Potongan segar mangga di hadapanku mengajariku untuk lebih mensyukuri apa yang ada di depanku saat ini; apa pun bentuknya, apa pun rasanya, apa pun keadaannya. Karena, saat paling berharga bagi kita adalah SAAT INI.