Akhir-akhir ini aku bosan dengan playlist-ku, ini lagi ini lagi, mau denger lagu kekinian kurang sreg. Browsing lagu lama ah. Scrolling lalu ingat lagu yang sudah lama sekali tidak pernah didengar. Lagu jaman SMP. Sudah sekian belas tahun begitu dengar intronya masih bisa ikut bernyanyi, masih hapal liriknya. Berlanjut dengan lagu lain, nyanyi lagi.. ya dimobil kapan lagi me time. Lumayan waktu tempuh ke sekolah sekitar 30-40 menit, kira-kira muat 10 lagu. Sampai di sekolah Sei ada perasaan happy. Biasanya ya flat saja, jarang-jarang merasa ada perasaan hangat begini. Apa begitu ya bertambah usia emosi yang dirasakan semakin datar. Dulu sebal liat Squidward sekarang malah jadi Squidward. Besoknya karena masih mencari rasa senang yang kemarin, kuulangi lagi mungkin ada 3 minggu lebih sampai Fajrin komen “anak emo” hahaha padahal dia juga ikut nyanyi, bukannya tersinggung malah jadi terpikir kenapa kita suka mendengarkan lagu lama ya..
Dulu genre musik yang aku suka lumayan luas, masa SD booming banget linkin park, peterpan dan sheila on 7 sangking sukanya study tour saja bawa kaset walkman untuk disetel saat perjalanan. Makanya waktu mereka konser dengan lancar bisa ikut sing along. Having a blast. Masa SMP suka musik metal dan emo yah namanya juga anak remaja lagi masanya memberontak. Explore musik lebih menyenangkan daripada belajar. Masa SMA beda 180 derajat. Suka sekali musik Hip hop dan RnB sampai bisa nge-rap, lucu memang kelakuan anak remaja yang otaknya belum sempurna. Masih raw version. Living young and wild and free~
Sepertinya yang membuat kita suka adalah mengingat emosi yang dulu dirasakan saat mendengar lagu tersebut. Yang diingat emosinya, emosinya terproyeksikan pada lagu. Jadi yang buat kita merasa senang ya karena ingat rasa bahagianya. Atau saat mendengar lagu galau tapi jadi tiba-tiba menangis. Mungkin dulu emosi sedihnya tidak tervalidasi jadi baru sekarang saat pertahanan diri lemah mendengar lagu yang sama sedihnya kabur keluar.
Mirip seperti nonton tom and jerry bareng anak-anak, ikut ketawa karena ingat dulu ini serial kesukaanku. Kenangannya yang kutertawakan walaupun mata yang melihat videonya. Begitulah memori jangka panjang bukan hanya merekam kejadian tapi emosinya juga ikut terekam.
Makin emosional momennya makin kuat ingatannya. Secara tidak sadar memang relate sih. Aku lebih suka mendengarkan playlist SMP daripada SMA ya mungkin karena masa SMA lebih berat jadi memutar playlist pun seperti mengulang SMA. Amygdala sepertinya menolak, ada keengganan.
Makanya tidak heran masih banyak musisi lama yang punya fans setia. Sepertinya mereka juga merasakan emosional attachment, dalam pikirannya masih merasakan kebahagiaan yang terjadi dimasa mudanya, masa yang bebas, masa paling indah.