Pagi hari berjalan seperti biasa, kami membuka kelas dan memulai aktivitas sesuai jadwal. Lalu tiba-tiba, sekitar jam 11 siang sebelum waktu makan siang tiba, Mba Ika dan Mas Ahmad datang ke rumah kami. Kedatangan mereka ternyata untuk menyampaikan sebuah kabar penting, yaitu kami bisa bertemu dengan Pak Singgih, founder Spedagi, pada jam 2 siang. Sebenarnya sejak kemarin kami ingin bertemu beliau saat gelaran papringan, tetapi beliau sedang berada di Jakarta. Mba Ika dan Mas Ahmad juga menyampaikan pesan khusus bahwa Pak Singgih ingin kami menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak biasa, alias pertanyaan yang jawabannya tidak bisa dicari di Google.
Karena adanya tantangan tersebut, setelah makan siang kami langsung mengadakan sesi riset bersama. Kami menelusuri bagaimana latar belakang, prestasi beliau, sejarah berdirinya Spedagi, dan informasi lainnya. Pada akhirnya kami berhasil menyusun beberapa pertanyaan yang belum pernah ada jawabannya di media manapun. Setelah beres melakukan riset dan menentukan daftar pertanyaan, waktu sudah menunjukkan sekitar jam 1 siang lewat. Kami pun segera bersiap-siap untuk pergi ke Spedagi sembari menunggu Mas Yudi yang akan mengantarkan kami kesana menggunakan mobilnya. Di sisi lain, Kak Kael, anak UMN yang sedang ada proyek di sini, kemarin sempat bilang kalau dia ingin ikut pergi bersama kami karena sudah ada janji wawancara dengan Pak Singgih di hari yang sama.
Namun, setelah kami tunggu-tunggu sampai jam 13.45, Mas Yudi belum juga datang. Kami sempat merasa agak panik karena siang tadi Mba Ika sempat mengingatkan bahwa Pak Singgih adalah tipe orang yang sangat menghargai waktu, jadi kami tidak boleh sampai datang terlambat. Akhirnya, sekitar jam 13.50an Mas Yudi akhirnya sampai di depan rumah kami. Begitu beliau keluar dari mobil, beliau ternyata membawakan kami ento cotot, makanan khas Temanggung yang menjadi favorit kami sejak Mas Yudi membawakannya pada kunjungan pertama ke rumah kami. Sumpah, makasih banyak Mas Yudi, we love you…
Setelah itu kami langsung masuk ke dalam mobil Mas Yudi. Baru berjalan sekitar lima menit, kami menyadari kalau Kak Kael belum juga muncul. Kami tentu merasa heran. Padahal sekitar jam 10 pagi tadi, aku, Kak Gina, dan Dea sempat main ke rumah Pak Sam, dan di sana anak-anak UMN sedang berkumpul, termasuk Kak Kael. Dia bahkan sempat berkata kepada kami, “Eh, nanti kalian ke di Spedagi jam 2, kan?” yang kami jawab, “Iya, Kak.” lalu Kak Kael menambahkan, “Nanti aku ke rumah kalian kan? nanti Mas Yudi jemput di situ” dan kami mengiyakannya agar dia langsung datang saja. Seharusnya dengan percakapan itu dia sudah tahu kalau jam 2 siang kami harus sudah sampai di lokasi, sehingga dia bisa datang lebih awal ke rumah kami.
Karena sampai kami sudah masuk ke mobil pun dia belum kelihatan, aku berinisiatif untuk menyusulnya ke rumah Pak Sam karena di sanalah terakhir kali aku melihatnya. Namun ternyata dia sudah pulang ke homestaynya sendiri, yang jaraknya justru lebih jauh dari rumah kami ke rumah Pak Sam. Haduh, bikin sebel aja. Setelah itu aku kembali lagi ke mobil, dan aku melihat Mas Yudi mencoba untuk menelepon Kak Kael sampai akhirnya diangkat. Begitu Mas Yudi kembali dan duduk di kursi supir sambil memperhatikan jalan, beliau berkomentar, “Aduh, saya lihat itu Kael santai banget jalannya dari kaca spion, padahal sudah jam berapa ini?” Setelah drama jalan santai Kak Kael selesai, kami akhirnya benar-benar berangkat menuju Spedagi.
Sambil mengobrol dan bertukar cerita di sepanjang jalan, kami baru tahu kalau pabrik atau tempat Spedagi itu lokasinya sangat dekat dengan Omah Yudi, yang merupakan penginapan sekaligus rumah tinggalnya Mas Yudi. Sesampainya di sana, Mas Yudi sempat menjelaskan kalau bangunan di sebelah pabrik tersebut ternyata adalah rumah pribadinya Pak Singgih. First impression saat melihat bangunannya langsung membuatku terpukau karena keren banget. Desainnya my dream workspace gitu, temboknya dibuat dari material batu bata tetapi tetap terasa nyaman dan menyatu dengan alam gitu.
Aku juga langsung salfok dengan pajangan sepeda bambu dari Spedagi yang langsung terlihat dari luar karena semua dindingnya menggunakan jendela kaca. Dari kejauhan, tampak Pak Singgih sudah berdiri menunggu kedatangan kami di area pintu masuk. Setelah menyapa, kami langsung diajak berkeliling dan diberi tur di dalam pabrik sepeda tersebut. Aku bisa melihat secara langsung bagaimana proses pengolahan batang bambu hingga bisa bertransformasi menjadi sebuah sepeda yang utuh. Jujur, seumur hidupku tidak pernah terpikir sama sekali akan mengunjungi sebuah pabrik sepeda, karena kegiatannya terasa sangat random dan aku sendiri bukan tipe orang yang rutin bersepeda.
Selama beliau menjadi pemandu tur dan menjelaskan proses produksinya satu per satu, kami memanfaatkan momen tersebut untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah kami siapkan sebelumnya. Tidak hanya itu, banyak juga pertanyaan spontan yang mendadak muncul saat beliau membagikan cerita-cerita menariknya. Salah satu cerita yang kocak adalah saat beliau berkata bahwa beliau tidak sudi kalau Presiden Prabowo membeli sepeda buatannya. “Ya mau dia bayar berapa pun saya ga mau jual,” kata beliau. Lalu ada yang sempat menyaut, “Tapi kan nanti bisa jadi promosi, Pak.” Beliau langsung menjawab, “Ah ga mau, nanti dia malah ngomong yang enggak-enggak, nanti produk saya jadi ikutan jelek.”
Setelah asik mengobrol panjang lebar, waktu ternyata sudah menunjukkan jadwal bagi Kak Kael untuk melakukan syuting wawancaranya dengan Pak Singgih. Karena itu, kami semua diajak berpindah ke Omah Yudi yang jaraknya hanya sekitar 5 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Wah, kesan pertama saat menginjakkan kaki di Omah Yudi benar-benar luar biasa keren; suasananya sangat asri, banyak tanaman, dan rumahnya terasa sangat nyaman and “homey”. Sembari berjalan-jalan, kami disempatkan untuk berfoto bersama. Untungnya Mas Yudi sangat jago jadi cameraman dan tahu persis di mana saja spot foto yang bagus di sana.
Setelah itu kami diajak masuk ke dalam area rumahnya, kami kembali dibuat terpukau. Berhubung Mas Yudi adalah seorang desainer interior, semua penataan di dalam rumah terlihat sangat estetik dan tertata rapi, hingga membuat semua orang salah fokus karena suasananya mirip dengan rumah-rumah di komplek elit. Saat kami dibawa ke area meja makan, pandanganku langsung tertuju pada sebuah benda yang sangat unik. Di atas meja tersebut ada sebuah tudung saji yang panjangnya mencapai hampir SATU METER!?!? Rasanya heran sendiri, kok bisa ada tudung saji sepanjang itu? Setelah bertanya, ternyata tudung saji panjang tersebut merupakan hasil kerajinan buatan warga Ngadiprono. Pokoknya, saking kerennya tempat ini, sepanjang waktu kami hanya bisa berkomentar "wow" berkali-kali tanpa henti.
Tidak berhenti sampai di situ, Mas Yudi kemudian mengajak kami berkunjung ke rumah adiknya yang ternyata didesain oleh beliau juga. Rumah sang adik sama-sama keren; meskipun ukurannya tidak terlalu besar, Mas Yudi berhasil mendesain interiornya sekeren itu sehingga ruangan terlihat sangat luas padahal rumah itu berukuran agak kecil. Setelah dibuat terpukau berjuta-juta kali oleh desain interior rumah tersebut, kami akhirnya kembali ke Spedagi untuk berpamitan kepada Pak Singgih dan istrinya, lalu kami pun pulang diantar kembali oleh Mas Yudi. Sebelum benar-benar mengantar kami sampai ke rumah, Mas Yudi menyempatkan diri untuk mampir dan membelikan kami ento cotot lagi. Beliau bilang kalau ento cotot yang ini dibuat oleh penjual yang berbeda, jadi rasanya pun baru. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di rumah dengan selamat.
Sesampainya di rumah, kami semua termasuk Mas Yudi dan Kak Kael ikut masuk ke dalam karena kondisi badan mungkin sudah cukup lelah dan ingin beristirahat sebentar. Di tengah jalan pulang tadi, kami sempat melihat bakso favorit kami, yaitu Bakso Pak Wawan, jadi kami memutuskan untuk bersantai di ruang depan rumah sambil menunggunya lewat. Namun, sebelum Pak Wawan muncul, tiba-tiba ada penjual sate yang berhenti tepat di depan rumah kami. Awalnya aku memberitahu kepada semua orang yang ada di rumah, apakah mereka mau sate atau tidak. Dan kata Ka Gina “beli aja 30 tusuk buat makan malem”, jadi aku langsung lari ke depan sebelum tukang sate itu pergi, lalu memesan 30 tusuk sate untuk dimakan bersama berenam karena menu sayur untuk makan malam kami tergolong sedikit dan belum ada asupan proteinnya.
Tepat setelah kami selesai membeli sate untuk lauk makan malam, Bakso Pak Wawan yang dinanti nanti akhirnya lewat juga. Tanpa membuang waktu, kami langsung menyerbu tukang bakso tersebut. Kak Kael dan Mas Yudi pun ikut memesan bakso dan sate, mungkin karena tergiur melihat kami memesan makanan-makanan tersebut. Lalu kami semua makan bersama dengan seru di dalam rumah. Setelah makan malam selesai, Kak Kael pun berpamitan untuk pulang ke homestaynya. Hari yang panjang dan seru ini kemudian ditutup dengan Mas Yudi yang penasaran, akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung dalam sesi evaluasi malam bersama kelas kami.