Setelah kelas dance selesai, aku langsung membuka hp dan melihat ada notifikasi masuk dari Kak Gina. Ternyata Kak Gina berubah pikiran untuk pergi ke Solo. Menurutnya, ongkos tiket pergi ke sana agak kurang worth it jika dibandingkan dengan waktu kunjungan, karena dia baru akan sampai di Solo sekitar jam 5 sore sementara destinasi yang mau dituju rata-rata sudah mau tutup semua. Ditambah lagi, dia juga bingung malam-malam di sana enaknya mau pergi kemana, Jadilah Kak Gina batal pergi ke Solo. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, aku langsung memesan Grab untuk menyusulnya ke stasiun. Setibanya di stasiun, aku mencari Kak Gina hingga kami bertemu, lalu kami memutuskan untuk jalan-jalan saja ke Pasar Beringharjo di kawasan Malioboro dengan naik Gojek masing-masing. Di pasar itu, kami berkeliling mengamati dan merasakan suasana di pasar sore itu, dan karena ada temanku yang nitip celana gajah, aku akhirnya membeli satu celana gajah warna biru.
Selesai dari pasar, aku dan Kak Gina lanjut jalan-jalan lagi sambil mencari tempat-tempat lucu di Jogja melalui internet. Setelah kami cari, sebenarnya ada banyak pilihan tempat yang menarik, tetapi mayoritas kondisinya sudah mau tutup atau jaraknya terlalu jauh, bisa memakan waktu satu jam kalau berjalan kaki. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bakpia Pathok 25 saja untuk membeli oleh-oleh yang hanya berjarak 1,2km sekitar 16 menit jalan kaki. Namun di tengah perjalanan, kami tidak sengaja melewati sebuah toko bernama Kebaya Oma. Berhubung Kak Gina awalnya memang berniat berburu kebaya di Beringharjo tetapi belum menemukan yang cocok, Ka Gina langsung tertarik untuk mampir dan akupun mengikutinya saja.
Setelah masuk ke dalam, suasananya estetik banget. Saat sedang melihat-lihat koleksi pakaian di sana, aku menemukan sebuah baju tradisional model terbaru yang desainnya sangat unik. Baju itu bukan kebaya, dan setelah aku cari tahu di Google, modelnya disebut baju beskap landung tetapi memiliki kolaborasi pola tekstur yang mirip kebaya. Pokoknya terlihat keren dan asoy banget! Pilihan warna baju tersebut ada biru muda, hitam, dan kuning krem gitu. Karena aku bosan dengan koleksi bajuku yang hampir semuanya berwarna hitam, aku memutuskan untuk mencoba warna biru dan kuning. Begitu dicoba, aku langsung mendapat afirmasi positif. "Ih, cocok banget!" kata Kak Gina dan mba penjaga tokonya. Aku juga sempat memotretnya untuk meminta pendapat mamiku lewat chat, dan mami bilang bajunya bagus. Ya sudah, tanpa pikir panjang langsung aku gas untuk dibungkus!
Sesudah belanja baju, kami melanjutkan langkah ke tujuan awal yaitu Bakpia Pathok 25. Kondisi di dalam toko bener-bener rame parah. Box bakpia yang baru saja selesai ditaruh ke atas raknya langsung diserbu pengunjung dan habis dalam sekejap. Selesai mengantri bakpia pathok, kami melihat ada toko yang menjual Bakpia Kukus Tugu Jogja tepat di seberang jalan. Pas banget, kami langsung menyeberang untuk membelinya, hingga total bawaan kami menjadi lumayan banyak. Saat itu langit sudah gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 6 sore lewat, jadi kami otomatis langsung bergerak mencari tempat makan malam sambil menenteng box-box bakpia tersebut, hahaha.
Kami akhirnya memutuskan pergi ke Teras Malioboro. Tadi kami sempat melewatinya dan mengira tempat itu adalah sebuah mall, tetapi ternyata Teras Malioboro adalah sebuah ruang publik yang konsepnya mirip food court Paskal 23 di Bandung dengan banyak stand makanan di dalamnya. Setelah berhasil mendapatkan tempat duduk, kami langsung mencari makan, yang merupakan bagian favoritku! Namun, karena kondisi badan sudah sangat lelah dan kehausan, kami mendahulukan membeli es jeruk dan es teh segar terlebih dahulu. Kak Gina sendiri bilang kalau dia belum mau memesan makanan; dia ingin melihat menu yang aku pesan dulu, dan kalau rasanya enak, baru dia akan ikutan memesan menu yang sama, hahaha. Saking banyaknya pilihan makanan di sana, aku sampai harus berkeliling sebanyak dua kali sebelum akhirnya tertarik pada satu lapak yang menjual magelangan. Magelangan ini mirip dengan nasi goreng biasa, hanya saja sumber karbohidratnya tidak cuma nasi melainkan ada campuran mi dan bihunnya juga. Setelah aku memesan, Kak Gina akhirnya ikut memesan tapi menu yang berbeda di kedai tersebut.
Setelah perut terisi kenyang kembali, kami berjalan menuju tempat penitipan loker untuk mengambil tas carrier kami yang tadi disimpan. Jarak dari Teras Malioboro ke tempat loker sekitar 1,2 km atau 17 menit berjalan kaki, dan karena jaraknya tergolong dekat, kami memilih untuk berjalan kaki saja. Sesampainya di loker dan mengambil tas, kami bersiap untuk langsung menuju ke stasiun. Meskipun jarak ke stasiun hanya tersisa 350 meter, kami tetap memutuskan untuk memesan GoCar karena kondisi badan sudah sangat lelah untuk membawa tas carrier yang berat, ditambah kaki juga sudah tidak kuat lagi dipakai berjalan.
Kami tiba di stasiun sekitar jam 8 malam. Karena memiliki spare waktu yang sangat panjang, sementara badanku sudah mulai mengeluarkan bau badan akibat keringat setelah berjalan-jalan di tengah cuaca panas, aku memutuskan untuk pergi ke toilet stasiun untuk ganti baju, cuci muka, sekaligus memakai skincare. Kak Gina pun melakukan hal yang sama. Mengingat barang bawaan kami banyak, kami memutuskan untuk bergantian menjaga tas. Kak Gina menjaga tas saat aku ke toilet, dan setelah urusanku beres, gantian aku yang menjaga tas sementara Kak Gina pergi untuk sholat dan membersihkan diri.
Setelah semuanya rapi, kami tinggal duduk santai menunggu kereta kami datang. Berhubung saat itu masih jam 9 malam dan jadwal kereta kami baru ada jam 22.45, aku memanfaatkan waktu luang tersebut untuk memberi kabar kepada keluarga dan teman, sekaligus membahas persiapan lombaku yang akan diadakan pada tanggal 23 Mei tepat dua hari setelah hari kepulangan ini. Di sisi lain, karena baterai hp Kak Gina habis, dia mencari stop kontak di sekitar tempat duduk kami untuk mengisi daya. setelah tunggu, tunggu, dan tunggu, akhirnya kereta kami pun datang cukup awal sekitar jam 22.30 atau setengah 11 malam. Kami segera masuk dan mencari kursi masing-masing. Kereta akhirnya bergerak tepat jam 22.45, dan setelah itu kami langsung tidur sepanjang perjalanan. Tidak lupa, kami juga mengirimkan pesan untuk memberi kabar kepada teman-teman yang masih melanjutkan kegiatan penjelajahan di Temanggung.
Secara keseluruhan, perjalanan di dalam kereta berlangsung selama 7 jam lebih atau hampir 8 jam. Kami tiba di Bandung kurang lebih jam 6 pagi. Sebelum berpisah, kami mencari tempat duduk terlebih dahulu di stasiun karena perut sudah terasa lapar dan kami ingin makanan, sekaligus memisahkan kue bolu kukus oleh-oleh kami yang kebetulan digabung di dalam satu box berukuran sedang. Setelah urusan box selesai, kami akhirnya berpisah di area pintu keluar stasiun begitu mobil Gocar jemputan Kak Gina sudah sampai. Aku sendiri melanjutkan perjalanan pulang ke rumah menggunakan taksi yang juga sudah tiba di lokasi penjemputan.
Selama berada di dalam taksi dalam perjalanan pulang, aku bener-bener merasa kangen sekali dengan suasana rumah dan kota Bandung ini. Dan akhirnya aku sampai di rumah dengan mamiku yang sudah menunggu di depan pintu deh. Petualanganku akhirnya resmi berakhir di sini. Terima kasih banyak Temanggung sudah menambah memori indah di otakku yang tidak akan pernah kulupakan. Yang pasti, aku akan balik lagi kesana suatu saat nanti, entah untuk urusan liburan, kegiatan KKN, atau dalam bentuk program kegiatan apa pun. Love you Temanggung <3