Hampir pukul 2 pagi, saya masih menyelusuri jalan yang sangat sepi, mengemudi perlahan-lahan. Sengaja tidak memutar lagu maupun musik. Saat ini saya sudah melewati kondisi lelah, baik fisik maupun mental. Hari yang sangat panjang bahkan saya sudah tidak peduli lagi bahwa saat ini sudah merupakan hari yang baru.
Segala bentuk pikiran berkecamuk dan sama sekali tidak tahu harus berbuat apa lagi, hanya menyerahkan diri pada semesta, berpasrah diri dan menunggu jika ada sesuatu yang semesta akan katakan. Yang saya lakukan hanya terus mengemudi dengan hati-hati karena di sekitar saya sangat gelap dan di daerah berpadang dan pertanian seperti ini, seringkali dimalam hari banyak binatang melintas seperti racoon atau bahkan kijang. Saya tidak mau mengalami kecelakaan karena menabrak atau tertabrak mereka.
Saya hanya bekerja setengah hari dan pukul 2 sudah meninggalkan rumah mengantar Nina ke rumah sakit untuk operasi. Dokter bedah menduga ada infeksi di lutut yang bulan Januari lalu dioperasi untuk total knee replacement. Dan malam hari sesudah operasi, dokter menelepon saya dan menyampaikan kabar yang jauh lebih buruk dari diagnosa awal. Nina harus menginap di rumah sakit setidak-tidaknya hingg Senin dan harus menjalani perawatan selama 6 minggu lalu berlanjut hingga 6 bulan.
Saya tinggal di rumah sakit hingga lewat pukul 10 malam dan langsung pergi ke rumah sahabat saya untuk menyelesaikan ayam yang harus saya potong-potong untuk membuat sate untuk pesta perkawinan salah satu sahabat kami yang lain. Nah karena tugas memotong ayam itu yang ternyata memakan waktu lumayan lama, hingga saya akhirnya baru bisa pulang menjelang pukul 2 pagi.
Hujan turun semalam suntuk, tidak besar hanya rintik-rintik. Saya terus mengemudi sambil membiarkan pikiran melayang kemana-mana. Rasa khawatir karena Nina pernah terkena sepsis beberapa bulan yang lalu. Saat ini ada infeksi yang parah di lututnya sehingga ada rasa khawatir yang sangat besar bahwa infeksi ini dapat kembali menyebabkan sepsis karena konon jika seseorang pernah terkena sespsis maka kemungkinan terulang menjadi jauh lebih besar.
Pikiran saya terus melayang. Sekilas teringat pada Kano yang semalam menemani saya menunggu Nina ketika sedang operasi dan mendengar dengan jelas ketika dokter menjelaskan kondisi yang saat ini sedang dihadapi. Kano terlihat sangat tenang walau saya tahu bahwa dia menyimpan banyak hal di dalam hatinya. Ada rasa marah yang sempat saya lihat ketika mengetahui kondisi yang dialami ibunya. Dia seolah-olah ingin menggugat dan merasakan ketidak adilan hidup yang harus dihadapi ibunya.
"That's how life is, No. A lot of time we have to face disappointment and we cannot always have what we want." Kata saya
Beberapa kali saya sempat mendengar suara dia agak tercekat, mungkin manahan emosi atau bahkan tangis karena merasa tidak rela ibunya harus mengalami banyak hal yang sangat tidak menyenangkan akhir-akhir ini. 3 kali operasi dan bahkan sempat semalaman di ICU karena sepsis yang hampir merengut nyawanya. Ini bukan pengalaman yang mudah dicerna, tidak hanya oleh Kano tapi juga saya dan terutama Nina yang mengalaminya.
Pikiran saya melompat lagi. Kali ini apa yang akan terjadi di masa-masa mendatang. Dokter telah menjelaskan kondisi yang sedang terjadi saat ini dan bagaimana nanti kondisi ini harus terus dijaga agar infeksi tidak terjadi lagi. Pikiran saya begitu intens karena saya mulai membayangkan apa yang akan mungkin terjadi ketika sudah kembali di tanah air. Tidak ada asuransi, sulitnya memperoleh pelayanan kesehatan dengan cepat seperti ketika Nina mengalami shock pada saat terkena sepsis. Waktu yang kurang dari 12 jam itu mungkin akan sulit dimanfaatkan dan kemungkinan sangat buruk bisa saja terjadi. Sejauh ini saya merasa bahwa kami beruntung masih berada di kota ini yang pelayanan kesehatannya menurut saya sangat baik, juga beruntung bahwa kami memiliki asuransi kesehatan yang memadai.
Bagaimana nanti jika kami sudah pindah? Saya hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak tahu apa yang nanti mungkin akan terjadi. "That will be tomorrow's problem. I cannot battle with that now yet because it doesn't exist!" Kata saya dalam hati. Pikiran itu langsung menjauh. Saya terus mengemudi dengan hati hati. Pantulan genangan air hujan di aspal sering kali menyilaukan sehingga saya kesulitan melihat marka yang ada di permukaan jalan. Dalam kegelapan semacam ini, saya harus lebih berhati-hati. Apalagi ketika tubuh sudah sangat lelah dan kondisi emosional sangat tidak baik.
Tiba di rumah. Yang ingin saya lakukan sebetulnya adalah langsung beristirahat. Saya memilih membersihkan diri terlebih dahulu lalu ke pembaringan dan berusaha beristirahat. Saya harus kembali segar besok sebab banyak hal yang harus saya lukan disamping menemani Nina dan juga menyelesaikan tugas membuat sate. Mata sulit dipejamkan karena segala sesuatu yang terjadi sepanjang hari ini. Saya tidak yakin besok saya akan bisa segar seperti sedia kala. Besok saya akan menjadi seperti zombie karena kurang istirahat.
Oh No... turut prihatin Joe. Turut mendoakan. Semoga segera teratasi ya. ππΌππΌππΌ