Hari Selasa, tidak banyak yang kami lakukan hari itu. Paginya, kami diskusi mengenai proyek riset kami selama di penjelajahan.
Setelah makan siang tempe mendoan dan tumis sawi, kami berkenalan dengan kakak-kakak dari UMN. Kami lanjut dengan Pak Kabul dan istrinya di rumahnya. Pak Kabul adalah salah satu pengrajin yang ada di pasar.
Ia menceritakan mengenai proses pembuatan hingga topi bambu yang asal muasalnya adalah permintaan khusus dari kakak-kakak UMN.
Lalu, jam 2 kami ikut mendengar evaluasi gelaran pasar kemarin di rumah Bu Ella. Ada beberapa masukan yang disampaikan oleh Mbak Wening, juga dari warga. Seperti harga pring yang naik, ada hewan peliharaan yang masuk ke pasar, dan pembayaran toilet.
Setelah makan malam dengan menu yang sama seperti siangnya, kami pergi ke rumah Pak Muh. Kami membantu mengamplas beberapa permainan tradisional yang akan dijual saat pasar.
Pak Muh juga menambahkan stok untuk pasar, karena itu long weekend dan sudah memasuki libur panjang.
Keesokan harinya, hari Rabu, aku bangun pagi dan setelah sarapan tempe goreng, duduk di pendopo. Aku mencari internet untuk mengedit video untuk sebuah acara.
Setelah buka kelas, kami riset kembali mengenai Pak Singgih dan Pasar Papringan, karena siangnya kami akan berkunjung ke sana.
Siangnya kami makan sayur bayam dan nugget. Kami naik mobil Mas Yudhi bersama dengan Kak Kael dan UMN.
Saat masuk ke dalam mobil, Mas Yudhi langsung menawarkan Ento Cothot yang dibelinya. Dia juga pernah membawakan kami saat berkunjung ke rumah. Ento Cothot adalah makanan tradisional khas Temanggung yang berbahan dasar singkong dan ada gula cair di dalamnya. 1000/10 rasanya.
Setelah kurang lebih 20 menit, kami sampai ke Spedagi dan berkenalan dengan Pak Singgih. Beliau terlihat senang atas kunjungan kami. Pak Singgih menjelaskan bagaimana proses pembuatan sepeda bambu dari awal hingga akhir.
Jenis bambu yang digunakan adalah bambu petung, karena ukurannya yang besar. Bambu yang diambil juga harus yang sudah tua.
Setelah cicuci dan dikeringkan, bambu akan di tumpuk dan di lem menjadi satu di mesin pres. Setelah itu, bambu yang sudah menyatu dimasukkan ke dalam oven. Setelah dari oven, baru bisa dibentuk sesuai keinginan.
Ini sangat menarik dan keren, karena bambu yang tadinya isinya kosong namun bisa terlihat seperti kayu. Kami akhirnya melihat beberapa rangka sepeda yang sudah jadi. Ada juga pring yang belum di sablon.
Pak Singgih juga sedang bereksperimen dengan membuat bambu yang bisa melengkung, tidak lurus seperti yang biasa dibuat. Ia juga menunjukkan salah satu karya dari bambu pertamanya, yaitu radio bambu.
Kami juga melihat sempel dari sepeda bambu lipat. Beratnya 12 KG, dan ini adalah sepeda yang paling keren yang pernah aku lihat. Bisa dilipat dengan sangat kecil, bentuknya unik, dan terbuat dari bambu.
Kami keluar, dan mengobrol sebentar dengan beliau. Beliau membahas bagaimana proses Spedagi, lalu mengenai bagaimana kondisi masyarakat sekarang yang fokus ke menkotakan desa - padahal harusnya dua-duanya berimbang.
Beliau juga membahas bahwa desa adalah masa depan dunia. Pak Singgih juga menceritakan bagaimana mula-mula pasar berdiri.
Setelah selesai mengobrol dan bertanya, kami diajak Mas Yudhi untuk mampir ke rumahnya. Kami berjalan dan melewati sebuah pasar modern. Katanya pasar ini tadinya sangat tradisional, tempatnya di bawah pohon beringin.
Kata Mas Yudhi, pasar ini adalah salah satu penggerak Pak Singgih dalam memulai Pasar Papringan.
Sesampainya di rumah Mas Yudhi, atau di sebut Omah Yudhi, terlihat rumahnya beda sekali dengan rumah di sampingnya. Penuh dengan tanaman, ada sawah sedikit, dan ada kolam.
Tempatnya lucu sekali, karena ternyata Mas Yudhi juga bergerak di bidang desain interior. Saat kami masuk rumahnya, rasanya seperti masuk ke cafe-cafe viral. Hiasannya unik, warna pink, dan tertata dengan begitu menyenangkan.
Kami juga masuk dan melihat rumah adiknya yang Mas Yudhi desain sendiri dalamnya. Karena rumah itu adalah rumah bekas, yang kita tidak dapat menebak isinya jika hanya melihat tampak depannya.
Kami balik ke Spedagi dan berpamitan dengan Pak Singgih, serta istrinya. Sore itu kami makan baso dan sate yang ada di depan rumah. Mas Yudhi juga ikut makan di rumah kami, malah sampai ikut evaluasi malam itu.
Dua hari ini menurutku adalah beberapa hari yang paling menyenangkan selama penjelajahan.
Kalau kata orang sini, 'krasan' - nyaman.